Demi Sekolah, Anak-anak di Perbatasan Ini Harus Jalan Kaki Belasan Km - Kompas.com

Demi Sekolah, Anak-anak di Perbatasan Ini Harus Jalan Kaki Belasan Km

Kontributor Nunukan, Sukoco
Kompas.com - 07/09/2017, 08:03 WIB
Sejumlah siswa SD 001 Sebatik dari Kamlung Sugai batang yang berjalan 7 kilometer untuk menuju sekolah mereka. Kampung mereka yang terisolir membuat puluhan siswa dari Kampung Sungai Batang hanya memiliki akses jalan  melalui pantai menuju sekolah. KOMPAS.com/SUKOCO Sejumlah siswa SD 001 Sebatik dari Kamlung Sugai batang yang berjalan 7 kilometer untuk menuju sekolah mereka. Kampung mereka yang terisolir membuat puluhan siswa dari Kampung Sungai Batang hanya memiliki akses jalan melalui pantai menuju sekolah.

NUNUKAN,KOMPAS.com – Pagi hari baru menunjukkan pukul 06:00 Wita ketika suara tawa riang puluhan anak–anak Sekolah Dasar 001 Desa Tanjung Karang Kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara berangkat sekolah dengan berjalan menyusuri sepanjang Pantai Batu Lamamapu hingga Pantai Kayu Angin.

Pagi ini mereka bisa sedikit tertawa riang karena laut tidak sedang pasang, sehingga perjalanan menuju ke sekolah mereka bisa lebih cepat.

Berjalan kaki belasan kilometer sudah menjadi kebiasaan anak-anak Kampung Sungai Batang saat bersekolah.  “Bangunnya jam 5, biasanya mandi kalau sempat ya sarapan. Jam setengah enam atau jam enam sudah berangkat,” ujar Anik(9) siswa kelas 3 SD 001 Sebatik dengan logat Malaysianya Rabu (6/9/2117).

SD 001 Sebatik berjarak sekitar 7 kilometer dari kampung Sungai Batang. Sehingga anak-anak tersebut harus berjalan sekitar 14 kilometer pulang pergi setiap mereka sekolah.

Baca juga: Kandang Budak, Tempat Penitipan Anak Buruh Sawit di Perbatasan

Untuk mencapai sekolah tersebut, puluhan siswa dari Kampung Sungai Batang menyusuri pantai, satu satunya akses terdekat menuju sekolah. Itupun jika air laut sedang surut. Jika air laut sedang pasang, terpaksa mereka memilih jalan setapak yang melintasi berberapa bukit.

Selain akses jalan yang buruk, jarak tempuh yang harus mereka lalui jug semakin bertambah jauh. Sehingga jika hujan turun atau air laut sedang pasang, sebagian anak-anak pun enggan bersekolah. Namun jika beruntung, para siswa ini bisa menumpang ketinting milik orang tua mereka yang berangkat melaut meskipun hal itu jarang jarang mereka temui.

Awi, siswa kelas 4 SD 001 Sebatik ini mengaku terpaksa menempuh perjalanan hingga lebih dari 8 kilometer ke sekolah. ”Lewat jalan setapak, baru sampai jalan besar terus ke sekolah. Lebih jauh, kalau hujan lebih susah jalannya. Lebih dekat kalau lewat pantai,” ujarnya.

Meski telah bangun sejak subuh untuk bersiap berangat sekolah, namun lebih dari 20 siswa SD 001 dari Sungai Batang ini biasanya akan sampai di sekolah sekitar pukul 08:00 Wita. Itupun jika kondisi laut sedang surut.

Chaerudin salah satu guru yang juga wali kelas 5 di SD 001 Sebatik ini mengetahui betul kondisi anak-anak tersebut. Dia mengaku pihak sekolah pun memahami kondisi siswa yang harus berjalan hingga belasan kilometer tersebut.

”Kalau mereka sampai di sekolah, ya sudah masuk. Tapi pihak sekolah memahami kalau rumah mereka ini jauh dan harus jalan kaki,” katanya.

