Sabtu, 25 Februari 2017

Regional

Diskusi "Setengah Abad Gendjer-gendjer" Batal, Mengapa?

Kamis, 1 Oktober 2015 | 14:10 WIB
KOMPAS.com/ IRA RACHMAWATI Sinar Syamsi (61), anak dari pengarang lagu Gendjer-gendjer saat ditemui di rumahnya di Banyuwangi, Selasa (30/9/2014).
BANYUWANGI, KOMPAS.com — Diskusi bertema "Setengah Abad Gendjer-gendjer" yang rencananya akan digelar di salah satu kampus swasta di Kota Banyuwangi pada 3 Oktober 2015 dibatalkan karena khawatir ada protes dari ormas tertentu.

Hal tersebut disampaikan Ika Ningtyas, peneliti independen yang menjadi narasumber diskusi tersebut. Kepada Kompas.com, Kamis (1/10/2015), perempuan yang setahun terakhir ini meneliti lagu "Gendjer-gendjer" menjelaskan, pihaknya diminta untuk menjadi narasumber diskusi tersebut oleh pihak kampus.

Kebetulan ia dengan seorang rekannya melakukan riset tentang lagu "Gendjer-gendjer" dan akan diterbitkan dalam bentuk film dan buku. (Baca: Lagu "Gendjer-gendjer" dan Penderitaan Keluarga Pengarang yang Dicap PKI)

"Pada 29 September 2015 saya mengunggah promo diskusi tersebut melalui akun Facebook pribadi. Responsnya cukup bagus. Ada puluhan orang yang mendaftar diri untuk acara tersebut. Namun, 30 menit setelah saya unggah, panitia meminta saya mencopot poster. Alasannya, ada intel yang meminta acara dibatalkan," jelas Ika.

Satu hari kemudian, Ika menjelaskan, pihak kampus menghubunginya dan memastikan secara resmi bahwa diskusi dibatalkan karena khawatir ada protes dari ormas tertentu.

"Informasi yang saya dapatkan intel dari Polres dan Kodim mendatangi pihak kampus dan meminta agar acara diskusi dibatalkan," kata dia.

Menurut dia, kejadian pembatalan diskusi tersebut menunjukkan bahwa fobia terhadap lagu "Gendjer-gendjer" masih melekat di masyarakat. "Ada pemutarbalikan fakta sejak Orde Baru bahwa lagu 'Gendjer-gendjer' adalah lagu PKI. Apalagi dalam film G30S/PKI, lagu tersebut dipelesetkan menjadi lagu yang dinyanyikan dalam adegan penyiksaan tujuh jenderal," kata Ika.

Padahal, menurut Ika, pada sejumlah literatur tidak ada adegan penyiksaan ataupun menyanyikan lagu "Gendjer-gendjer".

Ika menjelaskan, lagu "Gendjer-gendjer" diciptakan pada tahun 1943 oleh Muhammad Arief. Lagu tersebut menceritakan tentang kehidupan masyarakat Banyuwangi saat masa penjajahan Jepang yang harus mengonsumsi sayur genjer yang saat itu menjadi makanan ternak.

Lagu tersebut kemudian populer saat dinyanyikan Lilis Suryani dan Bing Slamet pada era 1962-1965, dan sering dinyanyikan dalam acara kenegaraan, kejuaraan olahraga, serta diputar di RRI dan TVRI, kala itu.

"Ketika peristiwa G30S PKI meletus, lagu tersebut menjadi kelam dan pencipta serta seniman 'Gendjer-gendjer' banyak yang menjadi korban pembunuhan massal pada tahun tersebut," ujar Ika.

Padahal, menurut dia, lagu "Gendjer-gendjer" pernah dinobatkan oleh majalah Rolling Stone sebagai salah satu lagu terbaik sepanjang masa. "Sejak Orde Baru runtuh, sudah banyak musisi yang mengangkat lagu ini ke ruang publik. Tapi saya menyayangkan ternyata lagu ini masih menjadi fobia di tanah kelahirannya sendiri di Banyuwangi," kata dia.
Penulis: Kontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati
Editor : Glori K. Wadrianto