Kamis, 31 Juli 2014

News / Regional

Empat ABG Pembunuh Sadis Dites Kejiwaan

Kamis, 25 April 2013 | 17:42 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Empat dari tujuh tersangka kasus perkosaan, pembunuhan, disertai pembakaran siswi SMK YPPK Maguwoharjo Priya Puspita Restanti (16) masih berusia di bawah umur. Terkait hal itu, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sleman akan mendatangkan ahli psikologi forensik guna meneliti sisi kejiwaan keempat pelaku.

"Kita akan lihat kejiwaan para pelaku," terang Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sleman Iptu Eko Mei saat ditemui di kantor Unit PPA Polres Sleman, Kamis (25/4/2013).

Menurutnya, Psikologi Forensik nantinya akan difokuskan untuk meneliti motif pelaku memerkosa dan membunuh korban secara sadis. Selain itu, tes kejiwaan ini juga sebagai pendekatan psikis agar pengusutan secara hukum pidana bisa tuntas, tetapi tetap memperhatikan sisi kejiwaan pelaku.

Eko mengakui memang perbuatan para pelaku itu sangat sadis. Namun demikian, di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak tercantum hukuman mati atau pun seumur hidup untuk tersangka yang usianya masih di bawah umur. Paling lama hukuman 15 tahun penjara.

"Para pelaku di bawah umur tersebut merupakan hasil dari salah asuhan, terlepas dari pengaruh alkohol tentunya. Paling tidak, ada upaya agar para pelaku yang berusia di bawah umur tidak mengulangi perbuatannya setelah keluar nanti," tegasnya.

Guru Besar Fakultas Psikologi UGM Prof Koentjoro menyambut baik upaya PPA Polres Sleman menguji kejiwaan keempat pelaku perkosaan dan pembunuhan siswi SMK ini. Selain terus melakukan upaya pidananya, pendampingan psikis untuk pelaku di bawah umur memang sangat penting.

Ia menilai tindakan para pelaku merupakan hasil dari pola pendidikan keluarga yang lemah dan bisa dibilang gagal. Pasalnya mereka begitu tega melakukan perbuatan sadis tanpa melihat hati nurani.

"Terlebih lagi ada pelaku yang notabene anak dan bapak. Itu merupakan hal yang aneh. Seorang bapak yang seharusnya menjadi contoh yang baik malah berbuat sebaliknya," kata Koentjoro.


Penulis: Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma
Editor : Farid Assifa