Jumat, 31 Oktober 2014

News / Regional

Yuk, Menengok Magelang Tempo Doeloe

Minggu, 28 April 2013 | 11:03 WIB

MAGELANG, KOMPAS.com — Pameran Magelang Tempo Doeloe 2013 yang digelar di halaman Bakorwil II eks Karesidenan Kedu, Magelang, memang berbeda jauh dengan pameran-pameran produk lain pada umumnya. Pengunjung tidak akan menemukan barang-barang mewah, mahal, dan modern seperti di pameran properti atau komputer.

Sesuai namanya, di pameran ini pengunjung justru akan disuguhi segala macam suasana Magelang pada tempo dulu, berikut benda-benda yang berbau kuno dan antik. Setidaknya ada 35 stan yang saling unjuk kebolehan menyajikan keunikan suasana Kota Magelang jadul (zaman dulu). Stan-stan tersebut antara lain dari perusahaan-perusahaan yang ada di Kota Magelang dan sekitarnya.

Stan Hotel Sriti Kota Magelang misalnya, setiap penjaga stan memakai pakaian khas orang-orang Belanda zaman dulu, lengkap dengan tata ruang dan penyajian makanan asli Belanda, Leker. Ada juga stan mainan anak-anak yang barangkali akan membuat pengunjung tersenyum simpul karena pasti teringat dengan mainan-mainan masa kecil yang sekarang hampir punah. Mainan macam othok-othok, congklak, gasing, dan lainnya.

Ada pula bursa lawasan yang memajang aneka benda kuno, seperti sepeda, meja, kursi, uang logam, buku, lukisan sampai foto-foto kondisi Magelang pada masa kedudukan Belanda.

Jika lapar seusai keliling pameran, jangan harap kita akan menemukan stan burger atau fast food. Namun, justru akan bertemu makanan seperti kipo, lotek, jenang, cetil, nasi lesah sampai soto gerabah. Makanan tersebut sudah jarang atau bahkan sudah tidak ditemukan lagi di hari-hari biasa.

"Pameran ini memang rutin digelar tiap tahun sebagai rangkaian perayaan HUT ke-1107 Kota Magelang. Sejak hari pertama pengunjung memang ramai dan antusias sekali," kata Hary Nurjianto, Ketua Seksi Pameran Magelang Tempo Doeloe HUT ke-1107 Kota Magelang yang berlangsung pada 27-28 April 2013.

Bertempat di Halaman Museum BPK kompleks Bakorwil II Karesidenan Kedu Kota Magelang, pameran diikuti oleh sedikitnya 35 stan yang merupakan perusahaan dan instansi baik dari lokal Magelang ataupun luar kota seperti Solo, Klaten, dan Yogyakarta. Turut pula komunitas-komunitas pecinta benda kuno dan antik, antara lain Komunitas Kota Toea, VOC, Komunitas Keris, Komunitas Motor Antik, dan masih banyak lagi.

Dengan mungusung tema Magelang The Heritage City (Magelang Kota Pusaka), Bagus berharap kegiatan tersebut dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman sejarah bagi generasi muda. Karenanya, akan timbul rasa bangga, rasa memiliki bangsa ini bagi generasi muda.

"Konsep pameran tahun ini lebih kuat mulai kualitas sampai materi, sekarang dipamerkan juga mobil, sepeda, dan motor kuno. Tempatnya juga kami pilih di Bakorwil karena kita ingin sekaligus mengenalkan kepada masyarakat bahwa tempat ini juga memiliki sejarah," ujar Bagus Priyana, salah satu koordinator kegiatan.

Selain pameran, pihaknya juga menggelar acara Remboeg Budaja, Lajar Tantjap film tentang Kartini, Sarasehan tentang Keris, Djeladjah Kota Toea, yaitu mengelilingi Kota Magelang naik sepeda ontel dengan mengenakan pakaian khas Belanda dan Jawa.


Penulis: Kontributor Magelang, Ika Fitriana
Editor : Hertanto Soebijoto