Impian Penambang Emas Manado - Kompas.com

Impian Penambang Emas Manado

Karim Raslan
Kompas.com - 02/03/2017, 18:21 WIB
Dok Karim Raslan Fernando lahir dari keluarga petani kacang tanah dan jagung.

FERNANDO Pantow, seorang pemuda Kristiani dari Minahasa, baru saja berumur empat belas tahun ketika pertama kali bekerja sebagai penambang emas ilegal. Bahkan saat ini pun setelah delapan tahun berlalu, masih kuat dalam ingatan Fernando saat dia berdoa hendak turun ke lokasi penambangan untuk pertama kalinya hanya dengan menggunakan tali.

“Keadaannya gelap dan lembab. Setelah turun sampai dua belas meter, barulah kaki saya menginjak tanah lagi. Lalu saya berjalan kira-kira lima belas meter sampai mencapai lubang turunan kedua," kata Fernando.

Ia melanjutkan, "Saya harus mengulanginya lagi hingga dua kali sebelum mencapai permukaan batu—hampir 100 meter di bawah permukaan tanah. Di kedalaman itu tubuh saya berkeringat dan saya terengah-engah berusaha menghirup udara melalui selang yang terhubung dengan tabung oksigen rakitan.”

Putus sekolah gara-gara sakit tifus, Fernando lantas melewati waktunya selama enam tahun bekerja di banyak pertambangan emas ilegal yang lokasinya berseberangan dengan kampungnya di Sulawesi Utara dan berdekatan dengan Gorontalo.

Mendulang emas di lokasi yang jauh dari kampungnya di Kanonang, Fernando bekerja untuk membantu orangtuanya, petani yang tak memiliki lahan, yang berjuang hidup di perbukitan yang selalu basah karena hujan, sekitar dua jam perjalanan ke arah barat laut dari ibukota provinsi yang selalu sibuk, Manado, yang saat ini dijuluki sebagai Bali kedua.

Sebuah pemandangan, dengan perkebunan bambu, sawah, dan kebun buah yang tumbuh subur dan hijau. Namun, kenyataannya untuk mendapatkan kehidupan yang layak amatlah sulit dan masalah yang ada pun begitu kompleks, terutama untuk mereka yang tak memiliki lahan pertanian sendiri, seperti diceritakan Fernando.

Dok Karim Raslan Monumen Yesus Memberkati setinggi 50m yang merupakan ikon kota Manado dan menjadi cerminan kuat pengaruh agama Kristen di kota tersebut.
“Untuk menanam satu hektar kacang tanah, itu berarti kami harus sewa lahan dulu, punya modal untuk membeli benih, pupuk, dan membayar tenaga kerja. Untuk satu hektar tomat butuh modal hingga Rp 40 juta. Kalau harga jatuh sebelum panen, sudah pasti Anda akan merugi!” kata Fernando.

“Itulah mengapa banyak orang menjadi penambang ilegal. Saya akan mendapat uang meskipun berulang kali saya berpikir, saya akan mati. Maka saya selalu berdoa, menyerahkan hidup saya kepada Tuhan,” ucapnya.

Fernando bercerita bagaimana ketika dia pertama kali bekerja dengan tubuh menggigil. “Saya belum sembuh benar dari tifus waktu paman saya datang dan mengajak untuk bergabung dengannya, bekerja di pertambangan. Saya bilang ya, lalu ikut dengannya. Di pekerjaan pertama, kami ditipu sama bos, tapi setelah itu, saya mulai mendapatkan uang yang jumlahnya lumayan, paling sedikit Rp 1,5 juta per bulan,” katanya.

“Kami bekerja secara tim. Kami setia dengan teman kami, tapi tidak dengan bos kami. Kami saling menjaga satu sama lain karena hidup kami saling bergantung: ‘Torang Samua Ba’sudara’ (Kita semua bersaudara).”

“Kami tak cuma menggali emas. Kami juga memecah dan memproses bijihnya, lalu mencampurnya dengan air dan merkuri. Jika ada emasnya maka ia akan memadat dan kami harus membersihkan merkurinya dengan tangan dan kain kasa,” lanjut Fernando.

