Kamis, 23 Oktober 2014

News / Regional

Mimpi Kuliah Akuntansi, Erwiana Malah Sengsara Jadi TKI...

Selasa, 21 Januari 2014 | 09:57 WIB
PHILIPPE LOPEZ / AFP Para buruh migran Indonesia, termasuk para pembantu rumah tangga, di Hongkong, Minggu (19/1/2014), menggelar unjuk rasa menuntut keadilan terkait kasus penyiksaan terhadap Erwiana Sulistyaningsih oleh majikannya.
SRAGEN, KOMPAS.com — Bermaksud mewujudkan cita-cita kuliah di jurusan akuntansi dengan menjadi tenaga kerja Indonesia ke Hongkong, Erwiana Sulistiyaningsih (23) justru menderita lahir batin. Di perantauan, hanya kesengsaraan yang dia dapat dari majikannya.

Perempuan kelahiran 7 Januari 1991 ini adalah warga RT 5 RW 3, Dusun Kawis, Pucangan, Kecamatan Ngrambe, Ngawi, Jawa Timur. Erwiana lahir dari keluarga tidak mampu, dari pasangan Rohmad Saputra (48) dan Suratmi.

Ayah Erwiana hanya pekerja serabutan. Keinginannya kuliah harus dipendam dalam karena kondisi ekonomi keluarga. Alasan yang sama mendorong Erwiana mendaftar menjadi pekerja ke Hongkong.

“Sebetulnya dia itu tidak mau menjadi TKI, tapi karena tidak ada biaya dan melihat kondisi perekonomian orangtua, Erwiana mencoba mencari biaya kuliah dengan menjadi TKI,” kata Antik Priswahyudi, anggota Serikat Buruh Migran Hongkong, kepada wartawan di Rumah Sakit Amal Sehat Sragen, Jawa Tengah, Senin (20/1/2014).

Informasi yang didapat Kompas.com, Erwiana mendapatkan informasi untuk menjadi TKI melalui PT Graha Ayu Karsa pada 2012. Berawal dari informasi tersebut, dia berangkat ke Hongkong melalui perusahaan itu pada 27 Mei 2013.

PT Graha Ayu Karsa adalah perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia yang beralamat di Balai Latihan Kerja – LN, Jalan Iskanda Muda No 18 (d/h Jalan Beringin Raya), Kelurahan Kedawung Wetan, Kecamatan Neglasari, Tangerang, Banten.

Setelah mengantongi visa kerja, Erwiana berangkat ke Hongkong seorang diri. Di sana, dia bertemu rekanan PT Graha Ayu Karsa yang menunggunya di bandara. Dia pun langsung dibawa menemui majikan yang tinggal di apartemen beralamat di Tong Ming Street, Kowloon, Hongkong.

Majikan Erwiana bernama Law Wan Tung. Sejak saat itu, Erwiana bekerja dan tinggal di aparteman Law. Mulai saat itu pula, penyiksaan menjadi keseharian yang dijalani Erwiana. Setiap kesalahan Erwiana harus "dibayar" dengan pukulan memakai alat apa saja di dekat sang majikan.

Menghadapi perlakuan buruk, Erwiana sudah pernah menghubungi agennya. Bukan dibela, apalagi diurus atau dipulangkan ke Indonesia, agen itu meminta Erwiana kembali ke majikannya. Keluhan soal gaji yang disampaikan Erwiana pun tak ditanggapi agennya.

Tahu Erwiana berusaha kabur, perlakuan majikan makin menjadi-jadi. Misalnya, Erwiana hanya mendapat jatah air minum satu botol sehari. Alergi dingin yang diderita Erwiana tak sekali pun mendapatkan pengobatan, apalagi luka akibat penganiayaan majikan.

Tanpa angin maupun hujan, pada 9 Januari 2014, Law memulangkan Erwiana. Dia diantar ke Hong Kong International Airport berbekal selembar tiket pesawat Garuda Indonesia dengan rute sambung Jakarta - Solo.

Tak ada pesan lain dari Law selain ancaman untuk tak menceritakan apa yang Erwiana alami selama bekerja padanya. Bila pesannya dilanggar, Law mengancam akan membunuh orangtua Erwiana.

Semesta masih menyisakan kisah baik. Di bandara, Erwiana bertemu Rianti. Perempuan inilah yang membantu Erwiana pulang sampai ke Ngawi.

Saat di Bandara Hongkong tersebut, Erwiana bertemu dengan Rianti yang akhirnya menolong Erwiana pulang ke Ngawi. Dia juga yang membawa Erwiana ke Rumah Sakit Amal Sehat Sragen untuk mengobati luka-luka Erwiana. Namun, sampai hari ini keinginan Erwiana untuk kuliah di jurusan akuntansi masih tetap sekadar mimpi tak terbeli.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Kontributor Surakarta, M Wismabrata
Editor : Palupi Annisa Auliani