Kamis, 2 Oktober 2014

News / Regional

Cerita Anggota Klinik Asuransi Sampah

Minggu, 19 Januari 2014 | 15:36 WIB
BBC INDONESIA Anggota klinik asuransi sampah Siti Aminah (kiri) dan Rahayu.

KOMPAS.com - Sekitar 500 warga di kota Malang berobat dengan hanya membawa sampah kering yang dapat didaur ulang, seperti botol plastik, kardus dan kertas.

Mereka merupakan anggota Klik klinik asuransi sampah yang didirikan dr Gamal Albinsaid melalui organisasi Indonesia Medika.

Saat ini lima klinik di Malang menerapkan sistem premi dengan sampah kering dan direncanakan akan dikembangkan di klinik-klinik lain tidak hanya di Malang dan Jawa Timur namun juga di kota-kota lain di Indonesia.

Ani Purwanti, yang bekerja sebagai penjahit, termasuk anggota klinik asuransi sampah ini di desa Sukun.

Ani datang dengan membawa beberapa kardus bekas benang yang ia kumpulkan setelah menjahit.

"Saya mengalami tekanan darah tinggi, dan harus berobat setiap dua minggu sekali. Jadi ini sangat membantu dari sisi biaya," kata Ani.

'Pinjam uang untuk berobat'

Dengan kartu klinik asuransi sampah, warga dapat memiliki akses pelayanan kesehatan primer dengan berobat maksimal dua kali dalam satu bulan, kata Gamal.

BBC INDONESIA Dr Gamal (tengah) dengan warga yang berobat dengan membawa sampah.

"Namun bilapun tidak berobat, warga tidak akan rugi karena mendapatkan berbagai fasilitas lain seperti penyuluhan serta rehabilitasi untuk yang baru sembuh sakit dan jaringan telepon khusus pasien ke dokter untuk berkonsultasi," tambah Gamal.

Mereka yang datang lebih dari dua kali, diterapkan pembayaran namun ditekan seminimal mungkin, kata dokter berusia 24 tahun ini.

Klinik Asuransi Sampah ini didirikan tahun 2010 dan sempat terhenti setelah berjalan enam bulan. Sistem ini mulai diterapkan lagi tahun lalu dengan fokus menjaring banyak anggota.

Gamal mengatakan sistem ini dilakukan berdasarkan asuransi mikro sehingga yang difokuskan saat ini adalah menambah jumlah anggota untuk mempertahankan keberlangsungan.

Yuli Kurniawati, ibu RT di desa Sukun, mengatakan warga di desanya banyak terbantu dari sisi fasilitas kesehatan dan juga kebersihan lingkungan.

"Banyak warga yang tidak mampu di sekitar saya. Mereka harus meminjam uang bila mau berobat. Mereka sangat terbantu dan merasa terharu bisa berobat dengan hanya membawa sampah," kata Yuli.

"Dari sisi lingkungan juga sangat terbantu. Semula sampah yang tidak berguna jadi sangat berguna," tambah Yuli.

BBC INDONESIA Dr Jibril Makhyan (kanan) dan dr Gamal memberikan penyuluhan kepada warga.

Untuk saat ini volume sampah yang dibawa warga tidak ditentukan beratnya guna menarik anggota baru, kata Gamal.

Kerja sama dengan Bank Sampah

Anggota klinik asuransi sampah ini bertambah sekitar 50 orang setiap minggu melalui berbagai sosialisasi termasuk pengobatan gratis.

Mereka yang termasuk anggota baru adalah Siti Aminah, yang membawa kardus untuk ditukar dengan kartu anggota Klinik Asuransi Sampah di kawasan Manyar, Malang.

"Jelas saya sangat terbantu dan baru pertama kali ini saya bayar berobat pakai sampah," kata Aminah.

Anggota baru lain, Rahayu, mengatakan tidak ada lagi sampah-sampah yang menumpuk di sekitar rumahnya dengan penerapan sistem ini.

"Dengan memilah sampah, kami mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis dengan biaya pakai sampah. Untuk lingkungan juga sangat membantu karena sampah tidak lagi menumpuk di luar-luar rumah," kata Rahayu.

Sampah-sampah yang dibawa warga setiap minggu sebagai persyaratan premi asuransi klinik, dibawa ke Bank Sampah Malang untuk dikelola lagi.

Pendapatan dari bank sampah inilah yang antara lain digunakan untuk keperluan membeli obat, kata Gamal.

Editor : Kistyarini
Sumber: BBC Indonesia