Sabtu, 29 November 2014

News / Regional

MUSIBAH PENDAKIAN

Jangan Mau Mati (Konyol) di Gunung!

Jumat, 27 Desember 2013 | 15:25 WIB
KOMPAS.com / FITRI PRAWITASARI Puncak Gunung Pangrango terlihat dari puncak Gunung Gede, Bogor, Jawa Barat,
KOMPAS.com – Shizuko Rizmadhani, (16), siswi SMA Negeri 6 Bekasi, diketahui meninggal Selasa, (24/12/2013) malam. Korban tewas di Kandang Batu (2.220 mdpl) atau pendakian menjelang puncak Gunung Gede, Cianjur, Jawa Barat.

Sehari berikutnya, Endang Hidayat (53), warga Sepanjang Jaya Rawa Lumbu, Bekasi, dinyatakan meninggal saat mendaki Gunung Semeru. Korban dilaporkan meninggal dunia sekira pukul 18.00 WIB di Pos Waturejeng di ketinggian sekitar 2.300 mdpl.

Selanjutnya, berselang empat hari setelah kabar duka dari Semeru itu, Gatot Handoko (40), wisatawan asal Singaraja, Bali, juga dinyatakan tewas dalam pendakiannya ke Gunung Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur. Nyawa korban tak terselamatkan saat dilarikan ke RS Blambangan yang berjarak 20 km dari pos pendakian pertama Paltuding.

Berdasarkan laporan media, penyebab meninggalnya ketiga pendaki itu bermacam-macam. Meninggalnya Shizuko Rizmadhani di Gunung Gede diketahui setelah terserang hipotermia atau kehilangan suhu panas tubuh akibat basah dan kedinginan.

Mahesa Vicky, tim sukarelawan dari Indonesian Green Ranger, yang ikut mengevakuasi korban mengatakan, dirinya mendapatkan informasi ada pendaki yang mengalami kedinginan hebat dan perlu pertolongan.

"Kami (petugas Ranger) dan tim relawan langsung menuju lokasi," ujar Vicky.

Lain halnya dengan Endang Hidayat. Pendakian ke Semeru menjadi pendakian terakhirnya, setelah Endang dinyatakan meninggal dalam perjalanan di Pos Dua atau di Pos Waturejeng. Endang diketahui mengalami serangan jatung, bahkan sempat mengalami kejang. Padahal, menurut penuturan anak kandungnya, Dian Wahyuni Khairunnisa, (24), ayahnya tak mempunyai riwayat penyakit Jantung.

Sementara itu, Gatot Handoko (40), diketahui meninggal setelah sempat mengeluhkan sakit di dadanya. Toh, Endang tetap memaksa naik. Sempat ia terpeleset, sampai akhirnya dievakuasi turun ke Paltuding. Petugas pun segera melarikannya ke RS Blambangan yang berjarak 20 km. Sayang, nyawa Gatot tak tertolonh. Ia meninggal dalam perjalanan.

KOMPAS/DAHLIA IRAWATI Gunung Semeru
Menganggap sepele?

Boleh jadi, ini “rekor terburuk” dalam sejarah pendakian di Indonesia, dimana tiga pendaki tewas hanya dalam waktu sepekan secara berurutan. Salahkah mereka mendaki di tengah cuaca buruk Desember? Cukupkah persiapan dan rencana mereka mendaki gunung?

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan merancang pendakian di bulan Desember di ketiga gunung tersebut. Hanya, siapkah kita menghadapi cuaca buruk Desember? Siap dalam arti fisik dan peralatan?

Seperti diketahui, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di akhir musim transisi pada Oktober-Desember harus diwaspadai, serta kemungkinan intensitas curah hujan yang sangat tinggi pada bulan Januari - Februari 2014.

"Terkait intensitas hujan, sesuai prediksi BMKG bulan Oktober-Desember merupakan akhir dari musim transisi, dan puncak musim penghujan yang berkelanjutan serta tidak mengenal waktu dan intensitas diwaspadai terjadi pada Januari-Februari," ujar Kasubid Informasi BMKG, Harry Tirto kepada Antara.

Artinya, mendaki di masa-masa cuaca "tak bersahabat" seperti ini butuh ekstra perhatian, baik fisik, perbekalan, maupun peralatan. Pendaki profesional pasti tahu betul, mendaki di bulan Desember hingga Februari berisiko diterjang hujan dan angin setiap waktu. Tanpa persiapan ketat, selain tidak nyaman, risikonya nyawa!

