Begini Ketatnya Seleksi Siswa untuk Riset Tempe di Antariksa Bersama NASA - Kompas.com

Begini Ketatnya Seleksi Siswa untuk Riset Tempe di Antariksa Bersama NASA

Kontributor Pematangsiantar, Tigor Munthe
Kompas.com - 08/06/2017, 14:04 WIB
handout/Eka Trisno Eka Trisno Samosir dan salah seorang siswanya saat berada di NASA Amerika Serikat pada akhir Januari 2017 lalu.

TOBASA, KOMPAS.com - Tak mudah untuk bisa bergabung menjadi peneliti yang kemudian menghasilkan paket penelitian ilmiah fermentasi tempe yang dilakukan 8 siswa SMA Unggul Del dan 2 mahasiswa Institute Teknologi Del Laguboti, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara.

Salah satu mentor para siswa dan mahasiswa Del Laguboti tersebut, Eka Trisno Samosir, saat dihubungi, Kamis (8/6/2017) siang, menuturkan, untuk melakukan penelitian perkembangan fermentasi tempe yang merupakan program lanjutan tahun sebelumnya, pihaknya melakukan proses seleksi ketat.

Seleksi diawali dengan pengumuman pendaftaran kepada para siswa dan mahasiswa pada Agustus-September 2016.

Kebutuhan peneliti disesuaikan untuk program penelitian, seperti dari latar belakang listrik dan eksperimen. Kemudian dari para siswa dan mahasiswa yang mendaftar dilakukan proses verifikasi minat dan kemampuan.

Eka mengatakan, setiap siswa kandidat peneliti harus mengajukan paper atau makalah. Obyeknya tidak terpaku pada penelitian yang akan mereka lakukan. Setelah itu, paper harus dipresentasikan masing-masing kandidat di hadapan para mentor.

Selaini itu, ada persyaratan nilai akademik. Siswa kandidat peneliti harus masuk daftar top students di kelas masing-masing. Kandidat juga diseleksi terkait kemampuan bahasa Inggris.

"Karena itu dilakukan dalam bentuk interview, jadi lebih fokus pada kemampuan speaking. How relevant their answers to each question, how fast their response, and the way to explain their ideas," ungkap Eka.

Mereka, lanjutnya, juga harus membuat motivation letter yang berisi alasan yang jelas dan tujuan yang diharapkan untuk terlibat dalam penelitian tersebut serta menjelaskan posisi yang diharapkan dalam tim dan pengalaman yang pernah dijalani terkait posisi tersebut.

Setelah dilakukan seleksi yang cukup ketat, Eka dan mentor lainnya, Ary Raharja kemudian memutuskan 10 orang, di antaranya 8 orang siswa SMA Unggul dan 2 mahasiswa Insititue Teknologi Del.

handout/Eka Trisno Eka Trisno Samosir dan salah seorang siswanya saat berada di NASA Amerika Serikat pada akhir Januari 2017 lalu.
Mereka antara lain, Theodora Mega Putri Lumban Gaol dan Putry Yosefa Siboro dari Institute Teknologi Del, kemudian Afner Sirait, Arico Liberty Setiawan Sembiring, Oliver Danofan Nainggolan, Rejoel Mangasa Siagian, Matthew Addrian Silalahi, Ronaldo Simatupang, Ruth Johana Hutagalung dan Stanley Martin Siagian, masing-masing dari SMA Unggul Del.

(Baca juga: Dibawa Roket Misi NASA, Tempe Penelitian Siswa Indonesia Tiba di Antariksa)

Ke-10 orang ini ditetapkan sebagai peneliti obyek fermentasi tempe pada Oktober 2016 dan sejak itu langsung bekerja. Lalu pada Januari 2017 paket penelitian mereka hasilkan.

"Akhir Januari 2017 hasil penelitian itu kita bawa ke sekolah yang bekerja sama dengan NASA yakni Valley Christian High School, Quest Institute, San Jose, California, sebelum kemudian diterbangkan dengan roket NASA pada Minggu subuh baru lalu," tutur Eka.

Ada empat orang yang berangkat ke sekolah mitra NASA tersebut antara lain Eka Trisno Samosir dan Ary Raharja sebagai mentor dan Afner Sirait mewakili mahasiswa dan Putry Yosefa Siboro mewakili siswa.

