Berikhtiar sejak Muda, Buruh Tani Berusia 95 Tahun Akhirnya Berangkat Naik Haji - Kompas.com

Berikhtiar sejak Muda, Buruh Tani Berusia 95 Tahun Akhirnya Berangkat Naik Haji

Kontributor Cirebon KompasTV, Muhamad Syahri Romdhon
Kompas.com - 05/08/2016, 07:03 WIB
Kontributor Cirebon KompasTV, Muhamad Syahri Romdhon Asrifa (65) sedang memijat bagian kepala Kakek Ambari (95) di salah satu ruang di rumahnya Kelurahan Pelandakan, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Kamis, (4/8/2016). Ambari tercatat Calon Jemaah Haji Tertua Kota Cirebon, dengan kisah menginspirasi yang menabung hampir 70 tahun, lintas generasi sejak Presiden Soekarno hingga Joko Widodo. Hasil dari buruh tani selama puluhan tahun mengantarkan Ambari ibadah ke Tanah Suci September mendatang.

CIREBON, KOMPAS.com — Ambari, seorang kakek berusia 95 tahun di Kota Cirebon, Jawa Barat, akhirnya akan berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun ini setelah berikhtiar sejak 70 tahun lalu. Tahun ini, dia akan berangkat haji dengan didampingi anak satu-satunya.

Meski kualitas tubuh semakin menurun, semangatnya terus berkobar.

Di rumah sederhananya di Kelurahan Pelandakan, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Ambari tinggal bersama anak semata wayangnya, Asrifa, yang sudah berusia 65 tahun. Asrifa sangat setia menemani sekaligus membantu aktivitas Ambari agar kondisinya senantiasa terjaga baik hingga menjelang keberangkatan.

Berdasarkan cerita, Asrifa menuturkan, Ambari sudah berniat menunaikan ibadah haji sejak remaja. Pria kelahiran 1921 itu kemudian belajar mengumpulkan uang seadanya sejak usia 30 tahun, atau sekitar tahun 1951 silam. Dia ingin mengikuti langkah almarhum bapaknya, Ahmad.

Cerita Ambari dalam mempersiapkan diri untuk dapat beribadah di Tanah Suci menjadi inspirasi bagi warga sekitar. Dari penghasilannya sebagai buruh tani, dia mengumpulkan keping demi keping mata uang.

"Dia tanam singkong, timun, kacang panjang, dan lainnya. Dia jual, sebagian untuk makan lalu sisanya ditabung," kata Asrifa saat berbincang di pelataran rumahnya, Kamis (4/8/2016) petang.

Meski demikian, Asrifa juga tak mengetahui detail perjuangan Ambari dalam menabung. Ibu yang sudah meninggal dunia sekitar tiga tahun lalu, lanjut Asrifa, yang mengetahui kisahnya.

Namun, menurut Asrifa, dia ingat betul cerita ketika ayahnya mengumpulkan uang dari zaman dahulu, saat sudah tidak laku lagi sebagai mata uang, uang itu dijual kepada kolektor dengan harga tinggi.

Ambari sendiri kini sudah memiliki keterbatasan saat memberikan keterangan dan cerita perjuangannya untuk dapat berangkat haji.

Mukhtar, cucu dari kakak Ambari, merasa sangat bangga dan kagum kepada kakeknya. Meski tak tahu proses menabung, Ambari memang dikenal sangat rajin, bekerja keras, dan mengumpulkan uang. Tahun ini, akhirnya kakeknya mendapat kesempatan beribadah haji.

“Kesehatan kakek pun sudah membaik, bahkan seluruh tes sudah dijalani, dan hasilnya, pemerintah membolehkan kakek berangkat, dengan syarat, didampingi anak semata wayangnya,” kata Mukhtar.

Di sisa waktu menjelang keberangkatan, Asrifa dan Mukhtar semakin giat menjaga kesehatan sang kakek. Mereka menemani aktivitas secukupnya, makan, dan tentu istirahat teratur.

(Baca juga: 31 Tahun Menabung di Kaleng, Tukang Parkir Akhirnya Berangkat Naik Haji)

 

Kompas TV Kuli Angkut Menabung Puluhan Tahun untuk Naik Haji

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisKontributor Cirebon KompasTV, Muhamad Syahri Romdhon
EditorCaroline Damanik
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM