Minggu, 20 April 2014

News / Regional

Pembatasan Pembelian di Balikpapan Bukan Solusi

Kamis, 11 April 2013 | 20:16 WIB

Baca juga

BALIKPAPAN, KOMPAS.com - Pembatasan pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, yang diberlakukan mulai Senin (8/4) lalu, tetap bukan merupakan solusi. Menurut warga, yang terpenting lupa diperhatikan, yakni mengawasi kendaraan yang mengantre di SPBU.

Andre, yang tengah mengisi bensin di SPBU Jalan MT Haryono mengatakan, masalah pokok belum terselesaikan. "Lha yang bikin BBM subsidi ini cepat habis kan karena banyak mobil mewah ikut membeli. Mobil pikap dobel kabin ikut ant re solar subsidi. Kemudian truk-truk besar juga antre solar subsidi. Padahal sebagian truk itu kan truk milik industri. Nggak ada pengawasan terhadap mereka," ujarnya, Kamis.

Rizal, yang juga tengah mengisi bensin untuk motornya di SPBU itu menambahkan, pemerintah tidak pernah tegas terhadap pengetap. "Coba dipikir, kami antre bensin di SPBU, sedangkan di kios-kios bensin eceran, stok selalu ada. Lebih baik yang ini dirampungkan dulu," ujarnya jengkel.

Pantauan Kompas, di setiap antrean BBM subsidi di sejumlah SPBU di Balikpapan, seperti SPBU Gunung Guntur, SPBU MT Haryono, SPBU Damai, dan SPBU Gunung Malang, selalu nampak pikap dobel kabin ikut dalam antrean. Padahal di badan mobil tertempel stiker bertuliskan nama perusahaan mereka.

Aturan Pemkot Balikpapan itu membatasi pembelian BBM subsidi. Untuk motor maksimum Rp 25.000 per hari, kendaraan roda empat Rp 120.000 per hari, sedangkan kendaraan roda enam ke atas maksimal Rp 350.000 per hari. Namun selang sehari, aturan untuk roda enam ke atas diganti, menjadi maksimal 100 liter.

 


Penulis: Lukas Adi Prasetya
Editor : Robert Adhi Ksp