Ribuan Warga Menghadiri Penutupan Jogja International Air Show - Kompas.com

Ribuan Warga Menghadiri Penutupan Jogja International Air Show

Kontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
Kompas.com - 30/04/2017, 13:01 WIB
Kontributor Yogyakarta, Markus Yuwono Warga menyaksikan JAT di Pantai Depok, Bantul.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Ribuan kendaraan memadati arah menuju Pantai Depok, Kretek, Bantul, saat puncak pagelaran Jogja International Air Show (JIAS) 2017, Minggu (30/4/2017).

Dari pantauan di jalan Pantai Depok, kendaraan sudah mengular sejak dari Jalan Parangtritis, sejauh kurang lebih 3 km. Kendaraan roda empat hanya bisa berjalan pelan dan berhenti.

Baca juga: Syukur Herin, Nonton Atraksi Pesawat Sekaligus Mendulang Rupiah di Jogja Air Show N

Salah seorang wisatawan asal kota Yogyakarta, Aris mengaku sengaja datang ke Pantai Depok, untuk menyaksikan gelaran JIAS.

"Berangkat dari rumah pagi tadi jam 9, baru bisa masuk Pantai Depok sekitar pukul 11.00 WIB," katanya ditemui di Pantai Depok, Minggu (30/4/2017).

Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Suprityanta menyampaikan, sebenarnya pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan kepolisian. Salah satunya dengan opsi mengalihkan arus kendaraan menuju Kawasan Wisata Pantai Parangtritis.

Kendaraan datang dari arah Kota Yogyakarta. Sesampainya di Sempalan Pundong, kendaraan pribadi dialihkan lewat Jalur Pundong. Sementara kendaraan besar seperti bus bisa langsung menuju ke selatan.

"Memang antusias masyarakat luar biasa," katanya.

Selain itu, di pintu tempat pemungutan retribusi (TPR), pihaknya menambah petugas. Total ada 30 petugas disiapkan, 20 petugas menjaga pintu masuk TPR, dan 10 petugas menjaga bagian dalam TPR.

Baca juga: 1.000 Pesawat Layang Chuck Glider Meriahkan Pembukaan JAS 2017

Sementara, dari landasan pacu pantai Depok, sejumlah helikopter milik TNI AU, pesawat kecil, paramotor, dan sejumlah peralatan dirgantara dipamerkan. Sejumlah warga mengabadikan dengan berswafoto.

"Jarang-jarang ada pesawat di sini, mumpung ada sekalian momong," kata Slamet, warga Bantul.

PenulisKontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
EditorFarid Assifa
Komentar