Ketika saya bertanya apakah itu tidak berbahaya, dia menjelaskan, kalau dia hanya menyentuhnya. “Saya tidak pernah meminumnya!” katanya.

Dok Karim Raslan Manado adalah pusat dari ekowisata dan menjadi gerbang ke banyak tempat wisata lain seperti Bunaken dan Tomohon.
Dengan pekerjaan yang begitu melelahkan dan berisiko, memang akhirnya itu terbayarkan. “Saya bisa membeli sepeda motor pertama saya seharga Rp 16 juta, tunai,” Fernando mengucapkannya dengan bangga.

Namun pertambangan bukanlah pekerjaan yang benar-benar nyaman. Bukan cuma soal sering terjadinya kecelakaan ketika bekerja, pada 2015 di kawasan pertambangan Gorontalo seringkali pekerja tambang diserang sekelompok preman.

“Saat itulah saya merasa sudah cukup bekerja di penambangan emas. Saya putuskan untuk diam di rumah dan menjadi pemandu wisata saja untuk membantu orangtua. Sekarang Mama saya sudah memiliki rumah sendiri dan kami pun beternak babi. Ketika mereka sudah besar, kami bisa menjualnya di harga Rp 7-8 juta per ekor,” katanya.

Masa depan kehidupan Fernando sebagai pemandu wisata juga membaik. Investasi pada sektor infrastruktur telah membuka wilayah timur Indonesia, dan itu mendukung gaya hidup yang kini sedang tren, yakni “wisata petualangan” yang telah menjadi imajinasi populer.

Bahkan orang-orang Jakarta pun sudah mulai menjelajahi wisata di luar Singapura dan Bali, dengan mengunjungi Pulau Sumba, Wakatobi, dan Seram dengan jumlah kunjungan yang cukup besar.

Jumlah wisatawan mancanegara di Manado terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2016, Sulawesi Utara menerima kedatangan 40.624 turis mancanegara.

Bandingkan dengan 2015 dan 2014, saat itu jumlah turis yang datang hanya sebanyak 19.465 dan 17.279 wisatawan. Pada 2016, sekitar 30.000 turis asal China telah berkunjung ke Manado.

Jumlah ini diharapkan meningkat lagi menjadi 150.000 tahun ini mengikuti penambahan jadwal penerbangan ke daratan tersebut. Menikah dan bekerja paruh waktu sebagai pemandu wisata di objek wisata Bukit Kasih, Fernando pun mengenali perubahan tren.

Dok Karim Raslan Manado disebut-sebut sebagai Bali kedua karena memiliki banyak pemandangan alam seperti Gunung Lokon.
“Tak banyak pekerjaan di daerah pegunungan. Anda harus berpendidikan SMA untuk mendapat pekerjaan yang layak. Itu sebabnya saya berharap pemerintah meluncurkan lagi program Paket C (program ‘kembali ke sekolah’ untuk membantu orang-orang yang putus SMA). Saya yakin pariwisata menawarkan masa depan yang lebih baik. Lihat saja Bali sekarang,” kata Fernando.

Namun ambisi Fernando tak terbatas hanya di pulaunya, mengikuti tradisi merantau orang Minahasa, “Banyak orang Minahasa berkeliling negeri ini untuk bekerja. Mereka banyak bekerja di Papua, khususnya di pertambangan Freeport, dan juga di Sorong. Saya ingin ke Raja Ampat dan belajar bagaimana menjadi pemandu untuk semua objek wisata air.”

Pembangunan infrastruktur dan perkembangan pariwisata walau bagaimanapun, menghadirkan tantangannya sendiri. Keaslian budaya semakin menjadi kunci kesuksesan pariwisata.

Ke depannya, pemuda Minahasa seperti Fernando perlu mempertahankan keunikan dari budaya mereka jika Manado ingin menjadi destinasi yang terus, dan terus berlanjut.

EditorAmir Sodikin

Komentar

Close Ads X