Keluarga Mantan Narapidana Terorisme Senang Dapat Bantuan Mensos - Kompas.com

Keluarga Mantan Narapidana Terorisme Senang Dapat Bantuan Mensos

Kontributor Gresik, Hamzah Arfah
Kompas.com - 17/09/2017, 20:53 WIB
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (kiri) saat memberikan bantuan Program Keluarga Harapan kepada eks napiter dan kombatan di Lamongan, Jawa Timur, Minggu (17/9/2017).KOMPAS.com / Hamzah Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (kiri) saat memberikan bantuan Program Keluarga Harapan kepada eks napiter dan kombatan di Lamongan, Jawa Timur, Minggu (17/9/2017).

LAMONGAN, KOMPAS.com – Setelah beberapa waktu lalu menerima bantuan dari Kementerian Sosial dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), para mantan narapidana teroris (napiter) dan kombatan yang tergabung dalam Yayasan Lingkar Perdamaian kembali mendapat bantuan pada hari Minggu (17/9/2017) ini. Mereka mendapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial untuk 24 keluarga.

Rinciannya, 17 keluarga berasal dari Kabupaten Lamongan, dua dari Kabupaten Tuban, dua dari Kabupaten Bojonegoro, serta masing-masing satu dari Kabupaten Malang, dan Kabupaten Madiun.

“Secara pribadi dan atas nama Yayasan Lingkar Perdamaian, saya mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang dilakukan oleh Bu Mensos ( Khofifah Indar Parawansa) dan pemerintah dalam hal ini, yang ikut membantu para mantan napiter dan kombatan,” kata pimpinan Yayasan Lingkar Perdamaian Ali Fauzi, di Lamongan, Minggu (17/9/2017).

Yayasan Lingkar Perdamaian didirikan Ali Fauzi yang merupakan adik kandung Amrozi, terpidana mati kasus bom Bali 2002, pada 26 November 2016. Yayasan itu beranggotakan mantan napiter dan kombatan, di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Baca juga: Mensos Beri Bantuan kepada Mantan Napi Terorisme

Ia menyambut baik bantuan dan upaya yang dilakukan pemerintah sejauh ini dalam memfasilitasi para mantan napiter dan kombatan, yang sempat terkucilkan dan kesulitan pada saat ingin kembali bekerja guna menghidupi keluarga.

“Ke depan, saya pikir bisa terus dilakukan upaya-upaya yang sama, untuk merangkul mereka kembali ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata dia.

Uman Slamet (40) yang merupakan mantan kombatan mengatakan, bantuan yang diberikan Kementerian Sosial tersebut cukup bermanfaat. Ia mengaku sudah mempunyai rencana untuk menggunakan bantuan tersebut, yaitu beternak kambing dan sapi.

“Sekarang dengan dukungan pemerintah melalui BNPT dan Kementerian Sosial, perlahan kami diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat,” kata Uman.

Hal senada diungkapkan Aanal Umam (28) dan Nasyiah (47), yang tak lain adalah keluarga mantan napiter dan kombatan. Mereka berdua senang lantaran kini pemerintah lebih aktif dalam memperhatikan nasibnya.

“Dengan program ini, kini kami memiliki BPJS dan setiap tahun mendapat sumbangan uang, yang bisa meringankan biaya rumah tangga,” kata Nasyiah.

“Dan lebih penting lagi, tadi Bu Menteri juga menjanjikan kepada kami untuk mengikuti pelatihan sesuai skill dan keinginan, mengenai usaha apa yang akan ditekuni. Tentu ini cukup membantu kami, yang selama ini cukup kesulitan saat hendak melamar kerja di pabrik karena berasal dari keluarga mantan napiter dan kombatan,” kata Aanal.

PenulisKontributor Gresik, Hamzah Arfah
EditorEgidius Patnistik
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM