Hak Sultan HB X untuk Tentukan Penggantinya Harus Dihormati - Kompas.com

Hak Sultan HB X untuk Tentukan Penggantinya Harus Dihormati

Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma
Kompas.com - 23/03/2015, 15:10 WIB
KOMPAS/HARIS FIRDAUS Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X membacakan sabda tama atau amanat di Bangsal Kencana Keraton Yogyakarta, Jumat (6/3/2015). Dalam sabda tama itu, Sultan meminta para kerabat keraton tidak lagi berkomentar tentang kemungkinan pergantian raja di Keraton Yogyakarta. Hadir dalam acara itu para kerabat Keraton Yogyakarta, termasuk permaisuri raja Gusti Kanjeng Ratu Hemas, dan Adipati Kadipaten Pakualaman, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam IX. Kompas/Haris Firdaus (HRS) 06-03-2015

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Dosen Jurusan Politik dan Pemerintahan Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Dardias K, mengatakan bahwa persoalan memilih pemimpin Keraton Yogyakarta sepenuhnya adalah hak dari Sri Sultan HB X sebagai raja.

Oleh karena itu, dia mengatakan, masyarakat harus dapat memahami beban berat Sri Sultan dalam menentukan penggantinya kelak.

"Harus dipahami Ngarso Dalem mengemban tugas berat dalam menentukan siapa yang nantinya akan memimpin Keraton Yogyakarta," ujar Bayu dalam Academic Roundtable Discussion "Politik Keistimewaan di Yogyakarta, Harta, Tahta, dan Perebutan Kuasa" di Fisipol UGM, Senin (23/3/2015).

Bayu menuturkan, penentuan siapa yang akan memimpin Keraton Yogyakarta merupakan hak Sri Sultan. Tahap inilah yang paling menggalaukan bagi Sultan. Pasalnya, sebagai raja, Sri Sultan memikul tanggung jawab sangat besar, baik dari Tuhan maupun leluhur untuk menentukan sosok yang tepat.

Memilih sosok pengganti, lanjutnya, bukan soal suka atau tidak suka. Namun, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

"Ngarso Dalem punya beban berat, kita harus mau mengerti. Jika salah maka akan menghapus jasa atau prestasi leluhur dan keberlangsungan Keraton Yogyakarta," tegasnya.

Persoalan suksesi kepemimpinan di Keraton Yogyakarta sempat mengemuka beberapa waktu lalu. Bahkan, secara mendadak Sri Sultan HB X mengeluarkan Sabda Tama di Bangsal Kencana. Dalam Sabda Tama itu dikatakan, kerabat Keraton diminta tidak lagi berkomentar soal suksesi. Tidak ada seorang pun yang boleh mendahului titah dari raja.

PenulisKontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma
EditorCaroline Damanik
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM