Kamis, 30 Oktober 2014

News / Regional

Pertemuan

4-8 Juni, Kekuatan Mantra Bertemu di Jambi

Selasa, 21 Mei 2013 | 16:48 WIB

JAMBI, KOMPAS.com — Pada 4-8 Juni, kekuatan mantra dari daerah-daerah di negara ini akan dipertemukan di Kota Jambi. Namun, pertemuan ini bukan untuk mencari tahu mantra mana yang paling dasyat. Seluruh kekuatan mantra ini akan saling mewarnai di perhelatan Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia Tahun 2013 di Kota Jambi.

Kekuatan mantra yang selama ini digunakan dalam ritual adat dan kehidupan sehari-hari akan diangkat dalam seni pertunjukan budaya tradisi dan modern.

Kepala Taman Budaya Jambi, Sri Purnama Syam, mencontohkan, seniman yang berkumpul nanti akan mengolaborasikan mantra-mantra ke dalam seni. Misalnya saja, ada 6 seniman dari Jambi, Bandung, dan Bali menggarap karya instalasi berkekuatan mantra. Mereka di antaranya perupa Jafar Rasuh, Sumardi DS, Nur Abdullah, Azhar MZ, Hari Dim, Fauzie, dan Semi.

Selanjutnya, seniman se-Sumatera akan menggabungkan seluruh alat musik khas di tiap daerah, lalu diramu dalam satu pertunjukan. "Pertunjukan musik ini juga menonjolkan kekuatan mantra," kata Sri, Selasa (21/5/2013).

Sri memaparkan, peserta temu karya sebanyak 28 kontingen, terdiri atas 25 taman budaya di wilayah Sumatera, Jawa, Papua, dan Sulawesi, serta 4 kelompok seni tradisi yang mewakili dinas kebudayaan di daerah lainnya yang belum memiliki taman budaya.

Jambi selaku tuan rumah akan menampilkan Lukah Gilo, yang merupakan ritual tradisi asli Kabupaten Muaro Jambi dan Sarolangun. Lukah Gilo merupakan ritual menangkap belut menggunakan wadah sejenis bambu yang disebut lukah. Dalam atraksi, lukah bergerak tak beraturan setelah diberi mantra, dan akan tampak seperti kesetanan. Namun, pada pertunjukan nanti, mantra dipadukan dengan seni tari.

Temu karya akan dibuka Gubernur Jambi Hasan Basri Agus di Taman Budaya Jambi, Kota Jambi. Selain pentas budaya, pameran instalasi, dan melukis massal, panitia juga menyelenggarakan workshop melukis dan dialog seni rupa.

 

 


Penulis: Irma Tambunan
Editor : Agus Mulyadi