Berkebaya Hitam Motif Bunga, Mbah Ponco Sutiyem Jadi Tamu Khusus - Kompas.com

Berkebaya Hitam Motif Bunga, Mbah Ponco Sutiyem Jadi Tamu Khusus

Kontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
Kompas.com - 24/05/2017, 11:49 WIB
KOMPAS.com/Markus Yuwono Mbah Ponco Sutiyem (95), pemeran Sri dalam film Ziarah, duduk di antara pejabat Pemkab Gunungkidul, dalam perayaan Hari Jadi ke-186 Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, di Alun-alun Pemkab Gunungkidul, Rabu (2/5/2017).

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Ada yang berbeda dalam perayaan Hari Jadi ke-186 Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, di Alun-alun Pemkab Gunungkidul, Rabu (2/5/2017).

Salah satu tamu undangan yang hadir adalah Ponco Sutiyem (95), warga Dusun Batsari, Desa Kampung, Kecamatan Ngawen.

Pemeran 'Sri' dalam film Ziarah dan juga Nominator Best Actress dalam ASEAN International Film Festival dan Awards (AIFFA) 2017 ini tampak duduk di sebelah kiri panggung kehormatan.

Mengenakan jilbab hitam bermotif dan setelan kebaya hitam bermotif bunga, Mbah Ponco duduk paling depan di antara para camat dan kepala desa se-Kabupaten Gunungkidul.

"Tadi berangkat dari rumah jam 7 bersama Pak Kades dan Bu Lik (tante)," kata salah satu cucu Mbah Ponco, Risdiyanto, di sela upacara Rabu (24/5/2017).

(Baca juga: Kisah Mbah Ponco Sutiyem, Nenek 95 Tahun yang Jadi Nomine Aktris Terbaik Film ASEAN)

Mbah Ponco tampak antusias menyaksikan Tari Tayub sebelum dimulai acara.

Sementara itu, Kabag Protokol Pemkab Gunungkidul, Agus Kamtono, mengatakan, Mbah Ponco diundang khusus oleh Bupati Gunungkidul Badingah untuk mengikuti perayaan hari jadi di Alun-alun Pemkab Gunungkidul.

"Beliau (Mbah Ponco) diundang khusus Ibu (Bupati Badingah)," katanya.

Alasan undangan khusus ini karena Mbah Ponco ikut serta dalam promosi Kabupaten Gunungkidul yang tengah gencar dalam meningkatkan kunjungan wisata.

"Mbah Ponco ikut mempromosikan tidak hanya tentang wisata, tetapi di sini layak digunakan untuk pengambilan gambar film," ujarnya.

Hari Jadi kabupaten Gunungkidul sebenarnya jatuh pada 27 Mei mendatang. Namun karena bersamaan dengan bulan puasa, panitia mengajukan perayaan pada tanggal 24 Mei.

 

Kompas TV Pemberdayaan masyarakat pedesaan bisa dilakukan melalui beragam cara. Di gunung kidul yogyakarta, warga desa ngeposari memanfaatkan eceng gondok, menjadi karya bernilai ekonomis. Hasilnya, karya ini kini sudah menjadi salah satu komoditas ekspor andalan. Eceng gondok, selama ini dikenal sebagai gulma atau pengganggu tanaman air, yang hidup di atas rawa atau danau. Namun di tangan warga desa negeposari semanu gunungkidul, gulma ini disulap menjadi berbagai macam barang berguna, sekaligus diminati masyarakat.

 

PenulisKontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
EditorCaroline Damanik
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM