Rabu, 26 November 2014

News / Regional

Pemkab Jember Diminta Batasi Impor Kedelai

Rabu, 2 Oktober 2013 | 19:20 WIB
KOMPAS.com/ Ahmad Winarno Petani Kedelai di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari, Jember, Jawa Timur, sedang melihat tanaman kedelai mereka, Rabu (2/10/13)

JEMBER, KOMPAS.com — Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, diminta untuk membatasi jumlah impor kedelai yang masuk ke Jember. "Sesuai kesepakatan rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jember, pemkab harus membatasi jumlah kedelai yang masuk ke Jember," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember Achmad Bunyamin, Rabu (2/10/2013).

Menurut dia, data di Dinas Pertanian Jember dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa produktivitas kedelai di Jember selalu surplus. "Tahun ini saja diperkirakan produksi kedelai di Jember mencapai 27.732 ton dengan perkiraan loses sekitar 1.964 ton, sedangkan untuk kebutuhan konsumsinya mencapai 25.473 ton. Itu artinya kedelai kita surplus sekitar 294,47 ton," ungkap dia.

Namun, lanjut Bunyamin, ada pekerjaan besar yang harus segera dituntaskan, yakni kedelai lokal belum memiliki daya saing terhadap kedelai impor. "Perajin tahu dan tempe belum mau menggunakan kedelai lokal, padahal rasanya lebih gurih," ia menambahkan.

Achmad Bunyamin menegaskan, untuk itulah TPID akan memberikan pendampingan kepada petani kedelai Jember agar kualitasnya meningkat. "Kita akan kawal dari mulai penggarapan lahan hingga pascapanennya," sambung Bunyamin.

Sementara itu, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemkab Jember, Slamet Urip Santoso, mengaku siap untuk menjalankan rekomendasi TPID itu. "Faktanya, ketersediaan kedelai di Jember surplus. Jadi impor itu harus dibatasi," ucap dia.

Hanya, Santoso berharap agar pendampingan terhadap petani kedelai benar- benar direalisasikan. "Ini penting agar kedelai kita mampu memiliki daya saing dengan kedelai impor," katanya.

Penulis: Kontributor Jember, Ahmad Winarno
Editor : Kistyarini