Selasa, 2 September 2014

News / Regional

Petani Dieng Masih Kesulitan Beralih dari Kentang

Minggu, 9 Juni 2013 | 05:16 WIB

BANJARNEGARA, KOMPAS.com -  Kentang yang di tahun-tahun awalnya merambah dataran tinggi Dieng, memang menjanjikan kesejahteraan bagi petani.

Bagaimana tidak, cukup bercocok tanam selama tiga bulan, maka modal tanam sebesar Rp 20-an juta, bisa menghasilkan uang antara Rp 50 hingga 70 juta untuk tiap hektarnya. Sehingga bisa dihitung penghasilan para petani Dieng dalam satu tahun.

Namun, masa kejayaan kentang sudah lewat. Kini, seorang petani sudah merasa beruntung bisa balik modal usai masa panen. Tak jarang mereka menanggung rugi karena hasil panen tak sepadan dengan modal yang sudah dikeluarkan.

Pengalaman bangkrut menanam kentang pernah dirasakan Isnurhadi (39), petani Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Saat ditemui Kompas.com di ladangnya, Isnurhadi mengatakan dia sudah berhenti menanam kentang pada 1997. 

“Saya bangkrut. Di masa-masa awal dari lahan dua hektare saya bisa menghasilkan 10 ton kentang. Namun, belakangan susut terus hingga paling banter hanya menghasilkan dua ton saja,” kata Isnurhadi. 

Setelah kentang membuatnya bangkrut, Isnurhadi kemudian banting setir dan memilih menanam kacang tanah dan cabai di lahan miliknya.

Kerap merugi saat panen kentang juga dialami Kusman (33), petani asal desa Sembungan, Wonosobo. Namun, Kusman masih terus mencoba peruntungannya bersama kentang. 

“Sekarang bisa untung sedikit saja sudah bagus. Tak jarang saya merugi karena modal semakin besar, terutama untuk biaya pupuk dan pestisida,” ujar Kusman. 

Kerap merugi, lanjut Kusman, tak jarang petani harus berutang modal pada bank yang biasanya akan dibayar pada saat panen tiba.

“Akhirnya petani paling-paling hanya bisa impas saja,” keluh Kusman.

Profesi Ganda

Sayangnya, mengganti kentang yang sudah digeluti berpuluh tahun dengan tanaman lain bukan perkara mudah. Untuk menyiasati kondisi ini, sebagian besar petani kentang Dieng kini memiliki profesi ganda, misalnya berdagang.

Kusman, adalah salah satu petani kentang yang harus memiliki profesi ganda demi mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

Dia sehari-hari menjual mie rebus dan minuman hangat di puncak Bukit Sikunir yang menjadi tempat para wisatawan melihat matahari terbit di Dieng. Kusman setiap hari berangkat pagi buta membawa tas ransel berisi barang dagangannya mendaki bukit setinggi sekitar 500 meter itu.

“Saya berdagang paling sampai sekitar pukul 08.00, lalu sesudahnya saya kembali menanam kentang,” papar Kusman.

Memang, lanjut Kusman, pendapatan dari berdagang sama tidak menentunya dengan menanam kentang. Pendapatan Kusman dari berdagang baru terasa cukup besar saat akhir pekan atau di hari-hari libur saat puncak Sikunir dipadati pengunjung.

Profesi ganda juga dijalani Nuryadi yang mengelola salah satu penginapan di Dieng Kulon. Bapak tiga anak ini mengelola home stay sederhana dengan empat kamar ini sejak 2004 lalu. Namun, dia mengaku belum bisa menggantungkan hidupnya dari mengelola penginapan itu.

“Saya masih bertani kentang juga. Sebab, penghasilan dari home stay ini juga belum mencukupi. Tapi kini 60 persen pendapatan sudah bisa dipenuhi dari home stay,” kata pria asli Dieng itu.

Terus merosotnya kondisi para petani Dieng ini disadari sepenuhnya Pemerintah Kabupaten Banjarnegara. Namun, hingga kini pemerintah belum berhasil menemukan cara untuk mengganti kentang dengan tanaman produksi lain yang lebih ramah lingkungan.

“Kentang selain menyebabkan kondisi lahan kritis, juga mengandung pestisida yang sangat tinggi. Petani Dieng sudah berlebihan memberi pestisida untuk tanamannya," kata Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno.

Sayangnya, lanjut Hadi, sejauh ini belum ada tanaman pengganti kentang yang nilai ekonomisnya menyamai kentang.

“Jika ada tanaman pengganti kentang yang nilai ekonomisnya sama, saya rasa petani tidak sulit diajak mengganti tanamannya,” ujar Hadi.

Hadi menambahkan, sektor pariwisata yang juga terus menggeliat di Dieng diharapkan bisa menjadi sumber pendapatan utama warga Dieng di masa depan.

“Pariwisata prospeknya cerah. Contohnya, di Dieng Kulon, pada 2004 baru ada empat home stay. Tapi sekarang di Dieng Kulon saja sudah ada 36 home stay, belum di tempat-tempat lain,” Hadi menegaskan. (bersambung)

 

 

 

 

 


Penulis: Ervan Hardoko
Editor : Ervan Hardoko