Jumat, 28 November 2014

News / Regional

Indikator Ekonomi

Laju Inflasi Tekan Kesejahteraan Petani di Lampung

Jumat, 5 April 2013 | 18:14 WIB

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com -- Tingginya inflasi akibat melonjaknya harga sejumlah bahan kebutuhan pokok beberapa bulan terakhir menekan indeks nilai tukar petani (NTP) di Lampung. Indeks NTP merupakan salah satu indikator dari kesejahteraan petani.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, Kota Bandar Lampung mengalami inflasi sebesar 0,97 persen pada Maret 2013. Di pedesaan, angka inflasi lebih tinggi, yaitu mencapai 1,04 persen. Jenis komoditas yang menyumbang inflasi antara lain adalah bawang merah, bawang putih, cabai rawit, dan ketela pohon.

Laju inflasi awal tahun ini adalah yang terbesar dalam empat tahun terakhir. Sepanjang Januari - Maret 2013 tercatat, angka inflasi di Lampung 2,73 persen. Sementara, pada periode yang sama tahun 2012, inflasi hanya 0,31 persen.

"Tingginya inflasi mengakibatkan tekanan pada indeks NTP di Lampung," kata Dody Gunawan Yusuf dari Bidang Statistik Ditribusi BPS Provinsi Lampung, Jumat (5/4/2013). 

Dody mengemukakan, indeks NTP di Lampung pada Maret 2013 turun sebesar 0,58 persen. Selama enam bulan terakhir, indeks NTP di Lampung terus menurun akibat tingginya inflasi di pedesaan. Namun, indeks NTP di Lampung saat ini, yaitu 123,64 adalah yang tertinggi di Tanah Air.

Menurunnya indeks NTP diikuti pula dengan turunnya harga sejumlah komoditas andalan di Lampung. Lukito (55), salah seorang petani lada di Lampung Timur, mengatakan, harga jual lada hitam saat ini turun menjadi Rp 56.000 per kg. Padahal, pada Januari, harganya sempat mencapai Rp 65.000 per kg.

Harga jual rata-rata gabah kering panen (GKP) petani per Maret 2013 pun ikut turun sebesar 7,26 persen, yaitu dari Rp 4.369 menjadi Rp 4.052 per kg. Penurunn ini disebabkan oleh datangnya musim penghujan, sehingga stok gabah meningkat dari bulan-bulan sebelumnya.


Penulis: Yulvianus Harjono
Editor : Nasru Alam Aziz