Jumat, 28 November 2014

News / Regional

Kebutuhan Pokok

Warga Kaget, Harga Ayam Meroket

Minggu, 12 Mei 2013 | 11:36 WIB

SAMPIT, KOMPAS.com - Pembeli di Pasar Keramat Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dibuat kaget oleh meroketnya harga ayam potong yang menjadi Rp 30.000 per kilogram atau naik Rp 5.000 hanya dalam sepekan.

"Astaga, naiknya tinggi sekali. Minggu lalu saya masih membeli dengan harga Rp 25.000 per kilogram, sekarang sudah menjadi Rp 30.000. Belum bulan puasa harganya sudah seperti ini, bagaimana kalau bulan puasa nanti? Bisa lebih tinggi lagi," kata  Nisa, salah seorang pembeli, Minggu (12/5/2013).

Di pasar itu, harga ayam potong dijual antara Rp 29.000 hingga Rp 30.000 per kilogram. Harga lebih murah sebenarnya bisa didapat di Pasar Ikan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) atau di Pasar Mangkikit alias Pasar Subuh.

Namun untuk berbelanja di dua pasar itu warga harus datang lebih pagi, karena stok cepat habis. Pembeli yang datang biasanya berasal dari berbagai kawasan, untuk dijual lagi di daerah masing-masing.

Sejumlah pedagang di Pasar Keramat mengatakan, mereka terpaksa menaikkan harga jual karena kenaikan harga sudah terjadi di tingkat agen. Otomatis jika ingin tetap mendapatkan untung, mereka harus menyesuaikan harga dengan menaikkannya sedikit.

"Di agen sudah naik. Ini juga rebutan membelinya. Ayam sedikit sehingga harganya naik. Tadi banyak juga yang tidak jadi membeli, karena mendengar harganya naik," kata Siah, salah seorang penjual ayam.

Sejumlah daerah di Kalimantan Tengah, termasuk Kabupaten Kotawaringin Timur, masih mengandalkan pasokan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan ayam potong. Sebagian besar pasokan ayam berasal dari Kalimantan Selatan, karena peternak lokal belum mampu memenuhi semua permintaan.

Pedagang beralasan tetap mendatangkan ayam dari Kalimantan Selatan, karena bisa membeli dalam jumlah besar. Selain itu, harga ayam di provinsi tetangga itu lebih murah dibandingkan di peternakan lokal.

Hal itu diduga disebabkan oleh biaya produksi tinggi karena peternak lokal masih harus mendatangkan bibit dan pakan ayam dari luar daerah.

Ketergantungan pasokan dari luar daerah ini akhirnya berdampak pada cepatnya fluktuasi harga di pasaran. Jika pasokan tersendat sehingga stok ayam di pasaran berkurang, biasanya harga dengan cepat akan naik tajam. Apalagi jika permintaan mengalami peningkatan tajam, saat perayaan hari-hari besar keagamaan seperti bulan puasa, Lebaran, dan Natal.

"Kalau harga tinggi seperti sekarang, kami pedagang juga kurang diuntungkan karena daya beli masyarakat menjadi menurun," kata Siah.

"Kami menaikkan harga itu karena harga beli juga sudah naik, bukan berarti kenaikan itu karena kami ingin untuk banyak. Mudah-mudahan saja harga cepat stabil, sehingga daya beli masyarakat kembali meningkat," tambah Siah.

 


Editor : Agus Mulyadi
Sumber: