Dunia Wisata Harus Waspadai Paedofil - Kompas.com

Dunia Wisata Harus Waspadai Paedofil

Kontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
Kompas.com - 13/09/2017, 17:41 WIB
Pelatihan Pencegahan Kekerasan dan Eksploitasi anak untuk mengantisipasi Pelaku Paedofil KOMPAS.com/Markus Yuwono Pelatihan Pencegahan Kekerasan dan Eksploitasi anak untuk mengantisipasi Pelaku Paedofil

YOGYAKARTA,KOMPAS.com - Kawasan wisata di Indonesia, diingatkan untuk mewaspadai pelaku kekerasan seksual pada anak atau paedofilia yang semakin marak. Saat ini paedofilia pada anak sulit dideteksi karena ketidaktahuan mereka.

Ahmad Sofyan koordinator End Prostitution, Child Pornography and Trafficking Of Children For Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia, menyampaikan selama ini para pelaku wisata belum memahami bahaya paedofilia yang datang menyaru menjadi wisatawan.

Kebanyakan mereka berbaur dengan warga sekitar sebagai wisatawan, dan mendapatkan sambutan baik karena dianggap tamu dan mendatangkan rejeki.

"Dengan memanfaatkan situasi tersebut mereka (pelaku paedofilia) mendekati anak dan melakukan eksploitasi," katanya ditemui di sela Pelatihan Pencegahan kekerasan dan eksploitasi terhadap anak di wilayah destinasi wisata, di Pantai Kukup, Gunungkidul, Yogyakarta, Rabu (13/9/2017).

Baca juga: Paedofil Berusia 70 Tahun Asal Italia Divonis 5 Tahun Penjara

Menurut dia, tahun 2017 saja, pemerintah Indonesia menolak sekitar 300 visa wisatawan karena dari negaranya diindikasikan sebagai paedofilia.

"Pemerintah yang memiliki catatan bagus mengenai kasus paedofil memberitahukan kepada pemerintah indonesia, dan imigrasi menolak sebanyak 300 orang masuk. Itu yang diketahui, tetapi jika menggunakan teori gunung es bisa 30 kali lipat dari jumlah itu," tuturnya.

Menurut Ahmad, paedofilia yang merupakan gangguan seksual berupa nafsu seksual terhadap remaja atau anak-anak di bawah usia 14 tahun, masih kurang dipahami masyarakat. Sebab, selama ini pelaku tidak hanya melakukan hubungan seks ke anak, tetapi juga melakukan hal lain seperti membelai, hingga memfoto untuk disebar ke komunitasnya.

Yang perlu dikhawatirkan sebut dia,  ialah para predator juga mencuci otak anak-anak untuk menyimpang. Ahmad mengatakan, ketidaktahuan ini karena sebagian besar mereka melakukan pada sesama jenis, hanya 10 persen yang melakukan dengan anak perempuan.

"Dari laporan aktivis dan berbagai sumber kasus paedofil di Indonesia terus meningkat, tahun 1998 sekitar 40.000, meningkat menjadi 80.000 di tahun 2015," tuturnya.

Adapun kota yang paling banyak terjadi kasus paedofilia yakni di Bali, lombok, Yogyakarta, Semarang, Medan, Batam, Jakarta dan Bandung. "Indonesia timur mungkin ada, tetapi belum ada yang melaporkan," ucapnya.

Dia mengatakan, untuk meminimalisasi kasus paedofilia, pengawasan terhadap anak harus lebih ditingkatkan.

Sementara itu lanjut dia, para pelaku wisata juga harus memahami mengenai hal itu. Seperti pemilik hotel wajib menolak tamu yang membawa anak namun tidak memiliki hubungan kekeluargaan.

"Di hukum kita anak di bawah 13 tahun keterangannya belum bisa dijadikan alat bukti, seharus tidak bisa disamakan dengan kasus kekerasan pada orang dewasa," katanya.

Dia mengingatkan, jangan sampai kasus paedofilia merusak destinasi wisata, apalagi menyediakan protitusi anak. "Kami melaksanakan pelatihan agar pemangku kebijakan dan pelaku wisata mengetahui bagaimana mencari wisatawan yang bertanggung jawab dan tidak merusak anak," ujarnya.

Kompas TV Nafa Urbach Lapor Polisi Khawatir Anak Jadi Incaran Paedofil

PenulisKontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
EditorErlangga Djumena
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM