Sabtu, 25 Februari 2017

Regional

Cerita Nurhason yang Ingin Hidupi Keluarganya di Burma...

Kamis, 1 Oktober 2015 | 13:38 WIB
KOMPAS.COM/MASRIADI Muhammad Nurhason, warga Rohingnya di penampungan Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara
LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com - Muhammad Nurhason, masih terlalu muda untuk mengambil alih tanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarganya di Burma. Usianya belum melewati 15 tahun, tapi sudah memikirkan beban besar itu.

Dia sadar posisinya sebagai anak laki-laki tertua, dan mempunyai ibu, ayah, serta dua adik yang masih bertahan di Burma.

“Saya pergi dari Burma supaya bisa bekerja. Saya butuh uang untuk dikirim ke ibu dan adik-adik saya. Tapi saya juga tidak ada kerja di sini. Hidup saya hanya makan dan tidur,” ujar Nurhason, warga Rohingnya di lokasi penampungan Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, Kamis (1/10/2015).

Dia menyebutkan, seluruh warga Rohingnya di penampungan itu ingin pergi ke Malaysia. Termasuk dia. Alasannya sederhana. Di negeri jiran, ada ratusan warga Rohingya yang sudah lebih dulu tiba dan bekerja. Sehingga, komunitas Rohingnya di negara itu diharapkan bisa membantu sesama mereka.

Alasan lainnya, di negeri itu bisa mereka lebih mudah untuk bekerja dan mengumpulkan ringgit. Beberapa di antara pengungsi yang kini sudah ada di Malaysia, disebutnya kerap menelponnya dan berbagi cerita tentang situasi di Malaysia.

Menurut Nurhason, beberapa temannya di Malaysia kerap bercerita bahwa di sana banyak tersedia lapangan kerja. Tidak butuh skill atau kemampuan khusus. Mereka juga mengaku mulai bisa membantu keluarga mereka yang masih tertahan di Burma dengan mengirim uang secara rutin.

Impian Nurhason ini adalah keinginan mayoritas warga Rohingnya yang kini berada di penampungan. Semua dari mereka mengaku ingin bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dengan bekerja.

“Kalau saya punya uang, saya ingin kirim supaya keluarga saya di Burma bisa segera keluar dari sana, dan kami bisa hidup bersama di Malaysia,” ujar Nurhason.

Masa krisis dalam penangan mereka sudah berakhir. Kini saatnya untuk segera memikirkan pemberdayaan ekonomi. Agar hidup mereka, dari hari ke hari, tak hanya berkisar dari kamar tidur ke dapur umum.

Media Relations Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingnya (KNSR) Lhokseumawe Zainal Bakri, menyebutkan, beragam pelatihan untuk memberi keterampilan pun terus dilakukan.

“Agar kelak, ketika Negara ke tiga membuka pintu masuk bagi mereka, peluang itu tak berakhir sia-sia karena tak memiliki keahlian apapun,” ujar Zainal Bakri.
Penulis: Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor : Glori K. Wadrianto