Rabu, 23 Juli 2014

News /

Harga Karet Terus Turun

Jumat, 19 April 2013 | 03:50 WIB

PONTIANAK, KOMPAS - Harga getah karet di beberapa wilayah di Kalimantan Barat terus turun. Sejak mencapai harga tertinggi Rp 12.000 per kilogram, saat ini harga karet hanya Rp 8.500 per kilogram. Para petani mengaku tidak mengetahui penyebabnya.

Dalam sebulan terakhir, harga karet berangsur-angsur turun dari Rp 10.000 per kilogram setelah tiga bulan lalu sempat menembus harga Rp 12.000 per kilogram. Para petani menuturkan, produksi karet juga turun karena cuaca tidak menentu.

Sabri (56), petani di Nanga Semangut, Kecamatan Bunut Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, mengatakan, para petani tak tahu penyebab terus turunnya harga karet. ”Setiap kali menjual karet ke pengumpul, kami hanya mendapat informasi bahwa harga karet turun lagi,” kata Sabri.

Produksi karet petani rakyat juga berkurang karena para petani tidak bisa menyadap setiap hari. Jika hujan terjadi pada pagi hari, para petani tidak menyadap getah karet karena bisa merusak pohon. Dalam pekan ini, kata Sabri, para petani baru menyadap selama dua hari.

Petani karet lainnya di Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Laurensius Turut (55), menjelaskan, para petani mengeluhkan penurunan harga dan penurunan produksi. Para petani tak memiliki banyak pilihan selain menjual karet dengan harga murah untuk menutup kebutuhan hidup.

Di beberapa daerah Kalbar, biaya pokok produksi karet mencapai Rp 7.500 per kilogram dengan memperhitungkan biaya tenaga kerja, perawatan, dan transportasi. Walaupun saat ini penurunan harga belum menyentuh titik terendah, yakni menyamai harga pokok produksi, para petani tidak mendapatkan penghasilan yang mencukupi.

Pengiriman karet ke pengumpul besar di Kota Pontianak juga berkurang dalam beberapa bulan terakhir ini. Mokhlis Effendi (43), sopir truk pengangkut karet dari Putussibau, Kapuas Hulu, menuturkan, saat ini tidak setiap pekan ada permintaan pengiriman karet ke Kota Pontianak. Para pengumpul di daerah menunggu stok lebih banyak agar biaya pengiriman ke Pontianak lebih efisien.

Kelapa sawit

Di Bengkulu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joefly J Bahroeny mengatakan, produk minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) asal Indonesia tidak kompetitif jika bersaing dengan minyak sawit mentah dari negara seperti Malaysia. Pajak ekspor yang tinggi yang diterapkan pemerintah kita menurunkan daya saing CPO Indonesia dalam perdagangan internasional. Oleh karena itu, pengusaha kelapa sawit mendesak pemerintah untuk menurunkan pajak ekspor CPO.

Persoalan pajak ekspor itu, menurut Joefly, hanya satu dari lima masalah yang dihadapi industri kelapa sawit di Tanah Air.

Joefly mengatakan, pajak ekspor CPO berkisar 8,5 persen hingga 22 persen, sedangkan Malaysia sudah menerapkan pajak ekspor hanya 4 persen. Tingginya pajak ekspor ini menyebabkan CPO Indonesia tidak kompetitif. Hal ini ditambah dengan infrastruktur pelabuhan yang buruk kian menambah CPO tidak berdaya saing. (AHA/ADH)


Editor :