Rabu, 3 September 2014

News / Regional

Penataan Kota

Surabaya Berpeluang Raih Adipura Kencana

Sabtu, 27 April 2013 | 17:50 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com- Kota Surabaya berpeluang besar untuk kembali meraih penghargaan Adipura Kencana di tahun 2013. Berdasarkan hasil pemantauan tahap pertama pemeringkatan Adipura yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Dewan Pertimbangan Adipura, Surabaya berhasil mengungguli 15 kota lainnya, baik kota metropolitan dan kota sedang atau kecil yang masuk sebagai nominator peraih Adipura Kencana.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Surabaya, Sabtu (27/4/2013), mengatakan, berdasarka hasil pemantauan tahap pertama (PI) tersebut, Surabaya bisa meraih Adipura Kencana. Apalagi Ujang Solihin Sidik, perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup menyampaikan kegiatan ekspose Adipura di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Jumat (26/4/2013), telah mengungkpan beberapa kriteria yang menjadi unggulan Surabaya.

Hadir dalam acara tersebut Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya Musdiq Ali Suhudi, camat dan lurah serta pakar tata kota Prof Johan Silas.

Dalam paparannya, Ujang menegaskan, Kota Surabaya dalam tahap pemantauan tahap pertama mendapatkan nilai 75,81. Nilai itu paling tinggi dibanding kota metropolitan lain.

Menurutnya, dalam menjaga kebersihan kota, Surabaya masih menjadi percontohan bagi daerah-daerah lain. "Surabaya masih menjadi panutan, bukan hanya kota besar, tapi juga kota sedang dan kecil. Jadi jangan sampai turun pangkat, harus dipertahankan pada tahap pemantau tahap kedua (P2), kalau bisa malah lebih baik," katanya.

Dijelaskan Ujang, untuk tahap P1 ada beberapa poin yang menjadi penilaian, antara lain nilai fisik pemukiman, nilai fisik jalan, nilai fisik pasar, nilai fisik sekolah, nilai fisik pertokoan, dan juga nilai fisik perkantoran. Kemudian nilai fisik RSUD dan Puskemas, nilai fisik perairan terbuka, nilai fisik transportasi, serta nilai fisik hutan kota dan taman kota. Bahkan upaya kota/kabupaten dalam pengendalian pencemaran air dan udara.

Untuk pengelolaan sampah, diharuskan mengelola sampah minimal 14 persen dari jumlah timbunan sampah. Sampah menjadi energi alternatif, adanya inovasi pengelolaan sampah, memiliki master plan pengelolaan sampah dan rencana penetapan tempat pembuangan sampah (TPS).

Sementara untuk syarat pengendalian pencemaran air, berupa konservasi air, perlindungan air (situ). Lalu ada syarat pengelolaan tanah yang mencakup penggunaan tanah dalam tata ruang atau tutupan lahan.

Ada juga syarat keanekaragaman hayati, perubahan iklim (mitigasi dan adaptasi), dan sosial ekonomi.

Pekan ini, Kementerian LH dan Dewan Pertimbangan Adipura akan melakukan verifikasi untuk kategori kota sedang dan kecil. Kemudian menyusul verifikasi untuk kategori kota Metropolitan. Nantinya, hasilnya akan diumumkan pada bulan Juni.

Jadi utnuk tahun 2013, proses penilaiannya memang ada beberapa perbedaan dibanding tahun 2012. Beberapa perbedaan tersebut, jelas Ujang, untuk 2013, jika pada pemantauan P1, ada kota atau kabupaten yang nilainya di bawah 7,1, maka daerah tersebut sudah dianggap gagal sehingga tidak lagi dipantau pada pemantauan tahap kedua melainkan dilakukan pembinaan.

Perbedaan lainnya, untuk persyaratan Adipura Kencana dimudahkan dengan hanya syarat pernah memperoleh Adipura. Jika sebelumnya satu daerah harus pernah beberapa kali meraih Adipura untuk bisa bersaing memperebutkan Adipura Kencana, ke depan akan ada kunjungan lapangan oleh dewan pertimbangan adipura, untuk memastikan apakah kota/kabupaten tersebut layak atau tidak untuk mendapatkan Adipura.

Hanya, meski mendapat nilai tertinggi, Ujang mengingatkan bahwa masih ada beberapa komponen yang nilainya masih rendah. Apalagi, daerah-daerah lain seperti Medan dan Tangerang, menunjukkan perkembangan pesat untuk berupaya mengejar Surabaya. Misalnya, ada pasar yang belum bersih, perkantoran di kecamatan yang nilainya belum menunjukkan bahwa Surabaya adalah kota Adipura Kencana.

Risma mengatakn, sebenarnya bukan penghargaan semata yang diinginkan oleh Pemkot Surabaya. Justru lebih kepada upaya untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya kebersihan. Sebab, jika lingkungan di Surabaya bersih, itu menandakan adanya peradaban yang tinggi.

"Jadi bukan hanya dapat penghargaan, tetapi ingin dinilai berbudaya bersih. Negara maju yang peradabannya sudah tinggi, bisa dilihat dari lingkungannya yang bersih," tegas dia.

Dalam kesempatan itu, Risma mengingatkan para camat dan lurah yang kawasannya dilalui sungai untuk menghimbau warganya agar lebih peduli pada kebersihan sungai. Dia menyebut masih ada beberapa warga yang membuang sampah ke sungai.

"Saya tidak mau lagi melihat ada sungai kotor. Jadi camat dan lurah, kalau perlu turun langsung ke rumah-rumah warga untuk mennyampaikan himbauan," jelasnya sembari menambahkan, agar gedung perkantoran seperti kantor desa atau kecamatan, termasuk puskemas, diubah menjadi lebih enak dilihat.


Penulis: Agnes Swetta Br. Pandia
Editor : Marcus Suprihadi