Jumat, 19 Desember 2014

News / Regional

Harga Kedelai Tinggi, Tempe di Angkringan Masih Rp 500

Selasa, 27 Agustus 2013 | 22:57 WIB
KOMPAS.com/wijaya kusuma Angkringan Ramto, di Jln Moses Gatot Kaca Mrican Caturtunggal Depok Sleman

YOGYAKARTA, KOMPAS.com
 — Para penggemar angkringan maupun wisatawan yang datang ke Yogyakarta tak perlu risau. Meski kedelai saat ini langka dan harganya cukup tinggi, para pemilik angkringan di DIY tidak menaikkan harga tempe goreng dan tahu goreng. Pemilik angkringan tidak menaikkan harga tempe dan tahu karena takut ditinggalkan pengemar kuliner angkringan.

"Harga tempe dan tahu goreng tetap sama Rp 500," ujar Ramto (43), salah satu penjual angkringan, di Jalan Moses Gatot Kaca, Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman, Selasa (27/8/2013).

Meski bahan baku tempe dan tahu mengalami kenaikan, menurutnya, hal itu belum berimbas pada kenaikan harga jual tahu dan tempe. Ketakutan konsumen akan semakin kecilnya ukuran tempe dan tahu juga tidak terjadi sebab sampai saat ini masih sama.

"Pasti konsumen mengeluh jika tempe dan tahu yang pada dasarnya adalah makanan murah berubah menjadi mahal," katanya.

Menurut Ramto, tempe dan tahu adalah salah satu ikon angkringan selain tiga ceret yang berada di atas tungku. Biasanya tempe dan tahu menjadi lauk saat makan "nasi kucing". Para penggemar angkringan juga sering meminta tempe goreng dibakar sebagai selingan minum kopi, teh, air jeruk, maupun air jahe.

Sebagai pedagang angkringan, Ramto berharap agar kelangkaan dan melonjaknya harga kedelai bisa segera teratasi sehingga ia dan teman-teman penjual angkringan tidak harus menaikkan harga tempe dan tahu.

Sementara itu, Bangun Kristianto (25), salah satu mahasiswa Modern School Design (MSD) Yogyakarta, mengatakan bahwa tempe dan tahu selama ini banyak diminati oleh masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah. Selain harganya murah, makanan ini bergizi.

Menurutnya, sangat ironis ketika kedelai sebagai bahan baku tempe dan tahu harus mengalami kelangkaan dan kenaikan harga. "Imbasnya tentu akan ke daya beli masyarakat. Mau makan tempe saja kok susah," pungkasnya.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma
Editor : Farid Assifa