Sabtu, 19 April 2014

News / Regional

Kelud FM, Radio Komunitas soal Situasi Gunung Kelud

Kamis, 6 Februari 2014 | 17:07 WIB
Kompas.com/M.Agus Fauzul Hakim Kelud FM, salah satu radio komunitas warga lereng Gunung Kelud, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

KEDIRI, KOMPAS.com — Erupsi Gunung Kelud, Jawa Timur, pada tahun 2007 maupun erupsi pada tahun-tahun sebelumnya menjadi pembelajaran sungguh berarti akan pentingnya suatu informasi bagi masyarakat sekitarnya.

Hal itulah yang mendasari terbentuknya sebuah radio komunitas untuk menyuarakan kabar aktual aktivitas gunung yang mempunyai ketinggian 1.731 meter di atas permukaan laut dan dikenal dengan ciri letusan eksplosif tersebut.

Radio tersebut mempunyai pancaran transmisi jenis modulasi frekuensi dan bernama Kelud FM, yang sanggup menjangkau hingga jarak lima kilometer dari stasiun radio. Jangkauan radio itu hampir satu kecamatan.

Dialah Suprapto, beserta kelompoknya sesama warga Dusun Margomulyo di Desa Sugihwaras Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, yang mempunyai ide mendirikan radio komunitas itu pada pertengahan 2010 silam.

Desa tersebut merupakan desa yang berposisi paling dekat dengan kawah Kelud. "Kami berkaca pada pengalaman letusan pada tahun-tahun sebelumnya, informasi yang benar dan akurat itu sangat penting," kata Suprapto kepada Kompas.com, Kamis (6/2/2014).

Fungsi radio itu, kata Suprapto, memberi kabar aktual dari sumber tepercaya ketika Kelud dalam situasi kritis. Sumber tersebut juga bisa langsung berasal dari pos pemantau Kelud milik PVMBG ataupun otoritas pengamanan.

Sementara pada situasi Kelud normal, radio tersebut mengudara antara pukul 10.00 hingga petang, lalu berlanjut hingga malam. "Kalau situasi normal, paling kami menyiarkan pengetahuan tentang kebencanaan maupun hiburan biasa," kata pria yang menjabat sebagai Kepala Urusan Umum di desanya itu.

Sedangkan operasionalnya, kata Prapto, murni dari pendanaan swadaya anggotanya. Sistem donasi hanya diterimanya sekali, yaitu awal terbentuknya radio, dan dana tersebut digunakan untuk pembelian peralatan radio itu.

Meski demikian, mereka tetap gigih mempertahankan eksistensi radio itu. "Namanya komunitas, ya enggak ada bayaran. Bahkan kadang harus tambal sulam demi bayar rekening listriknya," pungkasnya.

Simak kembali catatan Ekspedisi Kompas Cincin Api “Kelud Revolusi Gunung Api” di edisi khusus epaper.kompas.com dan www.cincinapi.com.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Kontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim
Editor : Kistyarini