Kisah Sri yang Rela Menyerahkan Hatinya untuk Sang Anak - Kompas.com

Kisah Sri yang Rela Menyerahkan Hatinya untuk Sang Anak

Kontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
Kompas.com - 17/05/2017, 14:43 WIB
KOMPAS.com/Markus Yuwono Sri Daryani sedang menggendong Luqman (4) yang menderita kelainan hati.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Nasib malang dialami Luqman Nurhidayat (4), anak pasangan Tumiyo (43) dan Sri Daryani (35) warga Dusun Ngalihan, Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta.

Tak seperti anak seusianya yang bebas bermain dan berlari kesana kemari, Luqman hanya terbaring sambil memainkan beberapa mainannya. Luqman pun menghabiskan waktu di dalam gendongan ibunya disaat teman sebayanya sekolah di PAUD. 

Hal ini lantaran Luqman menderita penyakit kelainan hati atau sirosis hepatis atau penyakit liver kronis. Akibatnya, sklera di matanya tak berwarna putih melainkan kuning dan perutnya membuncit. 

Untuk duduk, ia hanya bisa tahan maksimal 10 menit, sisanya harus tidur dalam posisi miring. Karena penyakitnya itu pulalah, kemampuan berbicara Luqman belum lancar, masih terbata-bata. 

(baca juga:  Setiap Batuk, Tulangnya Patah, Bocah Ini Mengaku Ingin Mati Saja)

Saat ditemui di rumahnya, Luqman baru saja ikut ibunya ke rumah neneknya untuk mengikuti ‘nyadran’ atau mengirim doa bagi leluhur yang sudah meninggal. Begitu sampai di rumahnya yang sederhana, ia pun meminta sang ibu membuatkan susu karena mengantuk. 

“Perkembangan anak saya tidak seperti anak lainnya, kemungkinan karena penyakit hati bawaan sejak lahir,” ujar Sri sambil mengelus kuping anaknya, Rabu (17/5/2017).

Selain memiliki kelainan hati, saat dilahirkan 18 Januari 2013 silam, Luqman menderita kelainan jantung. Namun di usia dua tahun, kondisi jantungnya membaik. Kini, ia fokus untuk penyembuhan hati Luqman.

“Awalnya untuk kontrol 2 minggu sekali, sekarang sudah sebulan sekali di (RSUP dr) Sardjito. Selain itu setiap Senin dan Kamis harus disuntik vitamin,” ucap Sri. 

Untuk menjaga kesehatannya, Luqman harus mengkonsumsi susu khusus dengan harga Rp 280.000 perkalengnya. Susu tersebut habis dalam tiga hari.

(Baca juga: Akhir Perjuangan Fidelis Merawat Sang Istri dengan Ganja (Bagian 1)

Kondisi ini cukup memberatkan bagi sang ayah, Tumiyo, yang bekerja sebagai buruh bangunan dengan hasil tak seberapa. Sementara Sri, tak bisa bekerja karena harus menjaga anak ketiganya ini.

“Untuk beli susu ya mengandalkan donatur, atau saat kontrol di Sardjito sering dikasih satu atau dua kaleng,” tuturnya.

Sri menceritakan, biaya untuk operasi pencangkokan hati anaknya mencapai Rp 1,5 miliar. Namun ia belum mendapat kepastian dari dokter kapan operasi akan dilaksanakan.

“Beberapa waktu lalu hati saya dan Luqman sudah dioperasi untuk mencocokkan, dan ternyata bisa sebagai pengganti hatinya,” ungkap Sri.

Namun ia kebingungan dengan biaya operasi. Sangat sulit baginya untuk biaya operasi sebesar itu, walaupun ia ditanggung BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Apalagi ia harus memikirkan pendidikan anaknya. 

“Untuk biaya belum tahu, apakah akan patungan atau ada biaya lain pasrah saja. Yang penting dia bisa sembuh,” ucapnya seraya berharap ada donatur yang mau membantu meringankan beban, paling tidak untuk biaya operasi. 

Kompas TV Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) meminta pemerintah melakukan legalisasi daun ganja untuk pengobatan

PenulisKontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
EditorReni Susanti
Komentar

Close Ads X