Sandang Hiperaktif Impulsif, Tio Jalani Terapi Wayang - Kompas.com

Sandang Hiperaktif Impulsif, Tio Jalani Terapi Wayang

Kontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati
Kompas.com - 20/11/2017, 14:06 WIB
Tio saat bermain wayang di Festival Anak Kebutuhan Khusus di Pendopo Shaba Swagata Blambangan pada awal November 2017 laluKOMPAS.COM/Ira Rachmawati Tio saat bermain wayang di Festival Anak Kebutuhan Khusus di Pendopo Shaba Swagata Blambangan pada awal November 2017 lalu

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Aktivitas sehari-hari Marasetio Arya Tetuka, siswa kelas XI IPS 2 SMA I Banyuwangi, hampir sama dengan aktivitas remaja lainnya.

Selain bersekolah, lelaki yang akrab dipanggil Tio tersebut juga aktif di kegiatan ektrakurikuler. Namun tidak semua orang mengetahui bahwa Tio adalah anak penyandang kebutuhan khusus yaitu penyandang hiperaktif impulsif.

Sebagai terapi, sehari-hari Tio sering bermain wayang kulit di rumahnya.

Kepada Kompas.com, Hesti Agustina (50), ibu kandung Tio, bercerita bahwa sejak kecil perilaku anaknya berbeda dengan temannya. Gerakannya tidak terkontrol dan mudah marah jika dalam kondisi tertekan. Selain itu, Tio kecil juga mengalami keterlambatan bicara.

"Saat masih usia 3,5 tahun, Tio saya bawa ke rumah sakit dan dikasih obat lalu di arahkan ke psikolog umum. Saat itu pengetahuan tentang kebutuhan khusus tidak seterbuka sekarang," ungkapnya, Senin (20/11/2017).

(Baca juga: Wayang Beber, Jangan Sampai Lenyap...)

Dia juga mencari tahu tentang hiperaktif impulsif dan memilih keluar dari pekerjaan agar fokus mengurus Tio. Dia akhirnya mengetahui jika untuk menghilangkan kejenuhan dan melatih konsentrasi, Tio harus melakukan sesuatu yang disenanginya dan ternyata Tio sangat menyukai segala hal yang berkaitan dengan wayang kulit.

"Kebetulan bapaknya senang dengan wayang dan sering nyetel wayang di televisi. Tio ikutan lihat dan kemudian main wayang dari kardus yang dibuat sendiri. Kalau sudah nonton wayang, dia kuat semalam suntuk," katanya.

Kemudian Hesti membelikan wayang untuk anak laki-lakinya agar bisa dimainkan di rumah. Semakin lama jumlah wayang yang dimiliki Tio semakin banyak dan saat ini Tio sudah memiliki 95 koleksi wayang.

Sejak Tio kelas I SD, Hesti mengaku sudah menjelaskan keadaannya sebagai penyandang hiperaktif impulsif.

"Saya memang sejak awal menjelaskan agar Tio paham kondisinya sendiri. Saya juga tekankan komunikasi dua arah. Saya minta agar Tio terbuka, enggak usah malu mau cerita apa saja. Dan Alhamdulilah Tio tidak pernah ada masalah baik di sekolah maupun lingkungan sosial dan IQ nya memang diatas rata-rata rekan seusianya," tuturnya.

Hanya saja setiap akan masuk sekolah baru, Hesti akan menemui pihak sekolah untuk menjelaskan kondisi anaknya.

Sementara itu, Tio menyadari bahwa dirinya adalah penyandang hiperaktif impulsif. Namun selama ini dia tidak pernah merasa mendapat perlakuan yang berbeda.

"Semuanya baik-baik saja, termasuk di sekolah. Tidak ada masalah," kata laki-laki kelahiran Banyuwangi, 21 Maret 2000 tersebut.

(Baca juga: Terlalu Hiperaktif, Anak Ini Dipasung Selama 5 Tahun)

Saat ditanya tentang tokoh wayang yang dikagumi, Tio dengan semangat menjawab Gatotkaca. Bahkan dia mengetahui bahwa nama Tetuka yang menjadi nama belakangnya adalah nama Gatotkaca saat masih kecil.

Dia mengaku mengenal wayang sejak umur 1 tahun dari ayahnya. Dia kemudian belajar bermain wayang dari kaset dan juga YouTube. Dia juga mengaku dengan bermain wayang bisa membuat dia lebih konsentrasi. Dia juga sangat mengagumi dua dalang terkenal di Indonesia yaitu Ki Manteb Sudarsono dan Ki Anom Suroto.

"Jujur saya ingin tampil dan menjadi dayang profesional seperti mereka. Tapi sekarang masih tahap belajar," ungkapnya.

Untuk lakon wayang yang dia suka adalah Babad Wonomerto yaitu saat Bima atau Werkudoro membabat hutan.

"Saya suka Babad wonomerto karena senang ngoprol gunungan seperti ini," katanya sambil menggerakkan Gunungan dengan lincah.

Bukan hanya sekedar mengkoleksi 95 wayang, tapi dia juga memilik perangkat lain untuk wayang, termasuk juga gamelan walaupun jumlahnya tidak lengkap.

"Kalau liburan saya bisa main wayang seharian. Ada ruang khusus yang dibuat. Untuk koleksi kalau dulu dibelikan bapak dan ibu tapi sekarang harus nabung dulu baru bisa beli. Kan harus belajar mandiri," ucapnya sambil tertawa.

Kemampuan Tio bermain wayang pernah dibuktikan saat dia tampil pada saat Festival Anak Kebutuhan Khusus di Pendopo Shaba Swagata Blambangan beberapa waktu yang lalu.

"Saya bangga bisa tampil karena sebenarnya saya sama dengan teman-teman lainnya. Mungkin hanya caranya yang berbeda," pungkasnya.

Kompas TV Membuat wayang kulit berlapis emas, karya seniman asal Ponorogo, Jawa Timur, yang satu ini banyak diburu para kolektor dalam dan luar negeri.

PenulisKontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati
EditorCaroline Damanik
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM