"Skill" Tenaga Kerja Masih Kurang, Ganjar Ingin Kurikulum SMK Diubah - Kompas.com

"Skill" Tenaga Kerja Masih Kurang, Ganjar Ingin Kurikulum SMK Diubah

Kompas.com - 22/11/2017, 18:17 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan akan menghormati dan menjamin hak-hak konstitusional penganut aliran kepercayaan di Jawa Tengah.Andi Kaprabowo/KOMPAS.COM Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan akan menghormati dan menjamin hak-hak konstitusional penganut aliran kepercayaan di Jawa Tengah.

SEMARANG, KOMPAS.com - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menginginkan adanya perubahan kurikulum di tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK). Orang nomor satu di Jawa Tengah ini merasa, skill atau keterampilan tenaga kerja lulusan SMK saat ini masih kurang.

Hal itu disampaikan Ganjar seusai menghadiri acara Kompetisi Keterampilan Instruktur Nasional VI tahun 2017 di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Semarang, Selasa (21/11/2017).

"Kompetisi ini sebenarnya sifatnya nasional, tetapi selalu ada keluhan bahwa tenaga kerja yang ada skill-nya masih kurang. Kompetensinya masih belum pas dengan kebutuhan. Ini harus ada solusi. Jika tidak, maka kita akan semakin ketinggalan," kata Ganjar.

Menurut dia, permasalahannya ada pada bagaimana proses memproduksi para tenaga kerja. Tidak hanya di Balai Latihan Kerja (BLK), langkah tersebut juga perlu menyentuh level sekolah.

"Kalau tenaga kerja saat ini tidak pas dengan kebutuhan, yang salah tidak hanya BLK, tetapi juga sekolah, dalam hal ini SMK yang selalu mencetak para tenaga kerja yang seharusnya profesional di bidangnya," ujarnya.

Untuk itu, pihaknya mengatakan harus ada perubahan kurikulum di dunia SMK. Ganjar menerangkan, selama ini masih banyak pelajaran di SMK yang bersifat teori.

"Saya sudah bicara dengan Dirjen Pendidikan agar ada evaluasi tentang kurikulum SMK. Dengan pengalaman selama ini, maka saya katakan kurikulum SMK harus direvisi," kata dia.

Tantangan pasar global

Skill dan kemampuan para tenaga kerja Indonesia, kata Ganjar, harus sesuai dengan kebutuhan pasar. Tidak hanya pasar nasional, dibukanya perdagangan bebas berarti keterampilan pekerja Indonesia juga harus sesuai dengan kebutuhan pasar internasional.

"Harus ada evaluasi. Kalau kita mau berkompetisi dengan tenaga kerja internasional, sudah siap belum ya? Kalau belum, maka harus melakukan terobosan. Salah satunya dengan perubahan kurikulum di sekolah," pungkasnya. (KONTRIBUTOR JAWA TENGAH/ANDI KAPRABOWO).

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorDimas Wahyu

Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM