Perjuangan Fara Lawan Kanker Kelenjar Getah Bening dengan Peluang Sembuh 30 Persen - Kompas.com

Perjuangan Fara Lawan Kanker Kelenjar Getah Bening dengan Peluang Sembuh 30 Persen

Kontributor Gresik, Hamzah Arfah
Kompas.com - 12/06/2017, 15:27 WIB
Hamzah Kondisi terkini Fara usai melakukan kemoterapi untuk kali pertama.

GRESIK, KOMPAS.com – Penyakit kanker tidak memandang usia, bisa menyerang siapa saja, tidak peduli masih muda ataupun sudah tua. Salah satunya adalah

Nimas Ayuza Farakisma atau yang akrab disapa Fara (26) menderita kanker kelenjar getah bening stadium akhir.

Fara mengaku tidak tahu pasti dirinya mulai terserang penyakit ganas ini. Awalnya, dia hanya mulai merasakan sakit yang tidak tertahan itu sejak dua tahun silam. Dia lalu memeriksakan diri ke dokter hingga kemudian didiagnosa menderita kanker kelenjar getah bening.

“Saat pertama kali periksa ke dokter, saya langsung divonis mengidap kanker kelenjar getah bening. Itu dua tahun lalu, di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Dan sekarang, katanya persentase kesembuhan hanya 30 persen. Saya pun hanya bisa pasrah, meski juga terus berikhtiar,” ujar Fara, Senin (12/6/2017).

Perempuan kelahiran Banyuwangi itu sempat menikah dan dikaruniai seorang putri berusia lima tahun di Malang. Namun perjalanan rumah tangganya tidak berjalan mulus hingga kini dia hidup sebatang kara di Gresik.

“Orangtua sebenarnya masih ada, namun sudah bercerai. Ayah menikah lagi di Tulungagung, sementara ibu kandung juga menikah lagi dan sekarang menjadi TKW di Taiwan. Sementara anak, ikut mertua. Jadi saya betul-betul sendiri di sini,” tuturnya.

Awalnya, Fara nekat berkunjung meski tidak memiliki sanak saudara di Gresik lantaran dirinya ingin mencari pengobatan buat penyakit yang dialaminya. Namun bukannya pengobatan medis, melainkan pengobatan alternatif.

“Memang saya yang salah di sini, karena terlalu percaya dengan pengobatan alternatif. Habis saya capek juga, karena sudah lama berobat secara medis tapi belum juga diberikan kesembuhan. Makanya saya coba pergi ke alternatif, mulai dari Jakarta, Semarang, Surabaya, Mojokerto, saya datangi semua. Dan kemarin ke Gresik ini,” ucap dia.

“Uang juga sudah mulai habis untuk biaya pengobatan, sehingga kemarin sempat binggung juga saat menjalani pengobatan alternatif di sini. Untung kemarin bertemu dengan teman-teman di Omah Dhuafa yang akhirnya mau merawat dan mendampingi saya dalam menjalani pengobatan,” tutur Fara.

(Baca jugaL Perjuangan Gomos Manalu, Anak Penjual Roti yang Pernah Diundang NASA)

Tidak sekadar berobat secara rutin, namun Fara juga diajak untuk melakukan kemoterapi di Rumah Sakit Semen Gresik.

Selain itu, Fara juga diberikan tempat peristirahatan layak dengan diinapkan di salah satu tempat kos yang ada di Jalan Panglima Sudirman, Gresik, yang semuanya diberikan secara gratis.

“Saya juga sangat bersyukur, bisa bertemu mereka karena usai kemoterapi kemarin, kondisi fisik sempat drop dan harus opname beberapa kali setelahnya. Tapi untung saja mereka dengan sabar merawat saya dan terus mendampingi hingga kini, saat tidak ada orang lain yang mau peduli akan nasib saya,” pungkasnya.

Kini kondisi Fara sedikit lebih baik dari sebelumnya, meski rambutnya tampak rontok, dan berat badannya menurun drastis dari yang semula 53 kilogram kini menjadi 35 kilogram saja. Yang tak kalah mengenaskan adalah, bagian dada Fara yang harus tetap ditutup dengan kain akibat bekas operasi.

 

Kompas TV Siswa Penderita Kanker Tulang Ikut UN

PenulisKontributor Gresik, Hamzah Arfah
EditorCaroline Damanik
Komentar

Close Ads X