Kisah Nyoman Putra yang Tak Bisa Pulangkan Jenazah Istri dari Afrika - Kompas.com

Kisah Nyoman Putra yang Tak Bisa Pulangkan Jenazah Istri dari Afrika

Kontributor Bali, Robinson Gamar
Kompas.com - 13/09/2017, 12:49 WIB
 I Gusti Nyoman Putra (52)   dan putrinya Gusti Ayu Vera Noviantari (9)  saat ditemui di kediamaannya, Banjar Bentuyung, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali. Robinson Gamar I Gusti Nyoman Putra (52) dan putrinya Gusti Ayu Vera Noviantari (9) saat ditemui di kediamaannya, Banjar Bentuyung, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali.

UBUD, KOMPAS.com - Wajah I Gusti Nyoman Putra (52) tak bisa menyembunyikan kesedihan saat ditemui di kediamannya, di Banjar Bentuyung, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali. Ia tengah sedih karena kehilangan istrinya Ni Wayan Sriani (38).

Sriani menghembuskan napas terakhirnya di Kota Abuja, Nigeria, Afrika. Ia merupakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja sebagai spa therapist sejak 2013.

"Kami dapat kabar, dia meninggal karena jatuh di kamar mandi," kata Putra, Rabu (13/9/2017).

Menurut Putra, insiden yang menimpa istrinya diketahui melalui postingan Facebook salah seorang rekan kerjanya di Afrika pada 1 September lalu. Sriani dilarikan ke rumah sakit setempat, namun nyawanya tidak tertolong dan meninggal pada Rabu (6/9/2017).

(Baca juga: Kisah Bajindul, TKI di Korsel yang Sukses Jadi Vlogger Ndeso)

"Kami hanya lihat di Facebook foto-fotonya. Waktu tanggal 6 ditelepon dari sana juga kalau dia sudah meninggal," ujar Putra.

Kesedihan Putra bertambah karena dirinya kesulitan memulangkan jenasah sang istri ke Tanah Air karena kendala biaya. Untuk memulangkan jenazah Sriani, dibutuhkan biaya hingga Rp 120 juta.

Sementara Putra sehari-hari hanya bekerja sebagai sopir di salah satu hotel di wilayah Ubud. Besarnya biaya Pemulangan ini membuat Nyoman Putra dan keluarga besarnya pasrah. Mereka menyerahkan sepenuhnya pada pihak KBRI. Apakah dikremasi atau dikuburkan di Afrika.

"Mau pulangkan tidak bisa karena biaya sangat mahal," tutur Putra.

Jika dikremasi, abu yang dikirim ke Bali juga membutuhkan biaya tidak sedikit. Karena itu opsi dikuburkan di Afrika akan jadi pilihan terakhir.

"Kalau kremasi katanya mahal juga sampai Rp 60 juta, kalau dikuburkan di sana pihak KBRI katanya bisa membantu," ucapnya.

(Baca juga: Tahun 2017 ini Sudah 45 TKI Asal NTT yang Meninggal di Malaysia)

 

Selain masalah biaya, pemulangan Sriani terhambat statusnya sebagai tenaga kerja ilegal. Pasalnya saat meninggal, masa berlaku visa Sriani sudah habis.

Putra menceritakan, Sriani pertama kali ke Afrika pada 2013 melalu agen penyalur tenaga kerja. Di tahun 2015, Sriani sempat pulang untuk memperpanjang visa dan mengurus dokumen lain, kemudian berangkat kembali.

Tapi dalam perjalanan, agen penyalur yang mengirim Sriani ternyata bermasalah dan ditutup pemerintah. Hal ini menyebabkan keluarga kebingungan bagaimana meminta pertanggung jawaban agen penyalur.

"Memang ada yang mau bantu tapi katanya urusannya nanti rumit karena statusnya ilegal," tutupnya.

Kompas TV Pengungsi Eks Tim-Tim Masih Hidup dalam Kemiskinan

PenulisKontributor Bali, Robinson Gamar
EditorReni Susanti
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM