Minggu, 23 November 2014

News / Regional

Gua Tengkorak Kuburan Kedua Bangsawan Mekongga

Senin, 27 Mei 2013 | 17:21 WIB

Terkait

KOLAKA, KOMPAS.com — Tim peneliti yang terdiri dari Balai Pelestarian Cagar Budaya dan Universitas Hasanuddin Makassar terus mengembangkan penelitian terhadap keberadaan ribuan tengkorak manusia di Gua Mekongga di Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara.

Asmunandar, arkeolog asal Universitas Negeri Makassar, menyatakan, tengkorak-tengkorak yang ada di dalam gua tersebut adalah saudagar/bangsawan atau kalangan orang berada dari suku Mekongga pada abad ke-14 silam, atau bisa juga keturunan dari para bangsawan tersebut. Asumsi ini bisa dikaitkan dengan temuan soronga (peti mati) dan benda-benda mewah pada zaman tersebut.

"Kita mencoba mengaitkan kenapa banyak guci/keramik, manik-manik, dan uang logam dalam gua yang berisikan tengkorak manusia. Belum lagi adanya soronga yang warga lokal menyebutnya peti mati. Ternyata, gua itu dulunya adalah kuburan kedua bagi para kaum bangsawan atau keturunannya (suku Mekongga, red). Peti mati bermotif itu ternyata ada maknanya dan sebagai tanda derajat sosial tengkorak yang ada di dalamnya," jelas Asmunandar kepada Kompas.com.

"Kenapa dikatakan sebagai kuburan kedua bagi para bangsawan? Karena pada abad ke-14, Islam belum masuk di Sulawesi dan belum mengenal istilah penguburan yang ditanam. Khusus pribumi, di tempat ini, kalau ada orang meninggal, itu prosesinya seperti dikeringkan dan airnya ditadah pakai guci/keramik. Setelah jadi tulang, barulah dimasukkan ke soronga bersamaan barang-barang mewah miliknya. Penguburan kedua mereka di gua itu," lanjutnya.

Keterangan dari arkeolog tersebut diperkuat oleh Muhammad Natsir dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar. Menurutnya, informasi dari para suku Mekongga saat ini memang dahulu nenek moyang mereka kalau meninggal seperti itu.

"Istilah penguburan kedua itu tengkorak yang dibawa ke gua untuk disemayamkan selama-lamanya. Kalau seperti Hindu (jenazah, red) kan dibakar dan abunya dibuang ke laut atau sungai. Begitu ceritanya," kata Natsir.

Salah seorang warga sekitar gua, Hj Muna, mengaku dirinya asli suku Mekongga. Saat masih kecil, Muna sering diceritakan masalah sejarah suku Mekongga, termasuk proses upacara kalau ada orang kaya yang meninggal.

"Kalau sudah mau menuju penguburan kedua pakai soronga itu, barang-barang mewahnya dimasukkan ke peti," jelas Muna.

Keberadaan gua tengkorak ini terkuak oleh tim Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013 Subkorwil IX/Kolaka. Sejarah suku Mekongga yang merupakan suku asli Kolaka dan Kolaka Utara kini mulai terungkap.


Penulis: Kontributor Kolaka, Suparman Sultan
Editor : Farid Assifa