Brandzview

Sebetulnya, Siapa Inspirasi Utama Pembangunan Purwakarta?

Kompas.com - 06/04/2017, 13:04 WIB

PURWAKARTA, KOMPAS.com – Tiap kali, jika diberi pertanyaan tentang hal yang paling sering membuat Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menangis, jawabannya adalah sang ibu, Karsiti. Di mata Dedi, ibu adalah sosok manusia sempurna paling dia sayangi sampai kapanpun.

"Ibu perempuan sempurna, lebih cerdas dari siapapun. (Dia) tidak bisa baca, tak bisa menulis. Sekolahnya hanya sampai kelas 1 SD. Tapi, dia bisa me-manage sembilan anaknya jadi sarjana dan sukses,” ujar Dedi kepada Kompas.com pekan lalu.

Untuk menjadikan sembilan anaknya sukses, Karsiti tidak pernah jajan. Dia jujur dan pandai dalam mengelola sumber keuangan. Padahal, ia bekerja seorang diri untuk menghidupi keluarga.

Dedi berkisah, sejak sang ayah pensiun dini dari TNI AD akibat racun yang diberikan Belanda di matanya, ibunyalah yang mengambil tanggung jawab ekonomi keluarga.

"(Ibu) suka nyangkul, belah kayu, tenaganya kuat dan pekerja keras. Dia perempuan sempurna, prinsip hidupnya sangat kuat," tuturnya.

Dedi mengaku belum puas membahagiakan sang ibu. Sang ibu meninggal pada 2000, yaitu saat dirinya menjabat Wakil Bupati Purwakarta.

"Tapi ibu tidak mengenali saya selama lima tahun. Daya ingatnya menurun," ucapnya.

Karenanya, jika bertemu sang ibu, Dedi kerap mengajak ibu bercerita saat kebersamaannya dulu.

"Dia ceritakan dulu itu pernah bareng mi (ibu), nemu ular, lalu dia nangis. Ibu saya meninggal karena sakit dan seumur hidupnya belum pernah dirawat di rumah sakit," ujarnya sambil meneteskan air mata.

Setiap langkah yang dilakukan sang ibu sangat membekas di hati Dedi. Dia mengaku belajar banyak dan menjadikan sang ibu sebagai konsep dasar yang menginspirasinya dalam membangun Purwakarta.

Di mata Dedi, Karsiti adalah sosok manusia sempurna paling dia sayangi sampai kapanpun.Dok Humas Pemkab Purwakarta Di mata Dedi, Karsiti adalah sosok manusia sempurna paling dia sayangi sampai kapanpun.
Indung tunggul karahayuan

Konsep ibu sangat terasa sejak kaki melangkah di Purwakarta. Begitu keluar tol Jatiluhur, masyarakat bisa melihat gapura bertuliskan ‘Gapura Indung Rahayu’ yang menggambarkan kemuliaan seorang ibu.

"Di setiap perbatasan Purwakarta saya membuat gapura bertuliskan Gapura Indung Rahayu. Begitu juga ketika masuk Pemkab Purwakarta akan ada tulisan Indung Tunggul Karahayuan," tuturnya.

Indung, sambung Dedi, berarti ibu. Tunggul adalah pohon paling pertama tumbuh yang terbentuk dari biji. Tunggul ini memiliki kekuatan luar biasa dalam sebuah pohon. Karakter tunggul tidak bergerak, tidak ikut irama angin. Karena tidak bergerak, posisinya tafakur, istiqamah.

Hal tersebut masuk dalam prinsip bertuhannya orang Sunda yang dikenal ‘papat kalimah pancer’. Adapun rahayu berarti kekuatan.

"Jadi, kemuliaan hidup ada pada seorang ibu yang mengabdikan seluruh kehidupannya pada anaknya. Saya membangun Purwakarta ini terinspirasi dari ibu," ucap Dedi.

Kebijakan lain yang terinspirasi dari ibunya adalah program ibu asuh, siswa wajib beternak domba dan hewan peliharaan lainnya. Lalu, mereka menanam berbagai tanaman, membangun taman, pengembangan kuliner, museum ibu, hingga pendidikan vokasional.

"Pendidikan vokasional ini mewajibkan siswa di Purwakarta membantu pekerjaan orangtuanya. Agar anak memahami seberapa berat pekerjaannya untuk menyekolahkan dan membesarkan anaknya hingga sukses," imbuhnya.

Konsep lainnya yang terinspirasi dari ibu adalah pengelolaan keuangan Pemkab Purwakarta. Bahkan, cara Dedi mengelola keuangannya diacungi jempol oleh Kementerian Keuangan.

Selain sengaja datang ke Purwakarta untuk mempelajari bentuk pengelolaan keuangan keluarga, Dedi beberapa kali diundang Kemenkeu untuk membagikan rahasianya dalam mengelola APBD yang kecil dengan hasil pembangunan maksimal di daerahnya.

RENI SUSANTI/KONTRIBUTOR PURWAKARTA

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com