Melihat Pembuatan Kain Tenun Lurik Tradisional Bantul - Kompas.com

Melihat Pembuatan Kain Tenun Lurik Tradisional Bantul

Kompas.com - 22/10/2017, 12:30 WIB
Tohirin (69) Sedang menenun Kain Tenun Kurik Di Rumahnya dusun Rogocolo, Kasihan, BantukKOMPAS.com/Markus Yuwono Tohirin (69) Sedang menenun Kain Tenun Kurik Di Rumahnya dusun Rogocolo, Kasihan, Bantuk

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Kain tenun lurik merupakan salah satu bagian sejarah bagi masyarakat Yogyakarta.

Sampai saat ini, kain tenun lurik dengan motif sederhana dan dibuat menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) masih banyak dijumpai di Yogyakarta.

Kain tenun lurik seperti ini juga dibuat oleh Tohirin (69), warga Dusun Rogocolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Tohirin memproduksi kain tenun lurik yang dibuat dengan alat tenun bukan mesin setiap hari. Saat bekerja, dia dibantu istrinya, Karminten, dan menantunya, Winda.

(Baca: Menghidupkan Kembali Tenun Purwakarta)

 

Dengan cekatan, tangan tua Tohirin mulai memintal, mewarnai benang, membuat motif, dan menenun. Keahliannya ini kerap kali menjadi rujukan bagi beberapa instansi untuk mengamati proses pembuatan kain tenun tradisional.

Saat ditemui Kompas.com pada Jumat (20/10/2017), terlihat di rumah Tohirin ada empat alat tenun manual yang tidak beroperasi. Alat tenun manuan tersebut terseimpan di sebuah ruangan berukuran 5x10 meter.

Empat mesin tersebut sudah sepekan tidak beroperasi sebab istri Tohirin dan sang menantu, Winda, harus mengurusi salah satu anaknya yang sakit.

"Saya dulu pernah membuat kursus tenun, pesertanya 30 orang. Tapi saya ajak untuk bantu menenun tidak mau karena sudah bekerja yang penghasilannya lebih besar," ucap Tohirin.

Kakek kelahiran 1948 ini menceritakan tentang awal dirinya menekuni kain tenun lurik dengan penuh semangat. 

Dia bercerita, awalnya, dia bekerja di sebuah pabrik tekstil di Yogyakarya sekitar tahun 1960-an. Saat itu dia sempat disekolahkan oleh perusahaan untuk memperdalam teknik tenun ke daerah Klaten, Jawa Tengah.

Sekitar tahun 1970-an, mesin tenun sudah mulai digunakan dan menggantikan ATBM. Pabrik tempatnya bekerja pun mulai menjual alat lawas itu dan menggantikannya dengan mesin.

"Awalnya saya membeli alat itu, setelah itu baru bisa membeli benangnya," tuturnya.

Dia pun memutuskan untuk pindah bekerja sebagai pegawai tata usaha sekolah dasar dan mengoperasionalkan ATBM sampai sekarang.

Meski berusia lanjut, Tohirin tak ingin menjual ATBM tersebut. Padahal, sempat ada tawaran untuk dibeli oleh sebuah museum.

Menurutnya beberapa bagian alat tenunnya seperti boom, karap, dan torak, masih bisa digunakan dengan baik sampai saat ini.

Tohirin khawatir jika menjual alat tersebut maka dirinya tidak memiliki kegiatan. "Kalau alatnya tidak ada saya mau bekerja apa," ucapnya.

Setiap kain yang dihasilkan Tohirin sepanjang 3 meter dibanderol dengan harga hanya Rp 90.000. Dalam sehari, mesin tenun Tohirin mampu digunakan untuk memproduksi paling banyak 8 meter kain.

Kendala yang dihadapi adalah proses pengeringan benang, karena akhir-akhir ini cuaca kurang baik. Dirinya meminta kepada pelanggannya untuk bersabar, karena waktu pengerjaan bisa mencapai dua bulan.

"Hanya mengandalkan sinar matahari (untuk pengeringan). Itu belum memintal dan membuat polanya karena prosesnya panjang," ujarnya dalam Bahasa Jawa.

Bagi Tohirin, membuat kain tenun lurik bukan sekadar pekerjaan yang menghidupi keluarganya, namun lebih pada sebuah upaya menjaga dan melestarikan karya warisan leluhur. 

Kompas TV Dengan cara ini, Ida Arleni berharap produk budaya khas Minangkabau inidapat dikenal dan digemari dunia internasional.


EditorAprillia Ika
Komentar

Close Ads X