Jual Orangutan "Online", Seorang Pelaku Ditangkap Petugas - Kompas.com

Jual Orangutan "Online", Seorang Pelaku Ditangkap Petugas

Kontributor Pontianak, Yohanes Kurnia Irawan
Kompas.com - 22/08/2017, 11:43 WIB
Salah satu Orangutan yang diamankan petugas saat berada di Mako SPORC, Pontianak, Kalimantan Barat (22/8/2017).KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN Salah satu Orangutan yang diamankan petugas saat berada di Mako SPORC, Pontianak, Kalimantan Barat (22/8/2017).

PONTIANAK, KOMPAS.com - Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Bekantan menggerebek sebuah rumah tempat penyimpanan dua orangutan di Jalan Komyos Sudarso Gang Timun, Kelurahan Sungai Jawi Luar, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (21/8/2017).

Dua orangutan tersebut masing-masing berjenis kelamin jantan dengan usia sekitar satu tahun dan betina dengan usia sekitar delapan bulan.

Kepala Seksi Balai Gakkum KLHK Kalimantan Seksi Wilayah III Pontianak, David Muhammad mengungkapkan, operasi tangkap tangan tersebut berawal ketika Tim SPORC mendapat laporan dari masyarakat terkait sebuah rumah yang menjadi tempat menyimpan satwa langka.

"Setelah dilakukan penyelidikan terlebih dahulu sekitar pukul 08.30 WIB, tim melakukan penggerebekan disaat pelaku berinisial TAR (19) sedang berada di rumah," ujar David, Selasa (22/8/2017).

(Baca juga: Anak Orangutan Ditemukan dalam Kondisi Lemah di Kebun Warga)

 

David menambahkan, petugas kemudian menggeledah garasi rumah TAR dan memukan dua individu orangutan dalam keranjang packing dan kandang yang siap jual kepada pemesan (pembeli).

Tersangka, sambung David, sudah lama jual beli satwa langka yang dilindungi baik secara online maupun transaksi Iangsung.

"Beberapa satwa langka didapat dari pemasok di daerah untuk selanjutnya dijual kembali melalui 16 akun (media sosial) dengan memajang foto satwa beserta tarif harganya dan via chatting melalui Instragram dan WhatsApp untuk tawar menawar harga satwa," ujarnya.

Terkait dua orangutan yang disita petugas, kedua satwa tersebut diperoleh dari wilayah Kabupaten Sintang. Satwa tersebut dipesan pelaku dari pemburu lokal untuk kemudian dijual kembali.

Satwa tersebut diduga diperoleh dengan cara membunuh sang induk. Karena pada usia tersebut, Orangutan masih menempel dengan induknya.

"Pelaku mengaku akan menjual dua individu otangutan tersebut dengan harga Rp 3 juta per individunya," papar David.

(Baca juga: Hutan untuk Orangutan Sekolah Dirusak Perambah)

Selain menjual orangutan, pelaku juga mengaku pernah menjual satwa langka lainnya seperti elang dan owa. Satwa tersebut kebanyakan dijual keluar pulau Kalimantan dan keluar negeri.

"Saat ini penyidik SPORC masih terus mendalami sindikat penjualan satwa langka Orangutan untuk mengungkap keterlibatan pihak lainnya yang merupakan bagian dari sindikat internasional penjualan satwa langka Orangutan di Kalimantan Barat," ujar David.

"Saya harap dengan kejadian ini, para pelaku segera menghentikan aktivitas jual beli perdagangan satwa dilindungi, karena kami tidak akan tinggal diam," tambahnya.

Perdagangan satwa langka Orangutan ini merupakan kasus kedua yang pernah ditangani SPORC. Semua satwa yang disita akan direhabilitasi di International Animal Rescue (IAR) Ketapang.

Sementara itu, Staf Humas Media IAR Ketapang, Heribertus Suciadi mengatakan, awalnya kondisi kedua orangutan tersebut dalam keadaan sehat. Namun salah satu orangutan ada yang stres.

"Salah satu orangutan ada yang stress, dia ada kelainan dengan memeluk dirinya sendiri yang mengindikasikan jika mengalami stres," ujar Heribertus.

Tim dokter dari IAR juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap kedua orangutan tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan, satwa tersebut mengalami dehidrasi ringan dan sudah ditangani dengan pemberian cairan dan oralit.

"Ini tadi pagi kondisinya sudah bagus dan sudah mau makan buah-buahan yang kita berikan," tuturnya.

Saat ini pelaku sudah ditahan di rutan Kelas IIA Pontianak. Tersangka dijerat dengan Pasal 21 Ayat (2) huruf a jo pasal 40 ayat (2) UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Kumber Daya Alam dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

Kompas TV Nonja, orangutan yang tinggal di Kebun Binatang Wina ini tampak serius memainkan spinner yang dikaitkan dengan batang kayu.

 

PenulisKontributor Pontianak, Yohanes Kurnia Irawan
EditorReni Susanti

Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM