Air Sungai Martapura Berubah Warna, Ribuan Ekor Ikan Mati - Kompas.com

Air Sungai Martapura Berubah Warna, Ribuan Ekor Ikan Mati

Jumarto Yulianus
Kompas.com - 15/09/2016, 07:18 WIB
Jumarto Yulianus Yudi (34), pembudidaya ikan di Kelurahan Benua Anyar, Banjarmasin Timur, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan menyerok ikan nila yang mati di dalam keramba jaring apung miliknya, Rabu (14/9). Seminggu terakhir, terjadi kematian massal ikan nila karena perubahan warna dan kadar keasaman air Sungai Martapura.

BANJARMASIN, KOMPAS.com – Ribuan ikan yang dibudidayakan dalam keramba jaring apung di Sungai Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan mati dalam seminggu terakhir. Kematian massal ikan yang dipicu perubahan warna dan kadar keasaman air sungai tersebut mengakibatkan para pembudidaya merugi.

Abdullah (59), pembudidaya ikan di Kelurahan Benua Anyar, Banjarmasin Timur saat ditemui di lokasi kerambanya, Rabu (14/9) sore, mengemukakan, sekitar 2.000 dari 5.000 ekor ikan nila berusia tiga bulan miliknya mati, akhir pekan lalu.

”Ikan-ikan itu mati ketika air sungai berubah warna dari kecokelatan menjadi kehijauan,” katanya.

Akibat kematian massal tersebut, Abdullah yang sudah lebih dari 10 tahun membudidayakan ikan dengan keramba jaring apung, menderita kerugian sekitar Rp 2 juta untuk biaya benih dan pakan.

”Itu tidak termasuk kerugian waktu dan tenaga untuk mengurusnya selama tiga bulan,” ujarnya.

Menurut Abdullah, kematian massal ikan kali ini hanya terjadi pada ikan nila. Untuk ikan bawal, hanya beberapa ekor saja yang mati, sedangkan ikan patin hampir tidak ada yang mati. Namun, ia mengaku, dibandingkan tahun lalu, kematian massal kali ini tidak begitu parah.

”Tahun lalu, kematian massal tidak hanya terjadi pada ikan nila, tetapi terjadi juga pada ikan bawal dan patin sehingga kerugian yang dialami para pembudidaya sangat besar,” tutur pembudidaya yang memiliki 16 keramba jaring apung ini.

Yudi (34), pembudidaya ikan lainnya, menuturkan, kematian ikan nila miliknya tidak begitu banyak karena sebagian besar sudah dipanen beberapa waktu lalu.

”Jumlah yang mati tidak sampai 100 ekor. Namun, ikan nila sisa panen beberapa waktu lalu mati semua,” ujarnya.

Menurut Yudi, kematian massal ikan di Sungai Martapura merupakan kejadian tahunan, yakni setiap musim kemarau. Ketika air Sungai Martapura sudah mulai surut, airnya yang semula berwarna kecokelatan tiba-tiba berubah menjadi jernih kehijauan.

”Kalau sudah begitu, pasti tingkat keasamannya tinggi dan kandungan oksigennya rendah. Itulah yang mengakibatkan ikan-ikan mati,” katanya.

Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan ”17 Mei” Benua Anyar Muhammad Husnaini mengatakan, perubahan warna dan kadar keasaman air Sungai Martapura merupakan fenomena alam yang sulit diprediksi. Karena itulah, sekitar 50 pembudidaya ikan dengan keramba jaring apung di wilayahnya hanya pasrah ketika ikan-ikannya mati.

”Jika sudah mulai terjadi kematian massal seperti sekarang ini, untuk mengantisipasi kerugian lebih besar, maka para pembudidaya langsung memanen ikan meski belum waktunya panen dan tidak menebar benih untuk sementara waktu,” katanya.

PenulisJumarto Yulianus
EditorErlangga Djumena

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM