Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Regional

Hari Kartini, Ibu-ibu di Ungaran "Mewiru Jarik"

Minggu, 21 April 2013 | 13:31 WIB

Terkait

UNGARAN, KOMPAS.com - Pernah mengamati bagaimana perempuan Jawa memakai kebaya? Jika pernah, pasti Anda tak asing dengan pemakaian kain jarik sebagai bawahan kebaya.

Di Ungaran, Kabupaten Semarang, tepatnya di perumahan Ungaran Baru, Ungaran Timur, peringatan hari Kartini diwarnai dengan perlombaan unik, yakni mewiru kain jarik. Mewiru atau meripel adalah suatu teknik melipat-lipat pinggiran kain jarik yang vertikal atau sisi saja sedemikian rupa sehingga dihasilkan tampilan yang apik.

Seiring perkembangan jaman, tradisi mewiru ini sekarang sudah banyak ditinggalkan. "Mewiru berarti wiwiren atau aja nganti kleru, kerjakan jangan sampai keliru agar membawa suasana yang menyenangkan dan harmonis. Jadi ini selain melestarikan budaya jawa, sekaligus ngiras-ngirus memperingati hari Kartini," ujar Ny Sugino (50), Ketua Panitia, Minggu (21/4/2013).

Salah seorang peserta, Ny Wahyudi (48) mengaku kesulitan mengikuti lomba ini. Pasalnya, tradisi mewiru ini sudah jarang sekali dilakukan. "Saya lupa terakhir mewiru, mungkin waktu saya masih SD ya? Jadi ini seperti membuka romantisme masa lalu," kata Ny Wahyudi.

Lebih lanjut, Ny Sugino menjelaskan bahwa kain yang digunakan adalah kain jarik yang dibawa peserta lomba dari masing-masing RT. Sedangkan teknik wiru yang diperlombakan adakah pakem Yogyakarta.

"Mewiru jarik ada dua macam pakem. Yaitu wiru Jogja dan wiru Solo. Tapi yang kita lombakan ini adalah wiru Jogja," ungkapnya.

"Wiru Jogja memperlihatkan garis putih pada ujung jarik dan ada pengkolan atau lipatan. Sementara wiru solo garis putihnya disembunyikan dengan cara ditekuk ke dalam," tambah Ny Sugino.


Penulis: Kontributor Ungaran, Syahrul Munir
Editor : Glori K. Wadrianto