Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ditolak Minta Jamkesmas, Penderita Tumor Ganas Menangis

Kompas.com - 07/10/2013, 16:54 WIB
Kontributor Malang, Yatimul Ainun

Penulis


MALANG, KOMPAS.com
- Mistar (34), penderita tumor di wajah asal Desa Rejosari, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menangis karena ditolak Dinas Kesehatan setempat saat meminta surat Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Jamkesmas itu tadinya sebagai bekal untuk berobat dan operasi tumor yang dideritanya selama 32 tahun.

Mistar didampingi Juari, kepala Rejosari mendatangi kantor Dinkes Kabupaten Malang pada Senin (7/10/2013). Setelah Dinkes Malang menolaknya, ia duduk sambil menangis di halaman kantor Dinkes.

Ditemui para wartawan, Mistar bercerita sembari meneteskan air mata. "Saya menderita tumor di wajah ini sudah 32 tahun lamanya. Saya hidup membujang, karena tak ada perempuan yang mau menikah dengan saya akibat tumor ini," keluhnya.

Kondisi tumor Mistar sudah cukup membesar. Tonjolan besar sudah nyaris menutupi seluruh wajahnya. Pada tahun 2002 dan 2005 lalu, Mistar sudah mencoba berusaha untuk operasi tumor yang dideritanya. "Saat itu, biayanya menggunakan asuransi kesehatan," katanya.

Namun, upaya tersebut belum menyembuhkan tumor yang diderita Mistar. Kondisi tumornya masih saja terus membesar. "Saat ini saya mencoba mau minta surat Jamkesmas. Tapi malah ditolak oleh Dinkes," katanya.

Setiap tiga hari sekali, Mistar harus merasakan rasa sakit di wajahnya. "Setiap tiga hari sekali wajah saya terasa panas dan sakit sekali. Seperti ada yang membakar wajah saya," katanya.

Sebelum mendatangi kantor Dinkes, Mistar mengaku sudah mendatangi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan, milik Pemerintah Kabupaten Malang. "Siapa tahu bisa operasi tumor saya dengan gratis, karena saya warga miskin. Tapi rumah sakit angkat tangan," katanya.

Karena RSUD Kanjuruhan tak bisa menanganinya, Humas RSUD Kanjuruhan Suwarno, mengantar Mistar ke Poliklinik bedah. Namun dokter poliklinik mengaku tak bisa menanganinya. Pihak dokter menyarankan Mistar berobat ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

"Kalau tumornya masih kecil katanya bisa menanganinya. Karena tumor saya sudah besar dokternya tidak siap menangani," kata Mistar.

Agar bisa dioperasi di RSSA Malang, Mistar harus memiliki kartu Jamkesmas dari Pemda Malang. Ia pun mendatangi kantor Dinkes Kabupaten Malang. "Saat ke kantor Dinkes malah saya dicuekin para pegawai yang ada di sana. Pegawai Dinkes mengaku tidak berani mengeluarkan Jamkesmas tanpa sepengetahuan Kepala Dinkes. Ya, saya harus pulang dan menangis meratapi nasib saya ini. Memang susah, mas jadi warga miskin," keluhnya sembari kembali meneteskan air.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Musyidah mengelak dikatakan menolak permohonan Mistar untuk mendapatkan Jamkesmas. "Kami tidak menolak. Kami akan cek dulu lagi di data base. Jika tidak ada, kami akan mengupayakan untuk penambahan penerima Jamkesmas," katanya singkat.

****
Informasi penyaluran bantuan untuk Mistar, hubungi: redaksikcm@kompas.com

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Pj Gubri Ajak Pemkab Bengkalis Kolaborasi Bangun Jembatan Sungai Pakning-Bengkalis

Pj Gubri Ajak Pemkab Bengkalis Kolaborasi Bangun Jembatan Sungai Pakning-Bengkalis

Regional
Diskominfo Kota Tangerang Raih Penghargaan Perangkat Daerah Paling Inovatif se-Provinsi Banten

Diskominfo Kota Tangerang Raih Penghargaan Perangkat Daerah Paling Inovatif se-Provinsi Banten

Regional
Fakta dan Kronologi Bentrokan Warga 2 Desa di Lombok Tengah, 1 Orang Tewas

Fakta dan Kronologi Bentrokan Warga 2 Desa di Lombok Tengah, 1 Orang Tewas

Regional
Komunikasi Politik 'Anti-Mainstream' Komeng yang Uhuyy!

Komunikasi Politik "Anti-Mainstream" Komeng yang Uhuyy!

Regional
Membedah Strategi Komunikasi Multimodal ala Komeng

Membedah Strategi Komunikasi Multimodal ala Komeng

Regional
Kisah Ibu dan Bayinya Terjebak Banjir Bandang Berjam-jam di Demak

Kisah Ibu dan Bayinya Terjebak Banjir Bandang Berjam-jam di Demak

Regional
Warga Kendal Tewas Tertimbun Longsor Saat di Kamar Mandi, Keluarga Sempat Teriaki Korban

Warga Kendal Tewas Tertimbun Longsor Saat di Kamar Mandi, Keluarga Sempat Teriaki Korban

Regional
Balikpapan Catat 317 Kasus HIV Sepanjang 2023

Balikpapan Catat 317 Kasus HIV Sepanjang 2023

Regional
Kasus Kematian akibat DBD di Balikpapan Turun, Vaksinasi Tembus 60 Persen

Kasus Kematian akibat DBD di Balikpapan Turun, Vaksinasi Tembus 60 Persen

Regional
Puan: Seperti Bung Karno, PDI-P Selalu Berjuang Sejahterakan Wong Cilik

Puan: Seperti Bung Karno, PDI-P Selalu Berjuang Sejahterakan Wong Cilik

Regional
Setelah 25 Tahun Konflik Maluku

Setelah 25 Tahun Konflik Maluku

Regional
BMKG: Sumber Gempa Sumedang Belum Teridentifikasi, Warga di Lereng Bukit Diimbau Waspada Longsor

BMKG: Sumber Gempa Sumedang Belum Teridentifikasi, Warga di Lereng Bukit Diimbau Waspada Longsor

Regional
Gempa Sumedang, 53 Rumah Rusak dan 3 Korban Luka Ringan

Gempa Sumedang, 53 Rumah Rusak dan 3 Korban Luka Ringan

Regional
Malam Tahun Baru 2024, Jokowi Jajan Telur Gulung di 'Night Market Ngarsopuro'

Malam Tahun Baru 2024, Jokowi Jajan Telur Gulung di "Night Market Ngarsopuro"

Regional
Sekolah di Malaysia, Pelajar di Perbatasan Indonesia Berangkat Sebelum Matahari Terbit Tiap Hari

Sekolah di Malaysia, Pelajar di Perbatasan Indonesia Berangkat Sebelum Matahari Terbit Tiap Hari

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com