“Apa Mungkin Petani Jual Asongan di Dalam Pesawat?” - Kompas.com

“Apa Mungkin Petani Jual Asongan di Dalam Pesawat?”

Kontributor Cirebon KompasTV, Muhamad Syahri Romdhon
Kompas.com - 20/03/2017, 19:29 WIB
Kompas.com / Muhamad Syahri Romdhon Seorang petani Desa Sukamulya Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka menjawab sejumlah pertanyaan mahasiswa di halaman Kampus IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Senin (20/3/2017). Mereka menggalang solideritas dukungan untuk menolak rencana penggusuran imbas pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Petani tidak menolak pembangunan, namun menolak penggusuran desa mereka.

CIREBON, KOMPAS.com – Upaya para petani Desa Sukamulya, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, menolak rencana penggusuran proyek Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati terus disuarakan.

Mereka menggalang solidaritas dengan kalangan mahasiswa dan sejumlah akademisi kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon, Senin (20/3/2017).

Para petani bersama sejumlah mahasiswa yang melakukan pendampingan di Desa Sukamulya menggelar diskusi dan pemutaran film secara swadaya. Mereka membentangkan tarub berbahan terpal dan juga karpet sederhana di halaman kampus.

Baca juga: Pertengahan Tahun Depan Bandara Kertajati Ditargetkan Beroperasi

Kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh muda Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA), santri pondok pesantren, dan masyarakat umum lainnya.

Setelah pemutaran film dokumenter, Heri Kalangi, seorang petani Sukamulya yang sudah cukup lanjut usia maju ke depan forum.

Dia menyampaikan bahwa petani yang hadir di kampus sebagian kecil dari keseluruhan petani yang berjuang di desa. Para petani akan tetap mempertahankan tanah leluhurnya agar tidak digusur oleh pemerintah untuk BJIB Kertajati.

“Kami (para petani) sudah makmur dan sejahtera. Kalau digusur mesti kemana. Apa mungkin petani jual asongan di dalam pesawat,” katanya menjawab sejumlah pertanyaan dari mahasiswa.

Pria yang akrab disapa Abah mengaku menolak penggusuran.

Syifa, mahasiswa IAIN Cirebon menyebut, film dokumenter tersebut merupakan hasil karya teman-teman dan warga sekitar. Ini merupakan upaya untuk memastikan kepada publik bahwa perjuangan para petani Sukamulya menolak penggusuran sangat berat. Mereka harus berjuang sendiri, melawan kepentingan negara, hingga intrik perpecahan yang terjadi di keluarga masing-masing.

“Pemutaran film dokumenter ini untuk mengajak khalayak melihat masalah-masalah agraria, penggusuran yang terjadi di mana-mana antara lain Kulonprogo, Kendeng, termasuk Sukamulya. Masalah Sukamulya ini bukan masalah Sukamulya saja, tapi nasional dan terjadi di mana-mana,” tegas Shifa.

Bambang Nurdiyansah, petani Sukamulya mengungkapkan, dia serta sejumlah petani lainnya tak hentinya mendapat teror untuk melepas tanah dan sawahnya untuk BJIB Kertajati. Apalagi pasca-bentrok 17 November 2016 lalu, teror kian meningkat.

Kejadian yang hingga menurunkan ribuan personel aparat keamanan negara, menurut Bambang, merupakan titik terendah moral negara. Bambang menegaskan, para petani tidak menolak pembangunan bandara. Mereka hanya tidak ingin Desa Sukamulya digusur. Bagi para petani, kata Bambang, Desa Sukamulya menjadi satu-satunya sumber kehidupan bagi mereka, dari nenek moyang hingga anak cucu berikutnya.

“Apakah pemerintah tidak memiliki cara lain yang lebih manusiawi untuk memecahkan masalah ini? Dari bentrokan kemarin, hingga perpecahan di keluarga. Ada yang suami istri cerai, hubungan anak tidak baik dengan orangtua, hanya karena ada yang ingin digusur dan ada yang bertahan,” jelas Bambang.

Baca juga: Ambil Alih Bandara Kertajati, Pusat Gelontorkan Rp 2,1 Triliun

Pria yang menjadi sekjen Front Perjuangan Rakyat Sukamulya tetap menunggu itikad baik dari BIJB Kertajati maupun pemerintah untuk mencari solusi dari masalah ini. Mereka tetap menolak penggusuran. Mereka tetap ingin bertani.

Sejak tahun 2004 hingga 2017, pemerintah baru pertama kali menemui warga Desa Sukamulya pada Januari lalu. Namun pertemuan tersebut tidak membuahkan hasil. Warga tidak tahu harus berbuat apa, dan pemerintah tidak menyediakan rumah dan lahan untuk kembali hidup seperti di Sukamulya.

“Pokoknya, dari awal, kami tidak menolak pembangunan, pembangunan BIJB silakan dilaksanakan. Tapi tolong, jangan gusur permukiman dan lahan pertanian kami,” tegas dia.

Dalam catatan yang diberikan mahasiswa dan petani, pembanggunan BIJB membutuhkan lahan seluas sekitar 5.000 hektar (1.800 hektar untuk bandara, 3.200 hektar untuk aerocity). Desa Sukamulya adalah satu dari sebelas desa yang terancam digusur karena proyek tersebut dengan luas 740 hektar yang dihuni sekitar 1.400 kartu keluarga.

Usai acara menonton film dokumenter, seluruh mahasiswi membubuhkan tanda tangan mereka sebagai bukti dukungan terhadap petani Sukamulya. Mereka juga berusaha mengelilingi kampus dan meminta sejumlah tanda tangan mahasiswa lainnya untuk menggalang solidaritas dan menyuarakan dukungan.

PenulisKontributor Cirebon KompasTV, Muhamad Syahri Romdhon
EditorFarid Assifa
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM