Selasa, 30 September 2014

News / Regional

Bus Pengantin Kecelakaan di Garut, Antara Mitos dan Sulitnya Medan

Minggu, 8 Desember 2013 | 16:27 WIB
kompas.com/ syahrul munir salah satu korban bus pengantin maut, mempelai pria bernama Eko (26) warga Banyumas, masih pingsan di RSUD Slamet Garut.

GARUT, KOMPAS.com - Peristiwa bus pengantin yang masuk jurang di Cisandaan, desa Pananjung, Kecamatan Pamulihan, Garut, pada Minggu (8/12/2013) dini hari dibumbui cerita mistis.

Hampir setiap tahun di lokasi itu ada peristiwa kecelakaan yang melibatkan rombongan pengantin. Agar selamat, calon pengantin harus memberikan sesaji dilokasi itu.

"Memang daerah yang ke arah sana ada mitos kalau yang mau pengantin harus ngasih sesajen kalau lewat situ," kata Darti S (35), Minggu (8/12/2013) siang.

Mitos itu, kata Darti, sudah umum diketahui oleh masyarakat di wilayah Garut Selatan. Ia mengetahuinya karena dua tahun terakhir ini bertugas di Garut selatan sebagai fasilitator program air bersih World Bank.

"Saya tahunya dari orang sana. Tahun lalu rekan se tim saya yang mau nikah diperingatkan sama orang desa jangan lewat situ menjelang mau hari pernikahan," jelasnya.

Soal mitos itu, Kasatlantas Polres Garut AKP Bariu Bawana mengaku juga menerima informasi itu dari masyarakat. Namun informasi kecelakaan mobil-mobil pengantin itu masih perlu dibuktikan dengan catatan kecelakaan di kepolisian.

"Saya dengar tadi di TKP ada yang cerita kalau lima tahun lalu katanya setiap tahun sekali ada kejadian laka mobil pengantin. Saya perlu buka file apa benar demikian," kata pria yang belum genap satu semester menjabat sebagai Kasatlantas ini.

Meski demikian, kata Bariu, dari kacamata kepolisian lokasi kejadian memang sangat rawan terjadinya kecelakaan karena medannya yang sangat berbahaya.

"Medan memang cukup berbahaya. Curam, tikungannya tajam, tanjakan dan berkelok-kelok. Apalagi kejadiannya pukul empat, masih gelap," jelasnya.

Guna mengantisipasi dan meminimalisasi kejadian tidak terulang pada masa mendatang, pihaknya mendesak dinas terkait agar dijalur selatan rambu-rambu lalu lintas diperbanyak.

"Kami mengusulkan pembuatan pagar batas pada kelokan yang tepinya jurang. Juga convex mirror (kaca cembung) diperlukan pada daerah tikungan tajam," tambahnya.

Bariu mengakui selain rambu yang kurang maksimal, penerangan jalan juga menjadi persoalan serius unuk jalur Garut Selatan. Seperti diiformasikan sebelumnya bus rombongan pengantin dari Banyumas mengalami kecelakaan di Jalur Cisandaan, Garut.

Bus berpenumpang 18 orang itu rencananya akan menuju rumah pengantin wanita di Rancabuaya-Caringin, Garut. Peristiwa itu membawa korban jiwa, yakni sopir bus bernama Asep (25) warga kampung Parakan, Sinjang, kabupaten Brebes, Jawa Tengah. 16 penumpang luka ringan dirawat di Puskesmas Cikajang dan Cisandaan.

Sementara itu, mempelai pria yaitu Yuli Eko Prasetyo (26) masih berada di RSUD dr Slamet, karena mengalami luka serius di bagian kepala dan saat ini belum siuman.

Penulis: Kontributor Garut, Syahrul Munir
Editor : Bambang Priyo Jatmiko