Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kasus Sisca Mirip Kasus Pembunuhan di Era Orde Baru

Kompas.com - 22/08/2013, 09:54 WIB
Kontributor Bandung, Putra Prima Perdana

Penulis

BANDUNG, KOMPAS.com — Kriminolog dari Universitas Padjadjaran, Yesmil Anwar, mengatakan, kasus pembunuhan Sisca Yofie di Cipedes, Bandung, beberapa waktu lalu, mirip dengan kasus-kasus pelenyapan nyawa yang terjadi pada rezim orde baru.

Yesmil pun menyandingkan kasus pembunuhan yang terbilang sadis ini dengan pembunuhan peragawati berparas cantik pada era 80-an, yaitu Dietje Budimulyono.

"Ada zaman orde baru dulu. Banyak yang mirip-mirip, seperti pembunuhan peragawati yang dikaitkan dengan... (menyebut nama keluarga pejabat di era itu-red)," kata Yesmil di Bandung, Kamis (22/8/2013).

Dietje, yang merupakan peragawati berparas elok pada zamannya, tewas setelah ditembak di bagian kepala saat mengendarai mobilnya. Mayatnya pun dibuang di sebuah kebun di suatu tempat di Kota Jakarta.

Diduga, pembunuhan tersebut dilakukan karena faktor cemburu dari salah satu anggota keluarga penguasa saat itu.

Sementara itu, salah seorang guru spiritual Dietje bernama Pakde, atau dikenal juga sebagai Muhammad Siradjudin, dikambinghitamkan. Ia diputuskan bersalah meski telah menghadirkan saksi yang meringankan di pengadilan.

Pak De kemudian dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Hingga saat ini, belum terungkap siapa aktor intelektual dari pembunuhan itu. Keganjilan serupa pada kasus Sisca dari kacamata Yesmil timbul ketika publik tidak percaya jika kasus tersebut dinyatakan murni sebagai tindak pidana penjambretan.

Pasalnya, beberapa keanehan, baik dari pengakuan pelaku pembunuhan, kronologi kematian Sisca, pengakuan saksi mata dari polisi maupun media massa, hingga keterlibatan Komisaris Albertus Eko, seolah tidak sinkron.

"Hukum pidana itu mengatakan siapa yang melakukan sebenarnya. Kalau tersangka menyerahkan diri dan segala macam keterangannya, apakah bisa diterima begitu saja? Polisi perlu mencari hubungan antara pengakuan, kesaksian forensik, dan olah TKP," bebernya.

Dalam kasus ini, Yesmil menaruh kemungkinan adanya faktor kecemburuan dari Komisaris Albertus sehingga kasus Sisca menjadi mirip dengan kasus pembunuhan peragawati Dietje. "Motif kejahatan ada tiga yang paling utama melatar belakanginya yaitu, hubungan sosial seperti percintaan, kecemburuan, kesenjangan sosial, dan lain-lain. Kemudian, ada faktor kehormatan dan kekuasan dan yang ketiga adalah faktor harta benda," kata Yesmil.

"Nah, dalam kasus Sisca ini apakah menyangkut ketiganya atau sebagian seperti harta benda saja. Tapi, kalau penjambretan, kenapa handphone-nya dibuang?" sambung Yesmil.

Sementara itu, yang berbeda antara kedua kasus tersebut adalah pengakuan tersangka, di mana pada kasus pembunuhan Sisca ternyata pelaku memang mengakui perbuatannya menjambret yang berujung pembunuhan.

Hal tersebut bertolak belakang dengan kasus pembunuhan peragawati Dietje. Pak De sendiri menyangkal perbuatannya membunuh Dietje meski akhirnya tetap dijebloskan ke dalam bui.

"Tapi, jangan langsung didorong pada suatu kesimpulan. Kalau di kedokteran ada metode diferensial diagnosis. Kalau mendiagnosis gejala seperti batuk penyakitnya bisa macam-macam dan obatnya pun bisa macam-macam. Polisi sama seperti dokter, harus melakukan diferensial diagnosis," tuturnya.

Seyogianya, kata Yesmil, pihak kepolisian tetap membuka pintu untuk kemungkinan-kemungkinan adanya motif pembunuhan berencana tanpa mengesampingkan asas "equality before the law" atau semua orang sama di hadapan hukum tanpa membedakan status dan jabatan.

"Kalau berencana apakah berencana dengan oknum polisi atau sendiri? Ini harus ditegaskan betul-betul. Jangan secepat kilat diadakan sidang kode etik. Kalaupun ada (sidang kode etik) tidak perlu diumumkan karena itu urusan internal," jelasnya.

"Sidang kode etik itu kesannya ingin mereduksi keterlibatan polisi atau sekadar menyelamatkan muka lembaga," tegasnya lagi.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com