"Kembali lagi ke soal pengetahuan, pendidikan yang menjadi bekal si pendaki. Dengan pengetahuan yang dia punya, sudah barang tentu persiapan pendakiannya juga baik. Dia pasti tahu risiko yang akan dia hadapi, sudah dia ukur. Minimal siap menghadapi risiko itu, karena tidak bisa ditebak maunya," kata Adiseno, pendaki senior Mapala UI.

Kasus Shizuko Rizmadhani yang meninggal karena kehilangan suhu tubuh membuktikan, korban tidak siap mendaki kendati hanya ke Gunung Gede yang ketinggiannya hanya 3,019 meter di atas permukaan laut. Terlalu menganggap enteng?

KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT Asap solfatara keluar dari kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (7/11/2011). Kawah Ijen merupakan gunung api aktif penghasil belerang (sulfur) utama di Indonesia. Gunung Ijen meletus dalam tiga periode yang berlangsung sejak 3.500 tahun lalu hingga menghasilkan kawah besar yang ditengahnya terbentuk danau yang menjadi pusat kegiatan vulkanik Gunung Ijen saat ini.
Patut diduga, demikian! Terbukti, saat petugas SAR datang ke lokasi, korban sebelumnya telah mengalami kedinginan karena pakaiannya basah dan tak diganti. Apakah korban tidak membawa jaket? Baju ganti? Sleeping bag atau kantung tidur? Bagaimana dengan makanannya?

"Menurut rekan-rekanya, korban mulai kedinginan dari Senin (23/12/2013) malam, dan tim sudah berhasil mengevakuasi jenazah korban dari atas gunung," tutur Mahesa Vicky, tim sukarelawan dari Indonesian Green Ranger, yang ikut mengevakuasi.

Lalu, bagaimana dengan Endang Hidayat dan Gatot Handoko yang usianya jauh di atas Shizuko? Terutama dibandingkan dengan almarhum Endang, yang diketahui punya banyak pengalaman mendaki gunung-gunung di Indonesia.

Dian Wahyuni Khairunnisa (24, anak kandung Endang, bertutur, ayahnya merupakan pencinta alam sejak masih usia muda. Puluhan gunung, termasuk Puncak Jaya di Papua, pernah didakinya.

"Hobinya memang naik gunung," katanya di rumah duka, Jalan Carita C Nomor 199 Blok VII, RT 06 RW 08, Sepanjang Jaya Rawalumbu, Kota Bekasi, Kamis (26/12/2013) lalu. 

Dian mengatakan, hobi naik gunung itu menurun kepada anaknya yang nomor dua, yakni Danu Suwandana Saputra (28). Namun, baru kali ini anak dan bapak itu mendaki gunung bersama-sama. Pendakian itu memang permintaan Endang sendiri untuk bias mendaki bersama anaknya.

"Padahal itu sudah dilarang, tapi (Endang) tidak mau," tuturnya.

Nyatanya, musibah tak terelakkan. Endang meninggal sebelum menuntaskan pendakiannya ke Mahameru, nama Puncak Gunung Semeru di ketinggian 3,676 mdpl. Pun, begitu dengan Gatot. Puncak gunung tak diraihnya.
 
Tanpa bermaksud mengecilkan pengalaman pendakian mereka, dapat diduga, persiapan kedua korban, baik Endang maupun Gatot, memang minim. Adakah keduanya melakukan cek kesehatan sebelum melakukan pendakian? Seberapa rutin keduanya berlatih fisik? Maklum, kedua pendaki sudah tak muda lagi untuk mendaki gunung di usia yang masing-masing 53 dan 40 tahun. 

Tentunya, tidak ada orang yang mau mati konyol, mati sia-sia, di gunung. Seandainya kondisi terakhir kesehatan Endang dan Gatot diketahui lewat medical check-up, tentu ada kesempatan bagi mereka berdua mengurungkan niatnya hingga fisik mereka benar-benar siap untuk mendaki di lain hari.

Kini, nasi sudah jadi bubur. Ini sebuah pelajaran berharga, mengingat mendaki gunung sudah menjadi tren umum, bukan "eksklusif" milik kalangan pendaki atau pecinta alam saja. Jika pendaki yang muda-muda harus siap fisik dan peralatan, apalagi di usia 40 ke atas. Tanpa persiapan fisik prima, terlalu berisiko mendaki dalam cuaca ekstrim dan menguras tenaga. Risikonya, celaka dan berujung tewas sia-sia!

Penulis: Latief
Editor : Latief