Rabu, 20 Agustus 2014

News / Regional

Mencari Pala agar Bisa Beli Buku Sekolah

Minggu, 7 April 2013 | 13:45 WIB

MANADO, KOMPAS.com - Egi Sumenggi (12), bocah dari Kampung Baliranggeng, Kecamatan Siau Timur Selatan, Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, memimpin tiga rekannya mendaki sebuah bukit menuju ke kebun pala yang terletak di belakang kampung mereka siang itu. Terik yang menyengat tak menjadi penghalang bari keempat bocah tersebut.

Dengan sebuah tas yang dijahit dari bekas kantong terigu yang oleh orang Siau disebut patoka mereka menyusuri satu per satu pohon pala yang ada di kebun tersebut. Mereka sedang melakukan aktivitas yang disebut dengan mongopur. "Baru pulang sekolah, habis makan langsung ke sini untuk mengopur. Mau cari biji pala yang jatuh," ujar Egi dalam dialek Siau yang kental, Senin (2/4) lalu.

Mongopur sering dilakukan anak-anak usia SD dan SMP sepulang sekolah. Kearifan lokal ini terus terpelihara dengan batasan-batas etis yang ketat. Jika melanggar, ada sanksi sosial yang akan dikenakan. "Mongopur tidak perlu izin. Pemilik kebun pala tidak melarang anak-anak itu mengumpulkan biji pala yang jatuh dari pohonnya. Mereka bisa mongopur di kebun pala milik siapa saja," ujar Dirno Kaghoo, seorang pemerhati masalah sosial.

Namun menurut Dirno, kelompok anak-anak ini punya wilayah masing-masing untuk mengopur. Mereka tidak akan melanggar wilayah yang sudah menjadi daerah mereka. "Demikian pula, ada semacam sanksi sosial jika aktivitas mengopur dilakukan orang dewasa," tambah Dirno.

"Biasanya kami menjual biji pala yang kami dapat di warung di kampung. Seratus biji pala dibeli dengan harga Rp. 30 ribu," ujar Aria Moloke (11) yang duduk di kelas 5 SD yang juga ikut mongopur siang itu. Menurut pengakuan mereka, hasil pencarian mereka serahkan ke orang tua masing-masing.  "Mama akan belikan buku sekolah dari uang itu. Kami juga dapat uang jajan dari hasil jual biji pala ini," tambah Aria dengan bangga.

Kearifan lokal mongopur hingga kini terus terjaga di daerah Siau. Sebuah pulau yang terkenal sebagai salah satu penghasil pala terbaik di dunia. Mongopur diyakini merupakan sebuah tradisi mendidik anak-anak untuk belajar menghargai hidup dari hasil bumi yang sudah menjadi simbol sosial orang Siau. "Dalam mongopur anak-anak itu juga melakukan perencanaan layaknya orang dewasa. Mereka harus memastikan dulu peralatan mengopur sudah lengkap baru mereka jalan. Dengan demikian mereka belajar mendisiplinkan diri," kata Dirno.

Sisi positif lain dari mongopur adalah sebuah aturan yang dipegang ketat. Anak-anak itu tidak akan memetik buah pala dari pohonnya, apalagi memanjat. Mereka hanya memunggut yang sudah jatuh. "Bahkan tabu bagi mereka untuk mendekati kebun pala yang sedang dipanen. Jadi mongopor hanya dilakukan disaat kebun tidak sedang dipanen oleh pemiliknya" kata Dirno.


Penulis: Kontributor Manado, Ronny Adolof Buol
Editor : Egidius Patnistik