Selasa, 23 September 2014

News / Regional

Wilayah Perbatasan

Sebatik Pasarkan Kelapa Sawit ke Malaysia

Minggu, 28 April 2013 | 19:11 WIB

NUNUKAN, KOMPAS.com - Sekitar 800 ton buah tandan segar (BTS) kelapa sawit milik sejumlah petani di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), dipasarkan ke Malaysia.

"Produksi BTS milik petani dijual kepada seorang pengusaha, yang bertindak sebagai pengumpul dan selanjutnya di angkut ke Tawau Malaysia untuk dipasarkan," kata H Herman, yang merupakan  pengusaha perkebunan kelapa sawit terbesar di Pulau Sebatik di Sebatik, Minggu (28/4/2013).

Ia memperkirakan sekitar 20-25 ton BTS produksi petani pulau itu yang diangkut ke Tawau Malaysia, setiap hari dengan menggunakan kapal kayu ukuran besar yang dapat memuat sekitar lima ton.

Herman menambahkan, pengangkutan BTS ke Malaysia melalui jalur sungai yang terletak di Lalosalo Kecamatan Sebatik Utara dan Sungai Ajikuning wilayah Malaysia, yang terletak di patok tiga tapal batas Indonesia-Malaysia. Situasi seperti ini telah berlangsung sejak bertahun-tahun lamanya, dan menjadi salah satu aktivitas rutin di wilayah perbatasan, ujarnya.

Ia mengaku masih bersyukur, karena pengusaha Tawau masih berkeinginan menampung produksi kelapa sawit petani di Pulau Sebatik setiap hari, sehingga untuk saat ini pemasaran BTS petani tidak mengalami masalah.

Hanya saja, dia mengatakan, perlu dipikirkan secepat mungkin untuk mengadakan pabrik kelapa sawit di pulau itu, untuk menampung produksi kelapa sawit petani jika seluruh lahan yang jumlah mencapai 8.000 hektar itu telah berproduksi.

"Saat ini sekitar 4-60 persen lahan perkebunan masyarakat Sebatik telah berproduksi. Jadi perlu dipikirkan sekarang untuk membangun pabrik lagi mengantisipasi jika seluruh lahan masyarakat telah berproduksi," kata Herman yang juga pengusaha properti di pulau itu.

Menurut dia, apabila selalu bergantung kepada pengusaha Malaysia untuk membeli BTS milik petani Pulau Sebatik suatu saat harga akan dipermainkan.

"Supaya petani Sebatik tidak dirugikan nantinya maka perlu ada investor yang mau membangun pabrik lain apabila pabrik milik mantan Bupati Nunukan (Hafid Achmad) tidak mampu menampungnya," katanya.



Sumber: Antara

 


Editor : Agus Mulyadi