Jumat, 1 Agustus 2014

News /

Mesin Partai Berjalan Efektif

Senin, 27 Mei 2013 | 03:43 WIB

SEMARANG, KOMPAS - Pasangan Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko unggul dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2013-2018, Minggu (26/5). Hasil penghitungan cepat dari beberapa lembaga survei menunjukkan calon yang hanya didukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu meraih lebih dari 48 persen suara.

Hitungan sementara yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng, Minggu petang, menunjukkan pasangan Ganjar-Heru meraih 48,25 persen atau 4.636.195 suara dari 9.608.019 suara sah yang telah masuk.

Raihan itu jauh di atas raihan pasangan petahana Bibit Waluyo–Sudijono Sastroatmodjo yang diusung Partai Demokrat, Partai Golkar, dan Partai Amanat Nasional (PAN). Bibit, yang saat ini masih menjabat Gubernur Jateng, dan Sudijono, meraih sekitar 30,59 persen (2.938.909 suara). Pasangan Hadi Prabowo– Don Murdono yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) meraih 21,16 persen atau 2.032.910 suara.

”Penghitungan sementara itu bukan hasil akhir Pilkada Jateng tahun 2013. KPU akan mengumumkan hasil terakhir penghitungan suara secara resmi pada 4 Juni,” kata Ketua KPU Jateng Fajar Subhi AK Arif di Kota Semarang, kemarin.

Penghitungan cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei, seperti Lingkaran Survei Indonesia, Jaringan Survei Indonesia, Lingkaran Survei Kebijakan Publik, dan Saiful Mujani Research and Consulting juga menunjukkan hasil yang relatif sama. Pasangan Ganjar-Heru meraih dukungan suara di atas 48 persen. Pasangan Bibit-Sudijono meraih dukungan sekitar 31 persen, dan pasangan Hadi-Don didukung lebih dari 20 persen pemilih.

PDI-P solid

Saiful Mujani Research and Consulting mengambil sampel di 300 tempat pemungutan suara (TPS) di Jateng, dan menemukan pasangan Ganjar-Heru unggul, karena massa PDI-P sangat solid mendukungnya, hingga mencapai 72 persen. Keunggulan calon yang didukung PDI-P itu mengulang kemenangan pada Pilkada Jateng tahun 2008, saat PDI-P mengusung pasangan Bibit Waluyo-Rustriningsih. Saat itu pasangan ini meraih dukungan sebesar 43,44 persen.

Menurut pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Semarang, Budi Setyono, kemenangan Ganjar-Heru didukung soliditas infrastruktur partai, yang lebih kuat dibanding partai pengusung pasangan lain yang merupakan koalisi, serta ada soliditas program yang ditawarkan Ganjar-Heru.

Di Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Ganjar mengakui, keunggulannya ditentukan beberapa, tetapi yang utama, kekuatan partai yang solid dan bekerja efektif. Selain itu, pencitraan personal, masyarakat yang menginginkan perubahan, dan dukungan relawan. Beberapa hari menjelang pemungutan suara, Ganjar pun menerima banjir dukungan dari berbagai kelompok masyarakat.

”Ada gerakan rakyat. Partai politik bergerak, relawan bergerak, dan masyarakat bergerak. Ada kehendak perubahan yang luar biasa,” kata Ganjar.

Di Kota Semarang, Bibit pun mengikuti hasil penghitungan cepat dari rumah dinas gubernur. Ketika menyaksikan Ganjar-Heru meraih dukungan suara terbesar, dia menyatakan hasil itu luar biasa. ”Hasil hitung cepat itu menggambarkan situasi yang sesungguhnya. Rakyat sudah memilih. Itu riil, dan saya tidak ada masalah apa-apa,” ujarnya.

Menurut Bibit, hasil itu menunjukkan keinginan rakyat Jateng akan perubahan. ”Selamat untuk Pak Ganjar. Monggo. Insya Allah nanti bisa memimpin Jateng dengan baik,” katanya.

Hadi Prabowo juga tetap tegar di tengah pendukungnya. Ia menuturkan, ”Saya legowo menerima hasil hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei, sembari menunggu hasil resmi dari KPU Jateng. Hasil hitung cepat hanya berbeda tipis.”

Dari tiga pasangan calon yang maju dalam Pilkada Jateng, Ganjar dan Don Murdono tak menggunakan hak pilihnya. Keduanya tercatat bukan sebagai penduduk Jateng.

Di Kabupaten Kebumen, Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih, yang saat ini menjabat Pelaksana Harian Gubernur Jateng, menggunakan hak suaranya di TPS 5 Kelurahan Bumirejo, Kecamatan Kebumen.

Rustriningsih, yang juga kader PDI-P, tetapi tak mendapatkan rekomendasi partai untuk mengikuti Pilkada Jateng 2013, mendatangi TPS didampingi suaminya, Sony Achmad Saleh Noorjatno, dan kakaknya, Rusminingsih.

Antusiasme rendah

Antusiasme warga untuk memakai hak pilih dalam Pilkada Jateng 2013 dinilai rendah. Dari pengamatan Kompas di berbagai daerah, banyak TPS yang sepi.

Menurut data KPU Jateng, pemilih Jateng sebanyak 27.385.985 orang. Mereka menggunakan hak pilih di 61.951 TPS yang tersebar di 35 kabupaten/kota. Namun, hingga Minggu sore, jumlah suara sah yang masuk baru sebanyak 9.608.019.

Anggota KPU Kota Tegal, Agus Wijanarko, mengatakan, dari pemantauan sementara, angka partisipasi pemilih di Kota Tegal hanya sekitar 51 persen. Dia tidak mengetahui penyebab rendahnya angka partisipasi warga itu. Pada Pilkada Jateng 2008, angka partisipasi pemilih mencapai lebih dari 70 persen.

Pastika-Sudikerta

Dari Denpasar, Bali, Minggu dilaporkan, KPU Bali menetapkan pasangan Made Mangku Pastika-I Ketut Sudikerta sebagai Gubernur/Wakil Gubernur Bali terpilih. Pastika-Sudikerta memperoleh 50,02 persen dari 2,126 juta suara pemilih dalam Pilkada Bali 2013.

Kemenangan Pastika-Sudikerta itu dibacakan Ketua KPU Bali I Ketut Sukawati Lanang Putra Perbawa dalam rapat pleno terbuka di KPU Bali. Sebelum menetapkan pasangan terpilih, KPU Bali terlebih dahulu menetapkan hasil rekapitulasi penghitungan suara Pilkada Bali 2013 tingkat provinsi di Denpasar.

Pasangan Pastika–Sudikerta, yang diusung koalisi partai, meraih suara lebih banyak dibandingkan pasangan Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga–Dewa Nyoman Sukrawan yang diusung PDI-P. Puspayoga-Sukrawan memperoleh 1.062.738 suara, atau setara 49,98 persen.

Rapat pleno di KPU Bali berlangsung alot dan diwarnai protes dan interupsi, terutama dari saksi pasangan Puspayoga-Sukrawan.(UTI/HEN/RWN/GRE/EKI/WIE/WEN/WHO/SON/COK)


Editor :