Minggu, 26 Oktober 2014

News / Regional

Beginilah "Rambu Solo", Tradisi Pemakaman ala Toraja

Kamis, 4 April 2013 | 10:16 WIB

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com - Tradisi Rambu Solo atau upacara pemakaman ala masyarakat Tanah Toraja, juga dilestarikan masyarakat keturunan Toraja-Mamasa di Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Meski sejumlah rangkian prosesi Rambu Solo ditiadakan karena menghargai komunitas pemeluk agama lain di sekitarnya, namun secara keseluruhan prosesi yang menyedot perhatian wisatawan dan ribuan warga keturunan Toraja ini tetap khidmat.

Sebelum upacara pemakaman berlangsung, prosesi yang digelar di Kelurahan Lantora, Polewali Mandar, Rabu (4/4/2013) kemarin, diawali dengan "mappasitandu tedong" atau adu kerbau. Kerbau yang telah diadu di lapangan atau di tengah sawah, lalu disembelih dengan cara ditombak hingga mati.

Makin banyak kerbau yang ikut diadu dan ditombak, menunjukkan kekayaan dan ketinggian status sosial atau kebangsawanan pemilik hajatan.

Tradisi ini yang biasanya mengorbankan sampai ratusan ekor kerbau dan babi, umumnya digelar hanya di kalangan bangsawan Toraja. Kerbau yang telah ditombak ini selanjutnya dibagi-bagikan dagingnya kepada warga.

Sebelum jenazah diarak ke tempat pemakaman, sejumlah rangkaian prosesi adat seperti nyanyian sebagai simbol doa keluarga kepada almarhum agar menghadapi alam akhirat dengan penuh keceriaan, dilantunkan.

Saat jenazah yang telah dikremasi siap-siap diarak ke tempat pemakaman, seekor kerbau kembali disembelih dengan cara ditombak sesuai tradisi moyang Toraja yang dahulu berburu hewan liar di hutan dengan cara menombak.

Darah kerbau yang telah ditombak selanjutnya diinjak oleh keluarga secara bergantian. Ritual ini sebagai bentuk doa penghormatan terakhir agar jenazah diterima di alam baka. Juga agar keluarga yang ditinggalkan tidak berada dalam kesusahan atau penderitaan.

Sebelum meningalkan rumah duka, jenazah diarak bolak-balik sebanyak tiga kali. Kemudian ditandu ke tempat pemakaman. Ratusan keluarga pun memberi penghormatan terakhir. Jenazah kemudian ditandu di sepanjang jalan sambil diangkat berkali-kali, dan para pelayat bersorak ria di sepanjang jalan, hingga ke tempat pemakaman.

Menurut adat dan tradisi keturunan warga Toraja, tak boleh ada tangis dan rasa sedih saat jenazah meninggalkan rumah, hingga ke tempat pemakaman. Tujuannya agar arwah diterima dengan penuh kegembiraan di alam baka.

Sebelum dimasukkan ke kuburan, jenazah didoakan terakhir kalinya oleh seorang pendeta. Jika warga Tana Toraja mengebumikan keluarganya di sela gunung batu, namun karena tak ada gunung batu di Polewali Mandar, jenazah dikebumikan  di sebuah bangunan.


Penulis: Kontributor Polewali, Junaedi
Editor : Glori K. Wadrianto