Cerita Mereka yang Belum Pernah Sekali Pun Pakai Bahkan Pegang Tabung Elpiji 3 Kg - Kompas.com

Cerita Mereka yang Belum Pernah Sekali Pun Pakai Bahkan Pegang Tabung Elpiji 3 Kg

Kontributor Batam, Hadi Maulana
Kompas.com - 06/12/2017, 10:02 WIB
Tumpukan gas 3 kilogram mulai banyak kembali di Tasikmalaya setelah sempat mengalami kelangkaan, Rabu (24/8/2016).KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHA Tumpukan gas 3 kilogram mulai banyak kembali di Tasikmalaya setelah sempat mengalami kelangkaan, Rabu (24/8/2016).

BATAM, KOMPAS.com - Warga pulau terluar yang berada di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau mengaku belum sekali pun menggunakan tabung gas 3 kilogram.

Fatimah (51),  warga Desa Klarik, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, mengatakan, dirinya tahu bahwa pemerintah sudah meluncurkan kebijakan konversi minyak tanah ke gas elpiji pada tahun 2007. Namun, tak sekalipun gas melon itu dilihatnya di daerahnya.

"Memegangnya saja belum pernah," kata Fatimah ketika ditemui, Selasa (5/12/2017).

Untuk memasak sehari-hari, Fatimah mengatakan, dirinya dan warga lainnya menggunakan minyak tanah yang dibeli seharga Rp 7.000 per liter.

"Ada juga gas, tapi ukuran 12 kg dan itu pun yang bisa menggunakannya bagi warga yang ada uang lebih, kalau seperti kami ini, paling mampu minyak tanah," katanya.

Hal senada juga diungkapkan Ahed, warga Ranai, Kabupaten Natuna. Dia juga mengaku tidak pernah menggunakan gas 3 kg.

"Sejak saya buka warung kopi saya menggunakan gas, tapi tabung 12 kg. Kalau tabung 3 kg sama sekali tidak pernah masuk ke Ranai," ungkapnya.

General Manager MOR I PT Pertamina (Persero), Erry Widiastono, membenarkan bahwa tidak ada suplai gas 3 kg ke Kabupaten Natuna. Hal ini, menurut dia, karena jarak distribusi yang terbilang jauh.

"Tapi dalam waktu dekat ini tabung gas 3 kg tersebut akan masuk di Natuna. Bahkan tidak tabung 3 kg saja, yang ukuran 5 kg juga bakalan masuk ke Kabupaten Natuna," kata Erry, Selasa.

Erry mengaku, hal ini menjadi fokus pihak Pertamina dalam program merealisasikan pengoperasian SPBU-N diwilayah terdepan, terluar dan tertinggal (3T).

"Jadi tidak saja premium dan solar satu harga, untuk tabung gas juga akan direalisasikan untuk pulau pulau terdepan, terluar dan tertinggal yang ada di indonesia," ungkapnya.

 

Suasana SPBU Satu Harga usai diresmikan Pertmina Didesa Sepempang Kecamatan Bunguran Timur Kabupaten Natuna Pulau Terluar. Tidak saja BBM satu harga yang diberikan pertamina, dalam waktu dekat tabung gas LPG 3 KG juga akan disalurkan di pulau terluar ini.
KOMPAS.COM/ HADI MAULANA Suasana SPBU Satu Harga usai diresmikan Pertmina Didesa Sepempang Kecamatan Bunguran Timur Kabupaten Natuna Pulau Terluar. Tidak saja BBM satu harga yang diberikan pertamina, dalam waktu dekat tabung gas LPG 3 KG juga akan disalurkan di pulau terluar ini.

Selain itu, Pertamina juga akan menyalurkan pertalite, pertamax turbo dan solar dixlite.

"Jadi produk Pertamina yang ada di kota-kota besar juga bisa dirasakan untuk masyarakat di pulau terluar, seperti Kabupaten Natuna, yang merupakan pulau perbatasan dengan negara asing," katanya.

Sementara itu, Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa berharap, masyarakat yang ada di pulau terluar ini segera bisa menggunakan produk BBM dan gas dengan harga yang sama dengan merka yang tinggal di kota besar.

"Ke depan, tidak ada lagi pulau terluar, terdepan dan tertinggal yang tidak merasakan produk produk Pertamina. Jangan hanya tahu minyak tanah, premium dan solar aja," tuturnya.

PenulisKontributor Batam, Hadi Maulana
EditorCaroline Damanik
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM