Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Haul Gus Dur, Momentum Konsolidasi dalam Merawat Kebhinekaan

Kompas.com - 09/12/2013, 21:25 WIB
Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma

Penulis


YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Empat tahun sudah Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur dipanggil Yang Maha Kuasa. Namun demikian, ajaran dan pemikirannya sampai saat ini masih terus dihidupkan.

Peringatan Haul Gus Dur 2013 yang digelar Jaringan Lintas Iman Yogyakarta pada 16 Desember dan 30 Desember mendatang menjadi momentum untuk merefleksikan pemikiran Sang Guru Besar Bangsa dalam merawat Kebhinekaan di Indonesia.

Ketua Panitia Peringatan Haul Gus Dur 2013, Ahmad Ghozi mengatakan, Yogya merupakan salah satu daerah di Indonesia yang mampu menunjukan perdamaian di tengah keberagaman warga. Kota ini terus menciptakan banyak konstruksi yang terwujud dalam struktur harmoni. Namun akhir-akhir ini, sudah banyak dilansir terjadinya surplus kekerasan berlatar belakang agama dan keyakinan baik di Yogya maupun lingkup Indonesia.

"Haul Gus Dur selain untuk mendoakan beliau, juga sebagai momentum konsolidasi kembali elemen-elemen dalam merawat kebhinekaan Indonesia," jelas Ahmad Ghozi, Senin (9/12/2013).

Peringatan Haul Gus Dur dengan mengusung tema "Napak Tilas Gus Dur dalam Merawat Kebhinekaan Indonesia", lanjut Ghozi, merupakan upaya melestarikan gagasan toleransi dan perdamaian di tengah menguatnya gerakan intoleransi dan kekerasan di Yogyakarta dan Indonesia pada umumnya. Selain itu, acara ini sebagai upaya menyegarkan kembali ingatan masyarakat, terutama generasi muda, akan indahnya kebersamaan dan kebhinekaan.

Menciptakan kembali semangat merawat dan menjaga kebhinekaan di Yogyakarta dan umumnya Indonesia menjadi tanggung jawab bersama. Mengembalikan kembali kesadaran generasi muda lewat refleksi pemikiran Sang Guru Bangsa, Gus Dur.

"Pemikiran-pemikiran Gus Dur masih relevan di zaman saat ini. Generasi muda harus merefleksikan untuk menjaga hidup toleransi, jangan sampai malah sebaliknya, terjebak dalam gerakan intoleransi yang menjurus kekekerasan," tandasnya.

Ghozi menjelaskan, acara peringatan Haul Gus Dur 2013 dibagi menjadi dua rangkaian besar. Pertama adalah ziarah budaya yang akan dilaksanakan pada Senin 16 Desember 2013 di Monumen Serangan Umum 1 Maret. Acara kedua adalah Tahlil Kebangsaan dan Pengajian Akbar yang akan dilaksanakan pada 30 Desember 2013.

Dalam acara ziarah budaya akan ada kirab dan pentas budaya lintas iman. Ada pula pembacaan puisi dari tokoh-tokoh lintas iman antara lain, Suster Maryati, Romo Triwidodo, KH Masrur Ahmad, KH Abdul Muhaimin, pendeta Paulus Lie, Mustofa Hasyim dan Koh Hwat.

Selain itu acara juga akan diisi dengan orasi budaya antara lain oleh KH Mustofa (Gus Muh), Buya Syafi'i Ma'arif, Romo Aloysis Budi, Bante Panyavaro dan ibu Shinnta Nuriyah Wahid (istri Gus Dur). "Gus Dur sudah memulai, sekarang kita yang merawat, meneruskan dan menjaga kebhinekaan dan toleransi," pungkasnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com