Jumat, 25 April 2014

News / Regional

Terkait Rusuh Puger, DPRD Jember Minta Semua Pihak Duduk Bersama

Kamis, 12 September 2013 | 04:43 WIB
KOMPAS.com/ Ahmad Winarno Tampak pecahan kaca Masjid Ponpes Darus Sholihin Desa Puger Kulon Kecamatan Puger Jember Jawa Timur, masih berserakan usai dirusak massa, Rabu (11/9/13)
JEMBER, KOMPAS.com — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jember meminta semua pihak yang terlibat dalam kerusuhan di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Jember, Jawa Timur, duduk bersama untuk membahas akar persoalan rusuh yang terjadi pada Rabu (11/9/2013).

"Tentu kami prihatin atas kejadian ini, apalagi sudah ada korban jiwa," kata Wakil Ketua DPRD Jember, Miftahul Ulum, yang datang ke lokasi kejadian, Rabu. Peristiwa ini, menurut dia, harus menjadi pelajaran bersama bagi semua pihak agar tak terulang lagi.

Ulum mengaku akan mengundang semua pihak terkait, seperti kepolisian, kejaksaan, Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), serta dua pimpinan kelompok yang bersengketa di Puger.

"Semuanya sangat memungkinkan karena kami sebelumnya sudah pernah duduk bersama terkait konflik di Puger ini, dan hasilnya saat itu sangat baik," imbuh Ulum. Dia pun meminta semua tokoh warga untuk mengimbau masyarakat tidak beraksi sendiri. Dia khawatir ada pihak lain yang memanfaatkan situasi dan memperkeruh suasana.

Diberitakan sebelumnya, satu orang ditemukan tewas menyusul kerusuhan di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu. Korban tewas bernama Eko Mardi (45), warga Desa Puger. Selain korban tewas, dua orang juga luka parah dan masih dirawat di puskesmas.

Informasi yang dihimpun Kompas.com, bentrokan berawal dari perayaan karnaval untuk memperingati 17 Agustus oleh simpatisan Ponpes Darus Sholihin pimpinan Habib Ali di Desa Puger Kulon. Saat ponpes dalam keadaan sepi ditinggal karnaval, tiba-tiba sekelompok massa lain yang menentang karnaval menyerang ponpes dan merusak sejumlah fasilitas.

Dalam serangan itu masjid dan fasilitas lain ponpes, termasuk 41 sepeda motor, dirusak massa. Eko ditemukan tewas di pantai, tak jauh dari lokasi ponpes.

Ketua panitia karnaval, Habib Isa, menyayangkan perusakan itu. Dia mempertanyakan polisi yang tidak bisa meredam kejadian tersebut. Dia meminta polisi untuk mengusut kasus tersebut.

Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan. Untuk mencegah kerusuhan susulan, personel Brimob didatangkan dari Polda Jatim untuk menjaga ketat lokasi bentrokan.

Penulis: Kontributor Jember, Ahmad Winarno
Editor : Palupi Annisa Auliani