Sejumlah siswa SD 001 Sebatik dari Kamlung Sugai batang yang berjalan 7 kilometer untuk menuju sekolah mereka. Kampung mereka yang terisolir membuat puluhan siswa dari Kampung Sungai Batang hanya memiliki akses jalan  melalui pantai menuju sekolah. KOMPAS.com/SUKOCO Sejumlah siswa SD 001 Sebatik dari Kamlung Sugai batang yang berjalan 7 kilometer untuk menuju sekolah mereka. Kampung mereka yang terisolir membuat puluhan siswa dari Kampung Sungai Batang hanya memiliki akses jalan melalui pantai menuju sekolah.
Jalan kaki dengan menyusuri sepanjang pantai wilayah Sebatik yang menghadap ke laut Sulawesi sepanjang 7 kilometer bukannya tanpa bahaya yang mengancam. Nursida siswi kelas 6 SD ini mengaku sering mendapati ular selama dalam perjalanan. Terkadang mereka juga bertemu dengan biawak atau anjing liar.

“Dari kampung Sungai Batang ada 21 anak. Kami masing masing berjalan berombongan. Masih ada lagi yang dibelakang, anak-anak laki laki biasanya agak belakang,” ucapnya.

Uang saku 1 ringgit

Penduduk di Kampung Sungai Batang Desa Tanjung Karang Sebatik mayoritas bekerja sebagai nelayan pancing. Kampung yang terletak di pinggir pantai tersebut membuat akses yang paling mudah untuk melaut adalah jalur sungai. Para nelayan dari Kampung Sungai Batang juga lebih mudah menjual hasil melaut mereka ke Malaysia.

Pulang dari Tawau, Malaysia, biasanya mereka membawa kebutuhan pokok sehari hari mereka seperti sembako dan kebutuhan lainnya.

Akses ke Kampung Sungai Batang memang lebih mudah dijangkau dari laut dibandingkan melalui darat. Karena belum adanya infrastruktur jalan dari Desa Tanjung Karang membuat Kampung Sungai Batang terisolasi di Kecamatan Sebatik.  Jalan menuju kampung masih berupa jalan setapak yang melintasi beberapa bukit sehingga sulit dilalui kendaraan, bahkan untuk sepeda motor pun.

Baca juga: Puluhan Desa di Wilayah Perbatasan Kabupaten Nunukan Terancam Hilang

Tak heran kampung tersebut lebih "berbau" Malaysia ketimbang Indonesia.  Warga kampung bisa melihat siaran stasiun televisi atau mendengar siaran radio dari Malaysia dengan mudah dibandingkan siaran dari Indonesia.

Sementara sebagian anak-anak Sungai Batang sangat kental logat Melayu Malaysianya. Bahkan uang saku anak-anak pun diberikan dalam bentuk ringgit.

Seperti yang dialami Fatimah. Siswi kelas 2 SD mengaku setiap hari diberi uang saku 1 ringgit atau setara dengan Rp 3.000 oleh orangtuanya untuk jajan di sekolah.

Anak yang bercita-cita menjadi dokter ini mengaku uang tersebut cukup untuk membeli pisang goreng sebagai  "bahan bakar" pulang ke rumah. Menurut dia, perjalanan pulang lebih berat ketimbang pergi sekolah. Pasalnya dia harus berjalan kaki jarak 7 km di tenah terik matahari siang dengan kondisi perut keroncongan.

“Beli macam pisang goreng lah, dapat tiga. Tak enak kalau beli bombon (permen),” katanya.

Kondisi itu tidak membuat anak-anak Sungai Batang patah semangat untuk menuntut ilmu.

Indomar siswa kelas 4 ini mengaku tetap akan melanjutkan sekolah ke SMP di Kecamatan Sebatik jika sudah lulus dari SD 001. Indomar yang ingin menjadi pilot ini mengaku perjalanan 14 km bukan beban bagi mereka karena sudah 4 tahun dia jalani bersama puluhan anak lainnya.

“Enggak capai, kami sudah biasa. Pulang sampai dirumah pukul 2 siang. Kadang haus juga kalau uang satu ringgit sudah habis buat belanja di sekolah,” katanya.

Kompas TV Potret Kehidupan di Tapal Batas Indonesia-Papua Nugini

PenulisKontributor Nunukan, Sukoco
EditorErlangga Djumena
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM