Nanik, Wanita Penambal Ban dari Desa Telogosari - Kompas.com

Nanik, Wanita Penambal Ban dari Desa Telogosari

Kontributor Malang, Yatimul Ainun
Kompas.com - 11/11/2014, 15:11 WIB
KOMPAS.com/ YATIMUL AINUN Perempuan bernama Nanik Fransiska Dewi ini tak merasa malu dan justru terlihat lihai mengerjakan profesinya sebagai penambal ban di Desa Telogosari, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang.
MALANG, KOMPAS.com — Perempuan bernama Nanik Fransiska Dewi ini tak merasa malu dan sangat lihai mengerjakan pekerjaannya sebagai penambal ban di Desa Telogosari, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang.

Sebelumnya, keberadaan wanita berumur 19 tahun yang bekerja sebagai penambal ban ini ramai diperbincangkan di media sosial. Awalnya, seorang pelanggan, yang menilai Nanik sebagai perempuan cantik, mengunggah foto perempuan itu ke media sosial. Dalam gambar itu, Nanik terlihat sedang bekerja. Setelah itu, Nanik pun menjadi perbincangan di media sosial.

Ditemui di tempat kerjanya, Selasa (11/11/2014) siang, Nanik mengaku sudah dua tahun menekuni pekerjaan tersebut. Nanik berdalih, hal tersebut dilakukan hanya untuk membantu suaminya demi menunjang perekonomian keluarga.

KOMPAS.com/ YATIMUL AINUN Nanik Fransiska Dewi
"Semua ini hanya untuk membantu suami ketika bengkel servis motornya rame. Jadi, dulu saya bisa menambal ban itu pertama diajari oleh suami saya," kata dia.

Awalnya, Nanik belajar menambal ban ketika ban sepeda motornya bocor. Dia langsung belajar untuk menambalnya sendiri. Nanik yang hanya lulusan sekolah dasar (SD) itu tak mempersoalkan pekerjaannya.

"Yang paling penting bisa meringankan beban suami saya untuk menghidupi anak dan orangtua," ujar Nanik.

Nanik baru dua tahun menikah. Namun, dia mengangkat anak dari kakaknya. Anak tersebut kini berusia 7 tahun.

"Pendapatan sehari-hari bisa Rp 15.000 sampai dengan Rp 40.000, tetapi kadang pernah tak ada sama sekali. Kalau rame ya pas Lebaran, bisa Rp 100.000 sampai Rp 150.000," kata dia. "Jangan malu walau jadi penambal ban. Yang penting dapat uang halal," sambungnya. 

Suami Nanik, Riko Hari Wibowo (22), sebenarnya tak tega melihat sang istri melakukan pekerjaan tersebut. "Semua ini atas kemauan dia, untuk menopang kehidupan sehari-hari," kata Riko.

Dahulu, menurut cerita Rio, Nanik sudah dilarang oleh keluarganya. Namun, Nanik memutuskan untuk terus membantu pekerjaan Riko. "Dia sekarang sudah terbiasa. Yang penting pekerjaan halal," kata pria lulusan SMP itu.

PenulisKontributor Malang, Yatimul Ainun
EditorGlori K. Wadrianto
Komentar

Close Ads X