Jumat, 22 Agustus 2014

News / Regional

Mengapa Suku Polahi Terus Hidup Nomaden?

Jumat, 10 Mei 2013 | 07:14 WIB

Terkait

GORONTALO, KOMPAS.com — Ada kegalauan yang terbesit di wajah Babuta, ketika ditanyai tentang apa yang akan dia lakukan dengan keluarganya kelak. Babuta kini dipercaya sebagai penerus kepemimpinan keluarga, setelah ayahnya, Baba Manio, yang selama ini dianggap sebagai Kepala Suku meninggal dunia sebulan lalu.

"Saya sekarang sudah sering turun ke kampung, menjual hasil hutan dan kebun untuk cari uang," ujar Babuta di rumah mereka di Hutan Humohulo, Pengunungan Boliyohuto, yang masuk dalam wilayah Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, minggu lalu.

Rumah yang ditinggali oleh Babuta bersama keluarganya sudah terbuat dari papan hasil sisa perambah hutan dan atapnya terbuat dari daun kelapa dan daun rumbia. Walau masih terlihat sangat sederhana, tapi rumah itu sudah lebih baik dari tempat tinggal Polahi sebelumnya. "Dulu tetua kami hanya tinggal di gubuk yang dibuat di bawah pohon besar. Cuma dari ranting dan daun rumbia, alasnya dari kulit pohon," jelas Babuta.

Tempat tinggal seadanya tersebut membuat Polahi harus hidup berpindah-pindah. Mereka menyesuaikan dengan kondisi dan cuaca. "Hidup Polahi dulunya nomaden, mereka terus berpindah dengan mencari lahan yang bisa digarap," kata Rosyid Asrar, seorang fotografer yang meminati kehidupan Polahi.

Keberadaan perambah hutan membuat Polahi mengenal papan sehingga rumah yang mereka tinggali sekarang sudah lebih baik. Namun, salah satu kepercayaan yang dipegang oleh orang Polahi hingga sekarang, menbuat rumah mereka siap ditinggalkan kapan saja. "Kami baru saja pindah di sini, dulu tempat tinggal kami di bawah sana," ujar Babuta sambil menunjuk ke salah satu daerah datar yang dulunya mereka tempati.

Kematian ayahnya yang sekaligus Kepala Suku, Baba Manio, membuat keluarga Polahi harus berpindah mencari tempat yang baru. "Kalau ada yang meninggal, kami keluarga yang ada di situ harus pindah semua, cari tempat baru," jelas Babuta.

Alhasil, dengan kematian Baba Manio, kini mereka terpencar-pencar lagi. Masing-masing mencari tempat tinggal baru. Pastinya tempat tinggal baru tersebut harus ada lahan yang bisa ditanami dan harus dekat dengan sumber air.

Kini Babuta bersama istri dan anak-anaknya serta ibunya, Mama Tanio, tinggal di satu rumah. Sementara itu, anak Baba Manio yang satunya lagi, Laiya, bersama istri dan anak-anaknya tinggal di rumah yang terpisah agak jauh. Di rumah itu pula tinggal keluarga Polahi lainnya yang merupakan adik dari Mama Tanio.

"Dari data yang ada, di Hutan Humohulo ini sendiri ada 11 keluarga Polahi. Mereka tersebar di beberapa lokasi yang sulit dijangkau," ujar Udin Mole, Kepala Dusun Pilomohuta, Desa Bina Jaya, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, yang secara administrasi membawahi para Polahi tersebut.

Kegalauan Babuta tersebut disebabkan karena keluarganya, terutama Mama Tanio, masih mempertahankan kebiasaan berpindah tersebut dan hidup terus di dalam hutan. Pemerintah sebelumnya pernah membangun lokasi permukiman bagi Polahi. "Ada sembilan rumah layak huni (Mahayani) yang dibangun di Desa Binajaya untuk ke-11 keluarga Polahi tersebut. Tetapi hanya beberapa saat saja mereka tinggali, sesudah itu mereka kembali masuk hutan," jelas Udin.

Mama Tanio menjelaskan, bukannya mereka tidak mau tinggal di lokasi yang lebih layak, tetapi sejak dari awal mereka telah hidup di hutan. Mereka percaya hutan dan alam dapat memberi mereka makan. "Di Mahayani panas, kami tidak tahan. Tidak ada kebun, kami tidak bisa hidup di situ, jadi kami kembali ke sini, di hutan ini," jelas Mama Tanio dengan mantap.

Babuta sendiri tidak menyangkal, dirinya khawatir akan pindah ke mana lagi jika ada anggota keluarganya yang meninggal sementara tempat mereka sekarang saja sudah sangat jauh dari perkampungan.

Kehidupan semi nomaden yang masih terus dipertahankan oleh suku Polahi tersebut membuat mereka hingga kini masih saja termarginalkan. Jangan ditanya bagaimana mereka mengenal dunia luar, untuk urusan agama dan pendidikan saja hampir mustahil mereka rasakan. "Kalau ada yang sakit, ya kami cari obat-obat dari hutan. Kalau sudah tidak bisa diobati baru kami bawa turun ke kampung, seperti Baba dulu," kata Babuta.


Penulis: Kontributor Manado, Ronny Adolof Buol
Editor : Glori K. Wadrianto