Mereka selama sepekan di NASA melakukan proses penelitian kembali hasil paket eksperimen ilmiah yang dibawa dari Indonesia.

Semacam uji coba penerbangan dilakukan sebelum kemudian benar-benar diluncurkan Sabtu (3/6/1017) sore pukul 17. 07 waktu Florida, Amerika Serikat, atau Minggu (4 /6/2017) pukul 4.07 WIB oleh roket booster Falcon-9 dari landas luncur (launch pad) nomor 39-A di Pusat Antariksa Kennedy.

Landas luncur ini sangat bersejarah karena dari titik ini hampir 50 tahun yang lalu manusia pertama berangkat meluncur dari bumi menuju bulan dalam misi Apollo 11 pada tahun 1969.

Peluncuran misi ini adalah kontrak ke-11 misi Commercial Resuply (CRS) dari NASA yang dilaksanakan oleh kontraktor perusahaan swasta SpaceX yang didirikan oleh Elon Musk, pendiri dan pemilik PayPal.

SpaceX CRS-11 membawa hampir 3 ton muatan (payload) untuk diantar ke International Space Station (Stasiun Antariksa Internasional/ISS). Di antara payload ini lah satu perangkat eksperimen ilmiah putra terbaik Del di dengan judul eksperimen "The Fermentation of Soybeans in Microgravity Experiment" (Fermentasi Kedelai Dalam Kondisi Mikrogravitasi).

ISS mengorbit pada ketinggian sekitar 400 km di atas Bumi dengan kecepatan orbit sekitar 7 km/detik. Jadi, ISS mengitari Bumi sekali setiap 93 menit.  SpaceX CRS-11 akan bertemu dan berlabuh (docking) dengan ISS pada hari Senin malam WIB, 36 jam sesudah diluncurkan. 

Eka menyebutkan, hasil penelitian itu akan diketahui sekitar 1,5 bulan ke depan. Diperkirakan paket akan mengorbit bumi 30 hari dan selebihnya paket itu dikirimkan kembali ke Indonesia persisnya ke Laguboti, Kabupaten Tobasa.

Pesan Eka kepada generasi muda sekarang berkaca pada semangat anak-anak Del melakukan penelitian agar tetap semangat dan tak pernah berhenti mencoba untuk berhasil.

"Curiosity and keep trying. Setiap pelajar harus menemukan pola belajar masing-masing, namun kuncinya utamanya adalah rasa penasaran dan tidak pernah berhenti mencoba. Itu yang bisa saya sarankan, Pak," tukas Eka.

Mentor yang tak mau menyebutkan usianya itu kemudian membeberkan resep Del melakukan pola ajar di sekolah unggulan itu dengan menyeimbangkan terori dan praktik.

"Kami berusaha untuk memberikan pengetahuan yang seimbang antara teori dan praktikal, Pak. Jadi mahasiswa tidak hanya belajar mengenai konsep, tetapi mampu juga menerapkan apa yang mereka pahami di kelas secara real," tandasnya.

 

Kompas TV Dua siswa yang berhasil menemukan bioantiseptik dari kulit kacang tanah, bernama Muhamad Nur Alim dan Biriski Arfianto. Mereka menemukan ada senyawa dari kulit kcang tanah yang terbukti bisa menjadi antiseptik untuk membersihkan badan dari bakteri dan kuman. Penemuan mereka berhasil setelah melalui dua kali uji coba ilmiah, memanfaatkan limbang kulit kacang tanah yang mudah dijumpai di sekitar tempat tinggal mereka. Hasil penelitian dua siswa ini membuktikan kulit kacang tanah bisa mengurangi pertumbuhan bakteri ecoli dan aureus penyebab diare, sehingga bisa digunakan dalam pembuatan sabun ataupun antiseptik atau anti-kuman. Bukti lain keberhasilan penelitian dua siswa ini adalah medapatkan medali perunggu di olimpiade penelitian ilmiah Indonesia pada Februari lalu dan direkomendasikan mengikuti olimpiade proyek kelestarian lingkungan hidup yang digelar di Belanda, September mendatang.

PenulisKontributor Pematangsiantar, Tigor Munthe
EditorCaroline Damanik
Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM